by

Layin Syamil, S.Pd:Sosok Teladan Kaum Wanita

Layin Syamil, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari Sabtu 21 April 2018 kemarin saya sedang duduk di teras sebuah masjid menunggu seorang teman. Ada seorang ibu juga sedang menunggu seseorang. Kalau diperhatikan dari raut mukanya, ibu tersebut berusia di atas lima puluh tahun. Kita akhirnya terlibat sebuah pembicaraan. Beliau bercerita, bahwa tadi pagi cucunya harus berdandan layaknya emak-emak. Saya tanya,” Cucu ibu dirias dimana?” Ibu tersebut menjawab, “ke perias pengantin”. “ Berapa biayanya Bu?” sambung saya. “ Rp 40.000,00 Bu ..” jawab beliau. “ Uang segitu itu Bu bisa dipakai belanja 2-3 hari”, imbuhnya.
Memang benar untuk urusan dandan, make up, sewa baju dan sebagainya kadang harus memangkas uang belanja emak. 
Saya pernah bertanya pada seorang teman,”Mengapa hari Kartini harus pakai kebaya?” Katanya dengan mepakai kebaya akan bisa meningkatkan nasionalisme, mencontoh semangatnya Kartini. Apa hubungan kebaya dengan nasionalisme? Apa yang berkebaya pasti semangat nasionalisnya bagus? Menurutnya, bangsa kita masih suka dengan simbol dan kalau pemikiran belum nyambung. Benarkah demikian?
Kepres RI No 108 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964,menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. Hari lahirnya diperingati setiap tahun sebagai hari Kartini. Dengan memperhatikan surat-surat Kartini yang ditujukan kepada temannya dari Belanda, Kartini digambarkan sebagai seorang wanita yang rajin belajar, menginginkan agar kaum wanita mempunyai kesempatan menuntut ilmu yang sama dengan laki-laki.
Namun dalam perjalanannya peringatan hari Kartini ini banyak dimanfaatkan oleh para pejuang kesetaraan gender. Di setiap peringatan hari Kartini isu yang diangkat emansipasi wanita, kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, dan sebagainya. Hasil dari kampanye tersebut berbondong-bondonglah kaum hawa masuk ke lembaga pendidikan hingga bergelar profesor. Banyak kaum wanita memasuki dunia kerja dengan berbagai macam profesi. Dari dokter hingga kiper. Dari guru hingga babu. Dari koki hingga kuli dan lain-lain.
Kartini memang sosok luar biasa di jamannya. Di saat orang lain belum semangat menuntut ilmu, dia sudah jauh melangkah. Kita acung jempol untuknya. 
Sudah terlalu lama kita belajar hanya dari kehidupan Kartini. Sudah terlalu lama kita hanya meniru Kartini dari kebaya dan kondenya. Jika riwayat tentang Kartini benar,maka sebenarnya bukan sekedar kebaya dan konde yang mesti harus ditiru. Ini adalah sebuah pembodohan. Semangat belajar Kartini yang harusnya ditiru.
Kita mempunyai sosok panutan yang luar biasa. Mereka hadir ke dunia jauh sebelum Kartini lahir. Mereka adalah para shahabiyat Radliyallahu ‘Anhunna. Mereka itu antara lain adalah Khadijah binti Khuwailid, Asma’ binti Abu Bakar ash Shiddiq, Asma’ binti Yazid al Anshariyah, Ummu Sulaym binti Milhan, dan masih banyak lagi.
Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah, beliau adalah sosok yang luar biasa. Beliau adalah wanita yang pertama kali beriman. Beliau beriman kepada kenabian Muhammad di saat kebanyakan orang mengingkarinya. Khadijah dikenal sebagai perempuan cerdas dan piawai dalam bidang perdagangan. Beliau sukses menjalankan roda usahanya serta sanggup membiayai hampir seluruh keperluan dakwah Rasulullah SAW. Sekalipun begitu beliau tetap rendah hati, berakhlak mulia dan menjaga kesuciannya. Beliau tetap menjadi ibu bagi putra-putrinya. Beliau menghormati dan menaati suaminya meski usianya lebih tua. Beliau mendampingi suaminya selama seperempat abad,dalam suka dan duka.
Asma’ binti Abu Bakar adalah wanita dari keluarga terpandang. Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, seorang pemuda miskin. Zubair adalah seorang tokoh yang mengutamakan ridlo Allah dan ridlo ibu-bapaknya. Asma’ tidak mempunyai pelayan yang siap membantu pakarjaannya. Asma’ dan Zubair tidak mempunyai cukup harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya. Hanya seekor kuda yang dirawatnya dengan baik. Walaupun begitu, Asma’ tidak kecewa. Asma’ sosok yang sangat pemurah. Jika mempunyai sesuatu, ia bagikan kepada orang yang membutuhkan. Asma’ adalah seorang yang memiliki kecemerlangan berpikir. Ia bertindak penuh perhitungan dan bijaksana. Ketika ayahnya, Abu Bakar menginfakkan hartanya untuk pergi hijrah,kakeknya sangat kawatir. Asma’ bertindak bijaksana untuk menenangkan sang kakek. Demikian juga saat harus membantu ayahnya bersama Rasulullah hijrah, Asma’ bertindak cerdas. Asma’ juga dikenal ibu dari Abdullah bin Zubair,sang pejuang.
Asma’ binti Yazid al Anshariyah adalah salah seorang wanita yang berbai’at pada permulaan Islam di Madinah. Beliau merupakan orator, singa podium dari kalangan mukminah. Beliau banyak meriwayatkan hadits. Pernah suatu ketika beliau menyampaikan aspirasi kaumnya kepada Rasulullah tentang merasa iri bahwa kaum laiki-laki banyak mendapatkan kesempatan meraih pahala. Ternyata menurut Rasulullah pengabdian para istri kepada suami menyamai pahala yang diperoleh para suami dari amal-amal mereka. Asma’ juga salah seorang wanita yang terjun ke medan perang. Beliau mengirim makanan dan minuman untuk prajurit, serta mengobati prajurit yang terluka. Selain itu beliau juga ikut mengangkat senjata.
Ummu Sulaym binti Milhan adalah seorang perempuan dari kalangan Anshar. Beliau seorang yang banyak ilmu, memiliki keberanian,murah hati,ikhlas semata karena Allah. Beliau adalah ibu dari sahabat Anas bin Malik. Ummu Sulaym masuk Islam disaat suaminya masih musyrik. Suaminya sempat meminta Ummu Sulaym kembali kepada agama nenek moyangnya,tetapi beliau tetap mempertahankan keimanannya. Bahkan mengajak putranya Anas masuk Islam. Setelah suaminya meninggal karena terbunuh musuh, Ummu Sulaym dilamar oleh Abu Thalhah yang masih kafir. Beliau menjawab bahwa Abu Thalhah yang kafir tidak layak menikah dengan seorang muslimah. Abu Thalhah akhirnya masuk Islam. Keduanya menikah. Keluarganya sakinah mawadah warahmah. Ummu Sulaym sangat menghormati dan taat pada suaminya.
Inilah sebagaian kecil dari wanita-wanita teladan umat. Mereka sukses menjadi istri ,ibu sekaligus pejuang. Mereka melakukan amal yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi umat. Tetapi tetap dalam batas aturan Sang Pencipta. Wallahu a’lam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =

Rekomendasi Berita