by

Mr. Kan: Penangkapan Aktivis 313 Ibarat Dokter Malpraktek

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Terulang kembali penangkapan 5 orang aktivis pada dini hari, Jumat (31/3) lalu yakni seorang ulama KH.Muhammad Al Khaththath, Zainuddin Arsyad, Diko Nugraha, Irwansyah dan Andry atas tuduhan dugaan permufakatan makar dan kelimanya sudah dijadikan tersangka.
 
Terdahulu dini hari 2 Desember 2016 Sri Bintang Pamungkas dan sejumlah 10 orang aktivis ditangkap dan sekaligus dijadikan tersangka, 8 orang aktivis berangsur – angsur dilepaskan paskah diperiksa 10 jam oleh Kepolisian Mabes Polri, Jamran dan Rizal dituduh dugaan pelanggaran UU ITE dan kasusnya langsung P21. Khusus Sri Bintang Pamungkas, dituduh dugaan makar dan di tahan (+-) 103 hari di Polda Metro Jaya. Hampir 100 orang saksi telah diperiksa atas kasus ini tetapi belum juga mendapatkan 2 alat bukti kongrit yang dapat diterima oleh kejaksaan. Artinya, bukti dugaan makar dinyatakan nihil. Akhirnya 15 Maret 2017 Sri Bintang paungkas dibebaskan dari tahanan. Sri Bintang pun berencana untuk mengugat ke pengadilan Internasional terkait  penahanan yang dianggap telah merugikan dirinya.

Menurut saya, penangkapan – penangkapan yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum tampak tidak normal atau abnormal, seperti Dokter yang mal praktek. Ibarat seorang pasien sakit gigi, gusi bengkak dan demam tapi obat darah tinggi yang diberikan kepada pasiennya.  Seharusnya obat yang diberikan anti sakit, anti biotik dan parasetamol. Ini jelas salah obat. 

“Saya menduga antara sengaja salah memberikan obat atau memang salah kasih oba. Intinya, orang sakit kalau diberikan obat yang salah ya tidak akan pernah bisa sembuh, yang ada giginya bakal berinfeksi makin parah bakal bisa berpotensi menjadi tumor ganas, dan pada umumnya penderita sakit gigi suka mengakibatkan berefek menyasar kemana – mana, sama dengan permasalahan kasus terdakwa Ahok ini sudah seperti bola besar yang sangat panas dan sangat liar.”

Kan menambahkan, ambil contoh terdahulu pada kasus dugaan permufakatan kejahatan atau disebut “Kasus Papa Minta Saham “, jelas sekali di rekaman video itu apa yang dibicarakan Setya Novanto. Rekannya, saudara Reza Chalid melarikan diri keluar negeri satu hari sebelum adanya pencekalan keluar negeri atas dirinya. Kenapa pada kasus itu tidak ada penangkapan apalagi penahanan? 

Jelas sekali dari apa yang mereka bicarakan di dalam rekaman video tersebut, tampak para oknum elite dan mafia sedang berencana untuk kerja sama terus mengerogoti isi kekayaan alam yang ada di negeri ini, pada saat itu Setya Novanto sudah sempat berhenti dari jabatan ketua DPR RI dan sekarang sudah kembali lagi menduduki jabatan ketua DPR RI. Belakangan, Setya Novanto diberitakan terlibat kasus korupsi E KTP.

Sejumlah besar kasus korupsi lainya dan pemberantasannya jauh dari kata tuntas. Lihat kasus dugaan korupsi pembelian lahan Cengkareng, tidak ada tersangkanya sama sekali, kasus korupsi pengadaan bus karatan transjakarta hanya 1 orang tersangkanya itu pun tahunan belum ada putusan, kasus korupsi dana siluman pengadaan ups 1,2 triliun hanya 2 orang tersangkanya, dugaan kasus taman BMW tidak ada beritanya. KPK menyatakan kasus korupsi reklamasi “grand coruption” faktanya hanya hanya cuma 3 orang saja tersangkanya, kasus dugaan korupsi pembelian lahan Sumber Waras merugikan negara 191 miliar juga tidak ada tersangkanya sama sekali, 5700 PNS Fiktif, panama papers, rekening gendut, BLBI, Century dan Hambalang, semua kejadian ini tidak dapat diterima oleh akal yang sehat sama sekali bagi kita yang waras.

Saya menduga semua ini persis seperti sekelompok besar oknum – oknum elite yang cukup cerdas memainkan film sinetron yang terus mengerogoti isi dari segala kekayaan yang ada di negeri tercinta ini, mungkin harus sampai semuanya hancur baru mereka bisa puas dan sadar , sebagai anak bangsa saya sangat prihatin dan sangat kecewa berat, Saya sangat berharap suatu hari bisa ada perubahan yang lebih baik, Saya pun terus berdoa jika Saya ditakdirkan jadi Presiden maka akan saya habiskan semua permainan sinetron buruk itu.

Dari pengamatan saya atas semua kejadian ini menunjukkan sekali tampak adanya hukum yang tajam kebawah dan tumpul keatas. Jika tidak ada perubahan yang lebih baik, maka negara pasti berangsur – angsur akan hancur lebur seperti cerita kisah nyata tenggelamnya kapal Titanik yang menabrak gunung es, di mana sebelumnya para kapten kapal mengabaikan semua pemberitahuan perhatian khusus bahwa sepanjang jalur atlantic bagian utara malam ini dipenuhi bongkahan batu es. Oleh Dr. Anton Tabah diungkapkan, “di pintu gerbang Univeristas Harvard Amerika serikat pun tertulis.” Negara dan Bangsa Pasti Hancur Jika Hukum Pilih Kasih ” Universitas Harvard adalah Universitas terbaik Se – Dunia.

Mr.Kan pengamat sosial tinggal di Jakarta.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 12 =

Rekomendasi Berita