Maulid Nabi ﷺ: Mengenang Kelahiran atau Menghidupkan Risalah?

Opini1156 Views

Penulis: Eva Herlina, S.T., M.T. | Dosen dan Penggiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Sebentar lagi umat Islam akan kembali menyambut Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Masjid dan majelis dipenuhi lantunan shalawat, kisah kelahiran Rasulullah ﷺ kembali disampaikan, dan kecintaan kepada manusia mulia itu kembali menjadi tema berbagai peringatan.

Semua itu tentu lahir dari kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, ada pertanyaan yang patut direnungkan lebih dalam: apakah Maulid cukup dimaknai sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, atau justru menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali risalah yang beliau bawa?

Sebab, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ semestinya tidak berhenti pada lantunan shalawat dan kisah perjuangannya. Kecintaan itu seharusnya mendorong umat untuk memahami, mengikuti, dan menjalankan risalah yang beliau sampaikan.

Jika Rasulullah ﷺ menyaksikan keadaan umat hari ini, tentu bukan hanya lantunan shalawat yang menjadi perhatian. Ada anak-anak Muslim yang tumbuh di tengah krisis moral, keluarga yang menghadapi berbagai persoalan, kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, serta konflik dan penderitaan yang masih melanda sejumlah negeri Muslim.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar, “Apakah kita masih mencintai Rasulullah ﷺ?” Melainkan, “Sejauh mana kita mengikuti risalah yang beliau bawa?”

Rasulullah ﷺ Membawa Risalah Kehidupan

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Islam yang beliau sampaikan juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya serta berbagai persoalan kehidupan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 208:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Islam dipahami sebagai ajaran yang menyeluruh. Karena itu, memahami kehidupan Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya melalui sisi ibadah dan akhlaknya, tetapi juga melalui bagaimana beliau membina umat dan membangun tatanan masyarakat.

Di Makkah, Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan akidah. Beliau menanamkan tauhid, membentuk kepribadian Islam, sekaligus membangun generasi yang siap membawa risalah.

Jalan dakwah itu tidak mudah. Rasulullah ﷺ menghadapi penghinaan, penolakan, penyiksaan, pemboikotan, bahkan ancaman pembunuhan.

Namun, beliau tidak berhenti.

Setelah hijrah ke Madinah, dakwah Islam memasuki fase baru. Rasulullah ﷺ membangun masyarakat, mengatur urusan umat, menyelesaikan perselisihan, mengangkat pejabat dan hakim, mengatur berbagai urusan kemasyarakatan, serta membangun hubungan dengan kelompok dan penguasa di luar Madinah.

Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 49:

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.”

Madinah dengan demikian menjadi bagian penting dari sejarah penerapan Islam dalam kehidupan masyarakat. Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memberikan teladan dalam mengelola kehidupan umat.

Bagian sejarah inilah yang terkadang luput dalam peringatan Maulid. Kita mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, akhlaknya, kelembutan dan kasih sayangnya, tetapi jangan sampai melupakan keseluruhan perjuangan beliau dalam membina umat.

Setelah Rasulullah ﷺ Wafat

Rasulullah ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir. Allah menegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 40 bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah dan penutup para nabi.

Kenabian berakhir dengan wafatnya Rasulullah ﷺ. Namun, umat Islam tetap memiliki kewajiban untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Para sahabat kemudian melanjutkan kepemimpinan umat melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Rasulullah ﷺ bersabda agar umat berpegang teguh kepada sunnah beliau dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahnya sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi.

Karena itu, setelah Rasulullah ﷺ wafat, perjuangan menjaga dan menjalankan ajaran Islam tidak otomatis berhenti. Yang berakhir adalah kenabian, bukan kewajiban umat untuk berpegang pada risalah Islam.

Ketika Islam Direduksi Menjadi Ritual

Lalu bagaimana dengan kehidupan umat Islam hari ini? Di banyak tempat, Islam hadir dalam bentuk shalat, puasa, masjid, majelis, pengajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Namun, pada saat yang sama, nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, hukum dan politik menghadapi berbagai tantangan.

Pada tingkat individu, krisis moral masih menjadi persoalan. Peredaran narkoba, perjudian, pornografi, kekerasan, serta berbagai bentuk penyimpangan dapat dengan mudah menjangkau generasi muda melalui teknologi.

