Muharram dan Momentum Hijrah Hakiki Umat

Opini35 Views

Penulis: Khansa Maliha | Mahasantriwati Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Bulan pertama dalam tahun Islam ini seharusnya menjadi momentum refleksi dan perencanaan bagi umat Islam untuk mengevaluasi berbagai persoalan yang tengah dihadapi serta merumuskan langkah perbaikan ke depan. Hal ini penting mengingat berbagai persoalan sosial terus bermunculan dan menimbulkan keprihatinan di tengah masyarakat.

Sebagaimana dilaporkan berbagai media nasional dalam beberapa tahun terakhir, kasus perundungan, kekerasan terhadap anak, kehamilan di luar nikah, prostitusi anak, hingga eksploitasi seksual masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya tertangani.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya tantangan besar dalam menjaga kualitas moral dan ketahanan sosial masyarakat.
Kondisi ini menimbulkan rasa cemas dan ketidakpastian dalam kehidupan masyarakat.

Berbagai persoalan sosial tidak jarang merembet ke lingkungan keluarga, memicu konflik rumah tangga, hingga berujung pada meningkatnya angka perceraian. Pada titik tertentu, keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama pendidikan dan perlindungan justru ikut terdampak oleh berbagai tekanan kehidupan.

Sebagaimana diberitakan berbagai media internasional mengenai konflik Palestina, penderitaan umat Islam tidak hanya terjadi pada level domestik, tetapi juga tampak nyata di panggung global. Rakyat Palestina terus menghadapi serangan militer yang berkepanjangan.

Selain korban akibat serangan fisik, banyak warga sipil menghadapi ancaman kelaparan dan krisis kemanusiaan akibat terbatasnya akses terhadap bahan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Bagi banyak kaum muslim, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai posisi dan peran dunia Islam dalam merespons berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi.

Meski negara-negara muslim memiliki potensi sumber daya dan kekuatan yang besar, realitas di lapangan sering kali menunjukkan keterbatasan dalam memberikan perlindungan yang efektif terhadap umat Islam yang tertindas.

Berbagai persoalan yang menimpa umat saat ini tidak dapat dilepaskan dari penerapan sistem sekularisme dan kapitalisme yang menjadikan kepentingan materi sebagai ukuran utama kehidupan.

Dalam sistem seperti ini, standar halal dan haram dinilai semakin tersisih oleh pertimbangan manfaat ekonomi dan keuntungan material. Pergeseran orientasi inilah yang dianggap menjadi salah satu faktor lahirnya berbagai bentuk kerusakan sosial yang kini dirasakan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, sistem tersebut juga dinilai mendorong banyak orang tua untuk menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Akibatnya, fungsi pendidikan dan pembinaan dalam keluarga menjadi berkurang.

Kondisi ini, menurut penulis, turut berkontribusi terhadap munculnya berbagai persoalan yang menimpa anak, remaja, maupun keluarga secara umum.
Selain faktor sistem, penulis juga menilai bahwa lemahnya posisi umat Islam di tingkat internasional turut memperparah keadaan.

Berbagai upaya diplomasi memang terus dilakukan, namun belum mampu memberikan dampak yang signifikan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menimpa kaum muslim di berbagai belahan dunia.

Ketiadaan institusi politik yang mempersatukan umat Islam secara global menjadi salah satu penyebab lemahnya posisi umat saat ini. Akibatnya, dunia Islam terpecah ke dalam berbagai kepentingan nasional yang berbeda-beda sehingga sulit menghadirkan kekuatan kolektif yang mampu melindungi kepentingan umat secara menyeluruh.

Oleh karena itu, awal Muharram semestinya menjadi momentum perenungan yang mendalam bagi umat Islam. Refleksi yang dimaksud bukan hanya memahami berbagai peristiwa yang terjadi, melainkan juga menghubungkannya dengan berbagai pesan Rasulullah saw. mengenai kondisi umat pada masa mendatang.

Sebagaimana termaktub dalam sejumlah hadis Rasulullah saw., terdapat peringatan bahwa berbagai aspek ajaran Islam akan ditinggalkan secara bertahap oleh umat.

Berbagai problematika yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fenomena yang perlu menjadi bahan introspeksi bersama. Karena itu, refleksi tidak boleh berhenti pada kesadaran semata, tetapi harus melahirkan upaya nyata untuk melakukan perubahan sesuai tuntunan Islam.

Dalam konteks tersebut, penulis mengajak umat Islam untuk melakukan hijrah secara hakiki. Hijrah yang dimaksud bukan hanya perpindahan individu menuju kehidupan yang lebih baik secara personal, tetapi juga upaya meninggalkan sistem kehidupan yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam menuju penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).

Perubahan besar tidak dapat terwujud secara instan. Diperlukan perjuangan yang terencana, terorganisasi, dan mengikuti metode perjuangan yang dicontohkan Rasulullah saw. bersama para sahabat dalam membangun masyarakat Islam pada masa awal dakwah.

Melalui aktivitas dakwah yang dilakukan secara berjamaah dan berkesinambungan, umat Islam diharapkan mampu mewujudkan perubahan yang lebih mendasar dalam kehidupan.

Dengan demikian, awal Muharram tidak hanya menjadi seremoni tahunan yang berlalu tanpa makna, melainkan menjadi titik balik kesadaran umat untuk semakin mendekatkan seluruh aspek kehidupan kepada ajaran Islam. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment