by

Meutia TS. Kelana, S.Kom: Antara Qanun dan Pergub Hukum Jinayat

Meutia TS. Kelana, S.Kom
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sekitar 18 terpidana pelanggar Qanun di Aceh Barat, Kamis (20/9/2018) hari ini sekira pukul 10.00 WIB akan dieksekusi cambuk di halaman Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh.
Eksekusi cambuk yang digelar di Aceh Barat terbuka untuk umum dan mengabaikan Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh yang memindahkan eksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan (LP). Amatan Serambinews.com, sejumlah pejabat di Aceh Barat mulai memadati lokasi eksekusi cambuk seperti Wabup, Ketua Mahkamah Syairiyah, Kajari dan Forkopimda setempat. Terpidana yang akan dieksekusi di antaranya ada yang ditahan di LP dan ada juga yang tidak ditahan.
Sebelumnya terkait pergub no 5 tahun 2018, tentang jinayat. Dengan terbitnya pergub itu sekaligus ingin mengakhiri pelaksanaan eksekusi cambuk yang biasanya berlangsung di tempat umum ke Lapas (lembaga pemasyarakatan).
Pergub ini ada dikarenakan alasan untuk meredam protes pihak luar yang takut akan Islamphobia, kata Irwandi ini bisa mengganggu urusan luar negeri. Alasan lain adalah dampak buruk bagi anak-anak yang menyaksikan kejadian itu meski tidak langsung seperti di unggah ke youtube. Di takutkan juga para pelaku menanggung beban seumur hidup (AntaraNews).
Seharusnya tolak ukur memberi hukuman itu adalah syariat Islam, bukan untung rugi demi meraih para wisatawan. Hukum jinayat ini ada karna diambil dari sumber terpercaya yaitu Al-Qur’an. Dimana dengan tegas Allah menyatakan :
“Pezina perempuan dan penzina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan pada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah hukuman.mereka disaksikan oleh sebagia orang-orang yang beriman” (QS. An-Nuur : 2).
Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa hukuman itu harus dilaksanakan didepan khalayak ramai agar menjadi pelajaran bagi umat dan efek jera bagi si pelaku. 
Jadi wajar jika hukum syara ditetapkan maka tidak ada lagi kemaksiatan yang terjadi, yang ada hanya orang-orang yang bertakwa seperti kisah Al-Ghomidiyah dan Al-Maiz. Mereka adalah contoh terbaik yang ada ketika Daulah Islam ada, karna ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah membawa mereka mengakui perbuatannya dan Ridho atasnya untuk dihukum berdasarkan perintah Allah, semata takut akan azab Allah.
Inilah yang seharusnya ada pada diri setiap insan, dan cuma khilafah saja yang dapat mewujudkannya dan menyelesaikan masalah yang ada. Wallahu a’lam.[]
Penulis adalah guru SMKN 4 Lhokseumawe

Comment