by

Jus Soema: Negara Di Ambang Kehancuran, Pers Bukan Beri Warning Malah Kompromi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Jus Soema Di Pradja, jurnalis senior berpendapat bahwa perubahan politik terus terjadi  hingga pemerintahan mengarah pada ambang kehancuran. Demikian ungkap Jus Soema saat diskusi “Ngopi Ngerumpi” yang dimoderatori aktivis ’98 Ricky Tamba bertema,’Pers dalam Genggaman Industri Politik,” di kawasan Gambir Jakarta Pusat, Selasa (20/3).
Saat diskusi berlangsung, selain Jus Soema Di Pradja, hadir Teguh Santosa (Founder RMOL), Paskah Irianto (Senator Prodem), serta Ricky Tamba (Jubir Jaringan’98) dengan dihadiri puluhan perwakilan aktivis, jurnalis, serta mahasiswa dan masyarakat umum.
“Kerusakan negeri Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh pers yang mengamini rezim tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kenapa keadaan ini ‘hopeless’ ?”, ungkapnya.
Menurut pria paruh baya tersebut harusnya pers berikan ‘warning’ ke pemerintah, bukan malah terkesan kompromis dengan pemerintah.”Bukan malah memberikan semboyan peraturan yang diberikan oleh Pemerintah. Bukan gagap,” ujar jurnalis senior surat kabar Indonesia Raya dan Kompas pada masa tahun 60-70 an itu.
Ditambah lagi, munculnya perpu ormas, UU ITE, lalu kemudian MD3, sambung menilai akan mengancam UU pers.”Perpu itu membatasi kebebasan pers, kemudian ITE juga,” paparnya.
“Orang percaya pada medsos daripada maiinstream. Bagaimana masyarakat percaya pada medsos? Karena pers nya ga berfungsi,” celotehnya.
Terkait kasus ‘Rekening Gendut’ yang sempat mencuat kabarnya di salah satu media nasional, Tempo, kemukanya,”Apa ada yang sempat bisa membeli ?,” tukasnya.
“Dibeli sampai habis…..jadi pers mencoba menjelaskan namun dibeli. Kian hari pemberitaan hanya menyodorkan kasus kasus korupsi saja, tidak ada kasus lain,” lontarnya.
Jus, sapaan akrab Jus Soema Di Pradja, menambahkan, terkait persoalan hutang negara Indonesia yang sudah melebihi kapasitas, pers semestinya harus cek dan ricek kalau perlu ‘triple cek’”Ga ada tuh pers mainstream memberitakannya,” paparnya.
Malahan sempat ia baca dari medsos, Sri Mulyani mengeluarkan statemen,’Kita memperoleh hutang untuk membayar hutang’, dirinya mempertanyakan maksudnya apa dengan pernyataan yang selintas pernah dibacanya.
“Kemudian akhirnya Medsos, jauh lebih percaya. Bahkan kemarin saja, di mana pas kasus robohnya beton. Ternyata mestinya besi bajanya 20, namun hanya ukuran 7,” ucapnya, seraya mengutarakan rasa takutnya lewat antasari (takut ketiban beton).
Padahal, semestinya itu merupakan tugas pers untuk investigasi. Bagi kita menarik, namun kaga ada di media mainstream. Mestinya, mainstream melanjutkan investigasi, namun tak terjadi,” ungkapnya kecewa.
Menurut Jus, fungsi pers mainstream kupas kembali lebih mendalam yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Maka itulah dari medsos sebenernya, seseorang mampu menganalisa yang terjadi sebenarnya, timpalnya.
“Ungkapan kritik patut disadari, luapan saluran ketidakpuasan terhadap mainstream,” tandasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =

Rekomendasi Berita