Mirad: Operasi Ramadhaniya Mudik 2017 belum Serius Tangani Pemudik Disabilitas

Berita1262 Views
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menteri Perhubungan Budi Karya memastikan bahwa angka kecelakaan dan korban meninggal dalam kecelakaan musim mudik tahun ini menurun drastis. Ia menyebut korban meninggal di jalur mudik tahun ini menurun hingga 40 persen jika dibandingkan dengan musim mudik tahun lalu (2016). Hal tersebut ia sampaikan di kantor Kementerian Perhubungan (Kemnhub) RI, Jakarta Pusat, Selasa (4/7/2017) di hadapan wartawan. Sementara angka pasti jumlah kecelakaan masih terus dihimpun dari 19 juta orang yang menjalani mudik di berbagai rute daerah-daerah Indonesia.
Fasilitas Mudik tidak Ramah Disabilitas
Dengan menurunnya berbagai peristiwa kecelakaan mudik tahun ini bersama ditutupnya Operasi Ramadhaniya 2017 oleh Kemenhub, menandakan sistem pencegahan telah dilakukan dengan baik oleh pemerintah. Selain apresiasi terhadap pemerintah mesti disampaikan Tim Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017, yang sejak 2015 melakukan audit berbagai fasilitas mudik, penting juga Tim MRAD 2017 mempublikasikan hasil evaluasi atas fasilitas mudik tahun ini, terutama bus dan mobil akses yang melayani orang dengan disabilitas.
Mudik bagi disabilitas sama dengan pemudik lainnya, harus disiapkan jauh-jauh hari, terutama atas kebutuhan khusus setiap disabilitas. Untuk itu bagi disabilitas, bila terlalu lama di jalan akan memberi dampak dan menjadi resiko tersendiri. Sehingga, berbagai upaya harus diantisipasi demi menggelar mudik untuk orang dengan disabilitas. Mereka di antaranya terpaksa menahan diri untuk tidak ke toilet karena kamar mandi di seluruh moda transportasi begitupun di terminal, stasiun dan pelabuhan cenderung belum aksesibel untuk disabilitas. Karena itu, mereka menahan untuk tidak minum dan makan juga membatasi diri beristirahat di rest area. Apalagi bagi mereka yang berkursi roda, tidak bisa hanya duduk, harus diselingi dengan berbaring, agar tidak mengalami decubitus (luka karena trauma terlalu lama duduk). Itu semua dilaksanakan agar perjalanan aman.
Inilah yang dialami Rizki Ramadhan (7th) seorang anak tuna rungu yang bernafas melalui leher dan minum susu melalui selang yang diselipkan di perutnya. Berangkat dari Solo menuju Jakarta, saat arus balik, berlama di jalan dapat menjadi resiko tersendiri bagi Rizki. Untungnya, Ibu Tuti (bunda dari Rizki) bergembira dengan kondisi jalan yang tidak terlalu macet. Memang terjadi kepadatan, namun arus kendaraan terus mengalir. Bahkan Rizki sempat keluar di Karawang Barat dan beristirahat dengan mengisi waktu untuk memancing.
Program MRAD 2017 berjalan berkat dukungan Bank Syariah Mandiri. Mobil Akses Penyandang Disabilitas Kemensos RI menempuh perjalanan selama 18 jam. Ini sangat berbeda jika dibandingkan tahun lalu yang menempuh sekitar 34 jam. Pemberangkatan MRAD 2017 dilepas di depan Wisma Mandiri, MH. Thamrin Jakarta Pusat 23 Juni 2017. Sedangkan perjalanan balik ke Jakarta, MRAD 2017 diberangkatkan dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof. Dr. Soeharso Surakarta, 30 Juni 2017.
Kebahagiaan juga tampak dari 7 disabilitas dan 3 pendamping yang menempuh arus balik dengan menggunakan mobil akses. Adapun rute penjemputan mobil akses menjalani arus balik dengan lokasi penjemputan di Solo, Kebumen, Karang Anyar dan Tegal untuk 7 orang disabilitas (dua di antaranya usia anak 7 dan 14 tahun).
Ilma Sovri Yanti inisiator MRAD sangat mengapresiasi layanan mudik 2017. Kali ini dia mengakui pelayanan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya karena terjadi penurunan drastis peristiwa kecelakaan transportasi baik di darat, laut dan udara sebagaimana disampaikan Menhub Budi Karya. 
“Meski rasanya siapa pun tidak bisa memaafkan di hari bahagia harus ada keluarga yang meninggal, karena itu rekomendasi terpenting dari tim MRAD 2017 terhadap pemerintah adalah pelibatan sejak awal untuk mendengar masukan terutama dari kaum rentan seperti anak, perempuan, disabilitas dan lansia serta melibatkan masukan dari para korban mudik tahun ini,” harapnya.
