by

Publik Tanda Tanya Netralitas Hakim Atas Putusan Perkara Kasus Palangka Raya

Foto/Goesti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – DR. Avrits SH.MH,  Eko Susanto SH, Rustyono SH,MHum tiga hakim yg mengadili para terdakwa kasus pembakaran Sekolah Palangkaraya, sepantasnya berhati – hati dan patut mengkaji ulang atas keputusan yang akan dan sudah di laksanakannya di persidangan yang dalam pandangan publik menyimpan suatu keanehan dan sarat dengan ironi, serta dugaan adanya konspirasi jahat pada kebijakan yang merobek rasa Keadilan masyarakat itu. Bahkan persidangan itu pun, bisa diduga adalah bagian dari konspirasi keji tersebut.

Bagaimana tidak? Pasalnya, hasil keputusan sidang kasus pembakaran Sekolah Palangka Raya beberapa waktu lalu itu, telah menjatuhkan Vonis yang bisa dibilang prematur terhadap para terduga pelakunya, Kamis, (3/5). 

Ada apa dengan Mejelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat, yang terkesan kejar tayang, sehingga begitu yakin telah mengetuk palunya jelang akhir masa tahanan para terdakwa (4 Mei 2018).

Diketahui, masing – masing para tersangka, yakni Indra gunawan, Yosef Dadu, Yosef Duya, Fahriadi/Ogut dan Suriansyah di jatuhi vonis 1 tahun 6 bulan.

Lucunya, bahkan bisa dibilang miris, dalam pembacaan vonis terhadap Indra Gunawan, Yosef Dadu dan Yosef Duya, Majelis hakim terkesan memaksa kan kehendaknya dengan banyak menekankan pada keterangan atau BAP Suriansyah, yang dikatakan oleh Suryansyah sebagai BAP dari Penyidik Polres Palangka Raya, yang jelas menyatakan otak pelakunya, atau yang menyuruh dia untuk melakukan pembakaran Sekolah, adalah Hendrik Gunawan (HG), padahal menurut majelis hakim sendiri HG belum ditangkap.

Bahkan lebih ironis lagi Majelis Hakim tanpa rasa risih, juga menekankan BAP Suriansyah di Penyidikan Mabes Polri yang akhirnya menyatakan bahwa dalang dan otak pembakaran sekolah adalah Yansen Binti.

Sebegitu rancunya penyidikan dan pemberkasan oleh penyidik, dan pihak kejaksaan, hingga sampai dimeja hijaukan, sangat terlihat sekali kesan dipaksakan demi untuk menutup kasus ini.

Seperti yang di ungkapkan oleh tersangka Indra Gunawan, setelah majelis hakim membacakan putusan padanya. 

“Saya menolak atas putusan majelis hakim terhadap saya, dan saya yakin hukum karma berlaku terhadap tangisan keluarga kami yang di zolimi dan difitnah. Kami ini adalah korban yang di kambing- hitamkan dalam menutupi masalah ini, dan saya akan banding sampai keadilan dapat saya temukan,” erangnya kepada majelis hakim diruang sidang.

Bukan cuma itu, alasan publik menghimbau kepada majelis hakim agar mau mengkaji dan mengevaluasi keputusan yang sudah dilakukan, juga berdampak dengan merebaknya sesalan masyarakat khususnya warga Palangkaraya, di media sosial. 

Seperi yang ditulis oleh Riky Kaharap dalam statusnya; 
“Hidup sangat singkat pa petugas hukum. Pilihlah jalan kebenaran. Jangan membuatmu dikutuk dan disumpahi hingga keturunanmu mengalami bencana karena ketidak adilan oleh karmamu. Nafasmu hak yang di atas (Tuhan- red). Kekuasaanmu pun tak berarti di alam kubur. Kebahagiaanmu akan diganti dengan ratap pilu api neraka Siapa yang membela? Uangmu? Jabatanmu? Anak buahmu? Kehormatanmu? Di pengadilan Tuhan, tidak berlaku,” papar Riky di status face booknya.

Bahkan yang mengiris hati, seuntai status yang di buat oleh Chintya Binti; ” 8 bulan kalian menyakiti dan menghancurkan kami.. Terkadang terlintas difikiran ini rasa dendam, ingin marah, ingin teriak terhadap kalian yang tidak mempunyai hati nurani. Seberapa menakutkannya kah YB dimata kalian? Sampai kalian dengan tega memfitnahnya. Sudah puaskah kalian membuat YB seperti ini? Apakah kalian mempunyai hati nurani? Apakah kalian mempunyai keluarga? Apakah kalian mempunyai anak? Bagaimana jika ini terjadi di keluarga kalian? Tidakkah kalian berfikir apa akibat dari ini?” itulah sekilas tulisan status Chintya yg diakhiri dengan; semoga Tuhan memberkati, mengampuni, membukakan hati dan fikiran kalian. Amin. 

Tentunya, sebagai penegak hukum, pemutus pekeadilan, para ketiga hakim yang mulia itu patut merenung kembali sebelum kemudian memutuskan dalam sesal tak berujung. (Goesti)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − twelve =

Rekomendasi Berita