by

Kanti Rahmillah, M.Si: Middle Path dan Islamophobia

Kanti Rahmillah, M.Si, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seperti biasa, setiap tanggal 11 September, Presiden Amerika
dan warganya memperingati tragedi pengeboman gedung kembar WTC. Tepat 17 tahun
yang lalu, gedung WTC hancur dalam hitungan jam. Menewaskan 3000 orang.
Walau sampai hari ini, belum terbukti bahwa al qaeda lah
pelakunya. Namun, opini terorisme yang disematkan pada kaum muslim. Telah
menjadi oksigen baru bagi dunia. Dari situlah bibit-bibit Islamophobia mulai
menjamur, menjangkiti perasaan nonmuslim di Barat.
Bagaimana dengan negeri muslim? sama saja. Mulailah dibentuk
BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang sasarannya adalah kaum
muslim. Dunia muslim mulai latah. Terjadilah serangkaian Bom bunuh diri atau
teror yang pelakunya bercirikan Muslim. Di Indonesia, diawali pada tahun 2012,
bom bunuh diri di Bali yang menewaskan 202 orang.
Seolah serentak, negeri muslim ikut-ikutan pengidap penyakit
Islamophobia ini. Mereka takut akan ajarannya sendiri, hingga akhirnya, enggan
memahami agamanya, karena khawatir menjadi “sesat”. Fenomena Islamophobia
menjadi liar, bersamaan dengan kampamye global dan opini yang terus menerus
digaungkan barat pada negeri Muslim.
Middle Path
Bersamaan dengan Islamophobia yang terus dikampanyekan. Muslim
ketakutan terhadap ajarannya sendiri. Barat dengan sekenario liciknya,
memberikan gambaran Islam, ala mereka. Yang bisa diterima semua kalangan. Yang
alih alih meredam Islamophobia, padahal sedang menggiring pada pemahaman yang
salah tentang agama Islam.
Indonesia, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sedang
dijadikan role model dalam pembentukan Islam ala barat. Terbukti pada tanggal
14-16 Agustus 2018, telah digelar WPF (World Peace Forum) ke 7 di Jakarta.
Forum Perdamaian Dunia ini, melahirkan 6 komitmen yang tercantum dalam draf
Pesan Jakarta. Salah satunya untuk bekerja sama mengarusutamakan Middle Path
(Jalan Tengah) sebagai kerangka penuntun bagi peradaban dunia yang lebih baik.
“Kami berkomitmen untuk bekerja sama untuk mengarusutamakan
Middle Path (Jalan Tengah) sebagi konsep yang membimbing peradaban dunia yang
harus diimplementasikan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial
budaya,” kata Utusan Khusus Presiden RI, untuk Dialog dan Kerja sama antar
Agama, Din Syamsudin, saat membacakan draf Pesan Jakarta dalam konferensi pers
WPF ke-7 di Jakarta. (16, Agustus 2018 antaranews.com)
Sebanyak 250 tokoh dari 43 negara yang hadir, telah menyepakati
komitmen. Menjadikan para pemuka agama sebagi tauladan, mempromosikan, dan
memimpin pelaksanaan Jalan Tengah di komunitas masing-masing.
Dalam forum tersebut. Jalan Tengah diyakini sebagai pendekatan
atau konsep yang mengandung nilai-nilai positif seperti toleransi,
inklusivitas, keseimbangan dan keadilan yang menjadi solusi bagi krisis
peradaban dunia. Dengan konsep Jalan Tengah, semua bangsa berusaha menciptakan
peradaban dunia yang lebih adil, damai, dan harmonis.
Agama harus menganut jalan tengah. Tidak radikal. Tidak juga
fundamental. Begitupun Islam. Islam, harus toleran, mengadopsi paham jalan
tengah. Kompromi dalam segala aspek. Termasuk Halal dan Haram, bisa sesuai
kondisi dan situasi. Dalil syara, bukan lagi pedoman dalam mengambil keputusan.
Ide jalan tengah ini, membenarkan paham pluralisme. Paham yang
mengakui bahwa semua agama benar. Paham bahwa kehidupan toleransi beragama
diatas syariat agama. Jika niqob dirasa menimbulkan konflik, maka keberadaannya
harus dimusnahkan.
Islam Kaffah
Sesungguhnya, paham jalan tengah lahir dari ideologi
sekulerisme. Pemahaman yang memisahkan agama dengan kehidupan. Paham ini
bertentangan dengan Islam, yang menjadikan agama sebagai pedoman dalam
menjalankan kehidupan.
Pemahaman Jalan tengah menjadikan barat sebagai kiblat
kehidupannya. Kompromi dalam setiap aktifitasnya, halal dan haram bukan lagi
menjadi standar perbuatannya.
Middle path dan Islamophibia ini, telah menjauhkan umat dari
pemahaman Islam yang benar. Pemahaman Islam Kaffah. Bahwa Islam bukan hanya sekedar ritual. Politik adalah bagian
dari pada Islam. Eksploitasi SDA dan penyetiran kebijakan dalam negeri adalah
bentuk penjajahan yang harus dilawan dan dihilangkan.
Bayangkan jika negeri ini, yang mayoritas muslim, memahami
Islam secara kaffah. Tak akan ada lagi perusahaan multinasional yang menguasai
SDA kita. Kita akan berdaulat dalam setiap kebijakannya. Kita tak akan lagi
butuh lembaga keuangan yang memberikan utang plus bunganya. Karena pengelolaan
SDA ditangan kita, sehingga keuntungan yang didapat seluruhnya digunakan untuk
kemaslahatan umat, termasuk APBN.
Oleh karena itu, sungguh barat mempunyai kepentingan yang besar
dalam menyuarakan Islamophobia dan sekulerisme. Karena dengannya, umat muslim
terjauhkan dari memahami Islam kaffah. Muslim tak mahami hakekat penjajahan
yang dilakukan mereka. Tak ada ghiroh untuk mengusir mereka.

Maka dari itu, mari kita kampanyekan, bahwa Islamophobia dan
middle path adalah sekenario barat untuk menghancurkan negeri ini. Memusnahkan
agama ini. Meruntuhkan peradaban Islam. Mudah-mudahan, negeri ini kembali
berseri, bersamaan dengan kembalinya umat pada pemahaman Islam yang hakiki.[]
Penulis adalah lulsan S1 Unpad dan S2 IPB kini mengajar di Sekolah Tahfidz Purwakarta dan aktif sebagai anggota komunitas menulis revowriter

Comment

Rekomendasi Berita