Ilma juga menyampaikan bahwa tim MRAD 2017 mengapresiasi kesadaran masyarakat yang massif ikut menyukseskan penyelenggaraan mudik tahun ini.
Harapan Tim MRAD 2017: Pembentukan Komisi Nasional Disabilitas
Sementara itu, Sigit Catur Nugroho disabilitas berkursi roda peserta MRAD mengungkapkan bahwa program MRAD 2017 masih menghadapi beberapa ujian berat karena aksesibilitas yang masih kurang disadari dan dibenahi oleh pemerintah dan pihak-pihak swasta. Begitu juga keterbatasan mobilitas kalangan disabilitas yang mudik ketika membutuhkan sesuatu.
Ketika mobil akses berusaha berhenti di tempat tempat yang ramai dikunjungi, dengan harapan fasilitasnya lebih lengkap. Sigit menceritakan, ketika proses mudik berhenti di Rest Area KM 19, ia harus ditandu dengan kursi rodanya karena menaiki anak tangga curam untuk bisa menunaikan salat Jumat. Sigit berharap ada perbaikan, “Minimal dari 2 tahun Ramadan yang lalu kami melakukan audit, inginnya ada space salat yang bisa dipakai disabilitas. Namun yang jadi catatan saya petugas Jasa Raharja sigap membantu menaikkan kursi roda ketika menuju toilet. Dokter Jasa Raharja juga membantu memeriksa kesehatan dan memberi obat. Karena ada beberapa teman-teman yang memang perlu perhatian khusus dan dimonitor kesehatannya selama di perjalanan.”
Di luar itu semua, bagaimanapun tim MRAD 2017 tetap mengapresiasi kerja keras berbagai pihak pada Operasi Ramadhaniya 2017 terutama Presiden RI yang memberikan konsentrasinya membangun aksesibilitas untuk semua melalui perencanaan yang matang hingga mudik tahun ini relatif berjalan lancar. Mulai dari Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Kepolisian, Kementerian Kesehatan dan berbagai entitas sosial masyarakat. Termasuk juga bagi masyarakat yang telah bersedia rumahnya dan tempat ibadahnya dijadikan tempat istirahat para pemudik motor.
Beberapa catatan lain, di antaranya disabilitas yang susah mengakses toilet, tempat makan dan masjid. Pengendara motor yang menjadi korban terbanyak, kejadian tenggelamnya kapal, kelalaian di tempat wisata, sampai anak yang terlindas mobil di sebuah SPBU adalah kecelakaan yang seharusnya bisa dihindari dengan persiapan pemerintah yang lebih maksimal dalam menyelenggarakan mudik di tahun berikutnya. 
Harapan besar tim MRAD, pemerintah harus memberi solusi transportasi publik yang lebih massif yang murah dan nyaman guna mengakomodasi pemudik motor. Pemeriksaan para petugas juga harus sigap pada potensi kelelahan pengendara kendaraan baik motor maupun mobil. Demikian juga pengawasan ketat dilakukan pemerintah dan swasta pada pilot pesawat mereka. Sehingga, ada perhatian, persiapan dan pencegahan sejak awal baik dari pengemudi maupun penumpangnya.
Maka dari itu, selain menjadi tanggung jawab negara, semua pihak juga harus terlibat mempersiapkan program Mudik Ramah Anak dan Disabilitas tahun depan agar lebih baik. Jika tahun ini disabilitas yang mendaftar dan terfasilitasi mudik hanya tujuan pulau Jawa, harapannya 40 pemudik disabilitas yang telah mendaftar dan tidak bisa berangkat, lebaran tahun depan dapat terfasilitasi, terutama yang menggunakan kursi roda. Untuk itu ketersediaan transportasi atau tranportasi alternatif seperti Mobil Akses Penyandang Disabilitas menjadi penting. Begitu juga informasi yang jelas dari pemerintah apabila disediakan fasilitas transportasi yang dapat digunakan disabilitas untuk pulang kampung.
Jika dua tahun Ramadan ini tim MRAD menggunakan mobil akses milik Kemensos RI, lebaran berikutnya mulai ada CSR yang terpanggil membuat transportasi alternatif bagi disabilitas yang lebih baik lagi. Sehingga, Sigit mewakili kalangan disabilitas menegaskan lagi, “Menjadi kemestian bagi pemerintah untuk segera membentuk Komisi Nasional Disabilitas (KND) sebagai isnstitusi yang dapat mengawal negara untuk memberikan jaminan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak disabilitas sebagaimana menjadi mandat UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.”[Nicholas]

Comment