Dalam keluarga, orang tua menghadapi tantangan pengasuhan yang semakin kompleks. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital yang membawa manfaat sekaligus risiko. Keteladanan, komunikasi dan pendampingan keluarga menjadi semakin penting.

Di bidang pendidikan, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur melalui nilai, ijazah dan pekerjaan. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang berilmu, berkarakter dan memiliki ketakwaan.

Dalam ekonomi, persoalan kesenjangan, kemiskinan dan praktik keuangan yang menjerat sebagian masyarakat juga masih menjadi tantangan. Al-Qur’an mengingatkan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya sebagaimana disebut dalam QS. Al-Hasyr ayat 7.

Pengelolaan sumber daya alam pun semestinya diarahkan kepada kemaslahatan masyarakat. Air, energi, tanah, hutan dan kekayaan alam merupakan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab, bukan semata-mata dilihat dari keuntungan ekonomi.

Dalam hukum, keadilan tidak boleh membedakan antara yang kuat dan yang lemah. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58 agar manusia menetapkan hukum dengan adil.

Sementara dalam kepemimpinan, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap pemimpin adalah pemelihara dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Persoalan Umat Tidak Berhenti di Dalam Negeri

Persoalan umat Islam juga tidak berhenti pada kehidupan domestik. Berbagai konflik dan penderitaan masih terjadi di sejumlah wilayah dunia Muslim.

Rasulullah ﷺ menggambarkan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian lainnya ikut merasakan penderitaan sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Karena itu, kepedulian terhadap penderitaan sesama Muslim tidak semestinya berhenti pada simpati. Ia harus melahirkan solidaritas, kepedulian kemanusiaan dan upaya nyata sesuai kemampuan.

Lalu, apakah berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak memiliki jawaban?

Islam memiliki pedoman bagi individu, keluarga dan masyarakat. Islam memiliki prinsip dalam pendidikan, ekonomi, hukum, kepemimpinan dan hubungan antarmanusia.

Persoalannya bukan pada ketidaklengkapan Islam. Persoalannya adalah bagaimana umat memahami dan menjalankan ajaran tersebut dalam kehidupan.

Kita masih memiliki Al-Qur’an. Kita masih memiliki hadis. Kita masih memiliki sirah Rasulullah ﷺ. Namun, tantangannya adalah menjadikan ajaran itu tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi pedoman dalam kehidupan.

Maulid dan Makna Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Di sinilah Maulid Nabi ﷺ semestinya menemukan makna yang lebih dalam. Maulid bukan sekadar tentang seberapa meriah sebuah acara digelar. Bukan pula hanya tentang seberapa banyak shalawat dilantunkan. Lebih dari itu, Maulid dapat menjadi momentum untuk kembali mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ secara utuh.

Kita perlu mengenal bagaimana beliau membina manusia, membangun masyarakat, menyelesaikan persoalan umat, menegakkan keadilan, dan menjalankan amanah kepemimpinan.

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31: “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa cinta membutuhkan ittiba’ atau mengikuti Rasulullah ﷺ.

Karena itu, pertanyaan pada Maulid tahun ini mungkin bukan, “Seberapa meriah kita memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Seberapa sungguh kita berusaha mengikuti risalah yang beliau bawa?”

Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan umatnya sekadar kenangan. Beliau meninggalkan risalah yang mengajarkan manusia mengenal Allah, membangun akhlak, menegakkan keadilan dan menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk-Nya.

Jika kita benar-benar merindukan Rasulullah ﷺ, kerinduan itu semestinya tidak hanya diwujudkan dengan mengenang sosoknya. Kerinduan itu juga perlu diwujudkan dengan mempelajari sunnahnya, meneladani akhlaknya dan memperjuangkan kebaikan yang beliau ajarkan.

Cahaya Islam bukan hanya untuk menerangi masjid dan majelis. Cahaya itu juga harus menerangi perilaku, keluarga, pendidikan, ekonomi, kehidupan sosial dan berbagai urusan manusia.

Maka, pada Maulid tahun ini, mari kita tidak berhenti pada pertanyaan apakah kita masih mengingat nama Rasulullah ﷺ.

Mari bertanya lebih jauh: apakah kehidupan kita sudah mencerminkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui upaya mengikuti risalah yang beliau bawa?

Sebab, mengenang kelahiran beliau adalah bentuk cinta. Namun, menghidupkan ajaran dan keteladanan beliau dalam kehidupan adalah ujian dari cinta itu sendiri.[]

Comment