by

Maya Ristanti: Islamophobia Akut

Maya Ristanti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Alkisah ada sekelompok orang yang tidak menyukai bawang putih. Kelompok. Tersebut lebih suka bawang merah dalam masakan dan pengobatan. Beruntungnya dalam sebuah kesempatan, kelompok tersebut menjadi pejabat-pejabat tinggi sebuah negara.
Hal pertama yang dilakukan adalah menginstruksikan kepada seluruh rakyat untuk tidak mengkonsumsi bawang putih atau olahan apapun yang terbuat dari bawang putih. Entah dalam bentuk, makanan, obat, bahkan barang -barang simbolik bawang putih seperti gantungan kunci berbentuk bawang, website tentang manfaat bawang dsb. 
Larangan tersebut menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Karena masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsi bawang putih, meskipun jumlahnya tidak banyak. Banyak demonstrasi,  tulisan media, hingga diskusi publik untuk membahas kebijakan negara yang aneh ini. Tetapi penguasa tak hilang akal. Dibuatlah sebuah peraturan bahwa barangsiapa yang masih memperbincangkan dan menolak keputusan akan masuk penjara. Dan ribuan jargon, iklan, pamflet dan baliho tentang bahaya  bawang digelontorkan untuk mengubah pemikiran masyarakat. 
Tak berbeda jauh dengan negeri ini yang dibayangkan -bayangi rasa islamophobia tingkat akut. Segala hal yang berbau pemerintahan islam dianggapnya seperti musuh yang sangat berbahaya . Bahkan mungkin lebih berbahaya dari tindakan narkoba , korupsi, konten pornografi yang bertebaran luas, kenakalan remaja yang sedang melanda Indonesia. 
Sebagaimana dilansir pada Dakwahsumut.com 9/3/2019, Medan- Tepat pada Jumat (08/03/19) lalu terjadi pembubaran kegiatan diskusi mahasiswa atau  “Dialogika” di kampus UIN-SU yang dilaksanakan oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat UIN-SU yang mengangkat tema “Malapetaka Runtuhnya Khilafah”. Berdasarkan laporan di lapangan, pembubaran ini ditengarai karena poster acara yang sempat viral di dunia maya yang membuat pihak kampus akhirnya mengambil sikap cepat untuk membubarkan kegiatan yang dianggap ‘berbahaya’ ini.
Sungguh, pembubaran acara tersebut telah menodai netralitas perguruan tinggi yang seharusnya menjadi katalisator ilmu  pengetahuan. Perguruan tinggi seharusnya menjadi rujukan bagi masyarakat untuk menguji kualitas sebuah ide apakah memang layak atau tidak diserap oleh masyarakat. Bukan hal yang aneh kampus dipenuhi dengan perang ide atau gagasan. Karena mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus kelak diharapkan akan menjadi pengarah peradaban  di masa yang akan datang. Mahasiswa sebagai iron stock. 
Masyarakat yang awam bisa  saja terbius dengan berkembangnya framing jahat yang dibuat oleh media massa, televisi, media sosial , dan siaran berita .  bahwa ajaran Islam seperti Khilafah , jihad, Khalifah, sistem pengadilan Islam adalah sesuatu yang menakutkan. Tidak layak umat untuk mengambilnya. Terlebih diopinikan secara terstruktur oleh negara. Dari lembaga tertinggi hingga terendah. Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan masyarakat, sangat berpotensi framing tersebut diterima mentah-mentah. 
Padahal framing tersebut sesungguhnya menciderai hakikat Islam yang kaffah (menyeluruh). Sedangkan perguruan tinggi sebagai pencetak para agent of change untuk meluruskan kesalahan yang ada di masyarakat dibungkam pula. Mahasiswa hanya dicetak sebagai pegawai, pembelajar yang baik tapi kurang peka dengan isu sosial. 
Islam adalah agama yang paripurna. Islam mengatur kehidupan manusia dari A-Z, dari perkara yang berhubungan dengan dirinya sendiri seperti makan, minum, berpakaian,serta akhlak. Kemudian mengatur tentang tentang tata cara beribadah kepada Tuhannya seperti shalat , puasa, haji, berdzikir dan lainnya. Dan juga seperangkat hukum tentang kehidupan seperti sistem ekonomi Islam, sistem peradilan, sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan, sistem pendidikan, sistem politik, sistem pemerintahan dan struktur ketatanegaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah. 
Sehingga kurang tepat , bagi kaum Muslimin di manapun berada untuk menyukai satu ajaran Islam dan membenci ajaran Islam yang lain. Karena wajibnya shalat lima waktu bagi muslim sama pentingnya dengan meninggalkan riba . Berbakti kepada orang tua tidak lebih mulia di bandingkan dengan menegakkan hudud . Semua bernilai pahala bila dijalankan sesuai ajaran Islam dan ikhlas. Namun bila meninggal kan dan mengingkarinya maka akan berdosa. 
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengingatkan umat Islam untuk lebih berhati-hati terhadap framing jahat yang dibuat oleh orang -orang yang tidak menginginkan ajaran Islam dipeluk secara kaffah. Bila tetap dibiarkan yang terjadi adalah umat Islam akan membenci ajaran Tuhannya sendiri. Padahal ajaran tersebut adalah ajaran yang benar. Waallahu a’lam bis-showab.[]

Penulis adalah anggota Akademi Menulis Kreatif

Comment

Rekomendasi Berita