by

Kapitalisme Di Balik Kotak Pandora Papers

-Berita-30 views

 

Oleh : Hayunila Nuris S. Kom, Mahasiswi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Sebelumnya pada tahun 2016 viral masalah Panama Papers yang menyebutkan sederet nama pengusaha yang memiliki perusahaan cangkang di surga pajak tersebut. Terlihat bahwa dalam sistem penganut kapitalisme ini yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin.

Adanya oknum yang haus akan kekuasaan memanfaatkan kondisi dan situasi dalam negeri dengan cara menguasai asset public/SDA. Selain itu, para pelaku bisnis ini juga melakukan pelanggaran hukum (sekuler) dengan cara menghindari pajak serta adanya kelompok elit (penguasa-politikus) yang dengan sadar menggunakan kekuasaan untuk menumpuk kekayaan.

Hal ini terlihat jelas ketika konsorsium jurnalis investigasi internasional yang dikenal dengan Pandora Papers. Mendapatkan, setidaknya terdapat skandal penghindaran pajak yang dilakukan oleh 35 pemimpin negara dan ratusan pejabat hingga artis dunia. Banyak dari mereka menggunakan perusahaan cangkang untuk menyembunyikan hartanya.

Tercatat lebih dari 330 politisi dan 130 miliarder dunia yang masuk daftar Forbes telah melakukan tindak penggelapan pajak. Tak terkecuali Indonesia. Ada beberapa nama pejabat dalam dokumen tersebut. Walau mereka telah menyanggah, tetapi hingga kini media masih mem-blow up hal itu.

Lalu sebenarnya apa itu perusahaan cangkang?

Dilansir dari Investopedia, Sabtu, 9 Oktober 2021, perusahaan cangkang adalah perusahaan tanpa operasi bisnis aktif atau aset yang signifikan. Jenis korporasi ini tidak semuanya ilegal, tetapi terkadang digunakan secara tidak sah, seperti untuk menyamarkan kepemilikan bisnis dari penegak hukum atau publik. Semua ini penyakit bawaan system kapitalisme dan akan terus terbuka kotak pandora kejahatan lain dengan mempertahankan sistem ini.

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati menyatakan bahwa data Pandora Papers yang dirilis International Consortium of Investigative Journalis mengungkap skema penghindaran pajak yang dilakukan orang kaya global dan diduga merugikan negara-negara asal.

“Ini seolah membuka kotak pandora perilaku konglomerat dan pejabat yang melakukan penghindaran pajak, ada dampak dari penggelapan pajak ke negara-negara surga pajak tersebut hingga berkontribusi terhadap rendahnya rasio perpajakan,” kata Anis sebahaimana dikutip akurat.co, Sabtu (9/10/2021).

Saat ini, dunia butuh penyelesaian problem utama manusia. Sudah jelas kapitalisme menzolimi rakyat. Penyelesaian seperti ini hanya bisa didapatkan dalam Islam. Sistem ekonomi Islam, tidak menjadikan pajak sebagai sumber utama APBN. Islam dengan tegas akan menindak lanjuti kasus penumpukan harta sehingga tidak akan lahir skandal penggelapan pajak.

Begitu juga SDA tidak akan diperjual-belikan untuk individu karena SDA merupakan kepemilikan umum, haram untuk teralihkan ke swasta apalagi asing. Negara sebagai pengelola bisa menjadikannya sumber pemasukan APBN dan menggunakannya untuk kemaslahatan rakyat.

Lalu, sistem keuangan berdasarkan Baitulmal, seluruh kas negara akan dimasukkan kedalamnya. Dengan begitu, negara menjadi lebih kuat dan stabil. Sehingga tidak perlu hutang ke luar negeri dan negara menjadi jaminan independen tanpa intervensi pihak swasta.

Selain itu, Islam dengan tegas menghilangkan penyalahgunaan wewenang pemimpin negara dalam keterlibatan dengan pihak swasta baik asing ataupun aseng. Pembinaan dilakukan sesuai syariat Islam berdasarkan pendidikan Islam. Sehingga menghasilkan mental yang kuat serta profesional dalam bekerja menjaga amanah dengan sebaik-baiknya.

Dengan begitu, skandal seperti Kotak Pandora tidak akan terbuka lagi dan skandal pajak tidak terulang kembali. Hal itu bisa diwujudkan dalam sistem Islam yang terbukti kuat memimpin dunia selama 13 abad, tak pernah ada kasus skandal pajak seperti Pandora Papers ini. Selama itu pula, masyarakat di bawah kepemimpinan Islam hidup dalam kesejahtera

Comment

Rekomendasi Berita