by

Muslim Arbi: SaveProfessor Suteki

Muslim Arbi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Mula pertama, saya berketemu dengan Professor Suteki adalah dalam sebuah acara diskusi di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.  Belakangan saya kenal beliau, karena kami berteman di Facebook dan sering sharing dalam berbagai hal. 

Pagi tadi jelang makan sahur, saya dikirimi tulisan oleh Professor Suteki dengan judul, “Senjakala Kebebasan ASN Akademikus.”
Dalam tulisan itu Professor Suteki curhat tentang pengabdian dia selama ini sebagai pengajar Pancasila di kampusnya dan meneguhkan sikap sebagai pendudkung Pancasila dan NKRI malah mau dibebas tugaskan sebagai pengajar karena dituduh anti Pancasila dan anti NKRI. Sangat keterlaluan Rezim ini. 
Tuduhan yang dilontarkan oleh Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi itu terasa aneh dan berlebihan. Mana mungkin Suteki yang pernah aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia) diberi opsi: “Pilih NKRI atau dibebas tugas sebagai pengajar.” rasanya berlebihan tuduhan itu.
Sekarang Professor Suteki telah dibebas tugaskan sebagai pengajar dan guru besar di kampusnya, Universitas Diponegoro, Semarang. 
Padahal, kalau dimati, apa yang dilakukan Professor Suteki adalah sebagai saksi ahli di sidang Mahkamah Konsitusi soal UU ormas dan di Sidang Pengadilan TUN soal HTI di PTUN Jakarta Timur. 

Puluhan tahun pengabdian Suteki di almamater yang dicintai di Undip, semarang itu hancur oleh kekuasaan hanya karena sebagai saksi ahli.
Sebagai pakar, ahli dan guru besar yang mengajarkan Pancasila selama 24 tahun, tentu sangat menguasai betul bidangnya. Kesaksiannya di 2 Pengadilan itu wajar saja sebagai akademikus. 
Tapi, rupanya, penguasa yang belakangan ini lakukan pembatasan terhadap dakwah Islam melalui pembatasan jumlah muballigh dan dai oleh Kementrian Agama itu memandang keterangan Professor Suteki sebagai ancaman terhadap Pancasila dan NKRI. 
Rasa memiliki dan monopoli penafsiran atas Pancasila oleh penguasa dengan slogan; Saya Pancasila, Saya Indonesia; membuat ruang demokrasi berpendapat semakin sempit dan terancam.
Sejak awal, narasi Presiden Jokowi; Saya Jokowi, Saya Pancasila, Saya Indonesia,  dikritik keras oleh Permadi yang mengklaim dirinya sebagai penyambung lidah Bung Karno. Jokowi dianggap sebagai orang yang sombong dan angkuh. Video Permadi itu beredar luas di Publik.
Membiarkan rezim yang menindas perbedaan pendapat seperti apa yang dialami oleh Professor Suteki ini adalah pembiaran atas kezaliman dan kesewenang-wenangan.
Para aktifis akan berkumpul dan menolak tindakan Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi agar membatalkan keputusan menonaktifkan Professor Suteki. Jika tetap di paksakan, maka Mentri Mohammad Nasir akan didesak mundur karena mematikan demokrasi dan akademisi di kampus. 
Akhirnya, kepada Professor Suteki, tetaplah bersabar dan kuatkan kesabaran. Allah SWT pasti memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang terzalimi. 
Dan, biasanya rezim penindas itu tidak berusia lama. Sebentar lagi akan runtuh. Allahu Akbar, walillahil hamdu.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × two =

Rekomendasi Berita