LPPOM Paparkan Strategi Deteksi Porcine di Kongres Halal Eropa 2026

RADARINDONESIANEWS.COM, SARAJEVO — Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) turut ambil bagian dalam 4th European Halal Congress yang berlangsung di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, pada 9–10 Juni 2026.

Forum internasional ini mempertemukan akademisi, regulator, laboratorium pengujian, lembaga sertifikasi halal, serta pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas perkembangan dan tantangan terbaru dalam ekosistem halal global.

Direktur The Agency for Halal Quality Certification in Bosnia and Herzegovina sekaligus Ketua Kongres, Damir Alihodžić, mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan sekitar 40 presentasi yang terbagi dalam 11 sesi dan diskusi panel.

Sebanyak 30 pembicara dari 20 negara hadir untuk berbagi pengalaman dan inovasi di bidang halal, termasuk dari Indonesia, Malaysia, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis.

Menurut Damir, kongres ini bertujuan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri halal guna memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.

“Kami ingin menghubungkan komunitas akademik, produsen, dan badan sertifikasi halal agar dapat bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan sektor halal di Bosnia dan Herzegovina maupun Eropa,” kata Damir.

Ia menilai kehadiran LPPOM memberikan nilai tambah karena Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan sertifikasi halal selama 37 tahun, baik pada masa Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Dalam forum tersebut, VP Corporate Secretary LPPOM sekaligus peneliti Laboratorium LPPOM, Raafqi Ranasasmita, mempresentasikan materi berjudul Analytical Strategies for Porcine Detection in Halal Certification.

Presentasi itu membahas berbagai pendekatan ilmiah untuk mendeteksi kandungan maupun kontaminasi unsur babi (porcine) pada produk yang menjadi objek sertifikasi halal.

Raafqi mengatakan pertumbuhan industri halal global dan semakin kompleksnya rantai pasok internasional menuntut metode pengujian yang akurat serta dapat diandalkan.

Menurut dia, pengujian laboratorium berperan penting dalam mendeteksi potensi pemalsuan maupun kontaminasi bahan nonhalal di berbagai tahapan produksi.

“Tidak ada satu metode pengujian yang paling ideal untuk seluruh kondisi. Pemilihan metode harus mempertimbangkan karakteristik produk, tingkat pengolahan, tujuan pengujian, kemampuan laboratorium, biaya, serta urgensi pengambilan keputusan,” ujarnya.

Ia menjelaskan sejumlah teknologi yang umum digunakan dalam deteksi porcine, yakni rapid test, ELISA, real-time PCR, dan LC-MS/MS.

Menurut Raafqi, rapid test berfungsi sebagai alat skrining awal yang cepat, praktis, dan relatif ekonomis. Namun, untuk kebutuhan verifikasi yang lebih kritis diperlukan metode dengan sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi.

Sementara itu, metode ELISA bekerja dengan mendeteksi protein spesifik dari spesies tertentu. Meski cukup sensitif, efektivitasnya dapat menurun pada produk yang telah mengalami proses pengolahan intensif, seperti pemanasan tinggi, fermentasi, atau hidrolisis.

Adapun real-time PCR saat ini menjadi salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam autentikasi halal karena mampu mendeteksi DNA spesifik suatu spesies dengan tingkat sensitivitas yang tinggi. Metode ini dinilai efektif untuk mendukung kebutuhan pengujian rutin dalam proses sertifikasi halal.

Untuk kebutuhan konfirmasi yang lebih mendalam, laboratorium dapat menggunakan teknologi LC-MS/MS. Metode ini mampu mengidentifikasi penanda molekuler spesifik melalui analisis berbasis massa sehingga menghasilkan tingkat keyakinan yang sangat tinggi.

Namun, penggunaannya membutuhkan peralatan canggih, tenaga ahli yang kompeten, serta basis data referensi yang kuat.

Meski demikian, Raafqi menegaskan bahwa pengujian laboratorium bukan satu-satunya faktor yang menentukan kehalalan suatu produk.

“Model sertifikasi halal yang paling kuat adalah yang menggabungkan pengujian laboratorium secara tepat sasaran dengan audit halal yang efektif serta sistem ketertelusuran (traceability) yang baik di sepanjang rantai pasok,” katanya.

Partisipasi LPPOM dalam European Halal Congress 2026 menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan, standardisasi, dan penguatan sistem jaminan produk halal di tingkat internasional.

Melalui forum tersebut, LPPOM membagikan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan berbagai metode pengujian DNA spesies serta mengoperasikan laboratorium halal terakreditasi ISO/IEC 17025 guna mendukung implementasi sertifikasi halal yang kredibel dan berbasis sains.

Selama dua hari penyelenggaraan, peserta kongres membahas berbagai isu strategis, mulai dari sertifikasi halal, keamanan pangan, laboratorium pengujian, digitalisasi sistem halal melalui teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga pengembangan industri halal berkelanjutan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, lembaga sertifikasi, dan peneliti dalam menghadirkan inovasi yang mendukung kemajuan ekosistem halal global.[]

Comment