by

Kanti Rahmillah, M.Si: Uji Baca Al Quran dan Politik Identitas

 Kanti Rahmillah, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dewan Ikatan Dai Aceh, mengundang dua pasangan capres-cawapres mengikuti uji kemampuan membaca Alquran. Salah satu alasannya adalah, karena kedua paslon beragama Islam. Dan penting bagi umat Islam, untuk mengetahui kualitas calon presidennya. (Tribunnews.com, Minggu, 30/12)
“Kami akan mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Alquran. Tes membaca Al Quran, Surat Al-Fatihah dan surat pendek lainnya akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman. Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019,” kata Ketua Dewan Ikatan Dai Aceh Tgk Marsyuddin. (Merdeka.com, Minggu, 30/12)
Lantas, apakah kualitas tilawah masing-masing calon, menjadi indikasi kepiawaian seseorang dalam mengurus sebuah negara? Ataukah, politik identitas telah menyeret Al quran, menjadi sebuah alat penebar pesona?
Politik Identitias
Tak bisa dipungkiri, di tahun politik. Isu agama semakin mendapat tempat. Seberapapun hebatnya propaganda “NKRI harga mati” yang digaung-gaungkan rezim saat ini. Tak menjadikan mayoritas warga mengesampingkan perihal agama. Karena bagaimana pun juga, negeri ini besar oleh para ulama. Keberadaannya telah melekat di hati umat muslim Indonesia.
Pemerintahan Jokowi yang terlanjur dicap rezim anti Islam. Harus juga menata kembali hati umat Islam, pemilik suara mayoritas. Buktinya, terpilihnya ketua MUI, Ma’ruf Amin sebagai pendamping. Tak bisa dilepaskan dari simbol keislamannya. 
Begitupun Prabowo. Kubu yang saat ini didaulat menjadi “teman umat Islam”. Tak menjadikannya luput dari opini yang meragukan keIslamannya. Viral video Prabowo ikut merayakan Natal bersama keluarga dan umat nasrani.
Oleh karena itu, tes baca Quran pun, menurut Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. Merupakan efek menguatnya politik Identitas. Agama Islam, telah dijadikan simbol kekuasaan. Siapa yang memenangkan hati umat Islam, akan sukses mencapai posisi tertinggi negeri ini.
Jargon kampanye, bukan berisikan adu program kerja. Tapi lebih menonjolkan politik identitas. Terlihat dari pernyataan tokoh politik, “Partai setan vs partai Allah”. Atau pelabelan pemilu kali ini yang diibaratkan “Perang Badar”. Hingga menjadikan posisi lawan seperti kaum kafir, yang harus dimusnahkan. 
Bukan mustahil akhirnya, Tes baca al quran pun. Menjadi ajang pencitraan. Bahwa Islam dibawa oleh kedua calon. Dari sini, sungguh terlihat. Alquran sebagai petunjuk menjalankan syariat. Tak benar-benar dilakukan.
Al Quran Dibaca dan Diamalkan
Sesungguhnya, Al Qur’anul karim adalah petunjuk bagi orang bertakwa. Pedoman hidup umat manusia. Bersama Assunnah, tertuang di dalamnya, seluruh aturan hidup. Termasuk didalamnya, aturan bernegara.
Al quran begitu gamblangnya menyebutkan. Bahwa seorang pemimpin negara. Wajib hukumnya, menerapkan aturan yang dibuat penciptanya. Dan mafhum kebalikannya. Haram hukumnya, dalam menerapkan kebijakan yang bertentangan dengan Islam.
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. Al Maidah : 49).
Oleh karena itu, pemimpin negara. Bukan hanya dituntut bisa membaca al quran saja. Lebih dari itu. Pemimpin pun, haruslah bisa menerapkan isinya. Karena sesungguhnya,  keberadaan al quran sebagai al huda (petunjuk). Bukanlah jargon semata. Namun keberadaanya, insya allah bermaslahat jika diterapkan utuh di setiap sendi kehidupan kita.[]
Penulis adalah praktisi pendidikan Purwakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − ten =

Rekomendasi Berita