by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd: Tak Ada Korelasi Antara Pernikahan Dan Kemiskinan

-Opini-27 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy bicara soal keluarga miskin di Indonesia. Menurut Muhadjir, jumlah keluarga miskin yang masih tinggi di Indonesia tak terlepas dari pernikahan sesama keluarga miskin.

Muhadjir Effendy dalam pemaparannya di webinar Kowani, Selasa (4/8/2020) mengatakan, rumah tangga miskin di Indonesia itu jumlahnya masih sangat tinggi, masih sekitar 76 juta rumah tangga miskin di Indonesia.

Angka kemiskinan di Indonesia memang tergolong tinggi namun benarkah disebabkan pernikahan sesama keluarga miskin?

Pernikahan bernilai ibadah bagi setiap muslim dan hak bagi setiap manusia demi mendapatkan keturunan. Hanya melalui pernikahan, kehidupan manusia akan terus berlanjut dengan mulia.

Kemiskinan negara sebenarnya bukan disebabkan individu. Secara fitrah setiap manusia menginginkan kehidupan yang layak dengan berusaha dan bekerja demi menafkahi diri dan keluarganya.

Namun terkadang tak semua orang menemukan pekerjaan yang tepat dengan gaji yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Minimalnya peran negara. Hampir setiap tahun bermunculan sarjana-sarjana baru lulusan Perguruan Tinggi dan tenaga teknik sekolah-sekolah kejuruan namun faktanya tak seiring dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia di negeri ini.

Wajar jika kalangan sarjana menyumbang tingginya angka pengangguran karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai bagi mereka. Peran negara sebaga sebuah solusi dalam hal ini masih sangat minim dan tidak optimal.

Misalnya Kartu PraKerja yang masih amburadul, kerjasama dengan swasta asing dan rekrruitmen tenaga kerja asing, undang-undang yang tidak berpihak kepada para pekerja dan sebagainya.

Banyaknya pernikahan sesungguhnya memiliki dampak positif  dalam hal kuantitas penduduk.

Secara demografis, Indonesia sangat beruntung memiliki kuantitas penduduk yang banyak dengan usia produktif.

Dari sisi lain, seharusnya negara mampu memanfaatkan potensi sumber daya manusia ini. Sumber daya manusia yang besar, produktif dan berkualitas adalah modal utama menjadi negara yang mandiri dan maju.

Kemiskinan adalah efek sistemik. Penerapan sistem kapitalis terbukti sukses menjadikan jurang pemisah yang begitu curam bagi si kaya dan si miskin. Para kapital begitu mudah memperkaya diri dengan didukung kebijakan penguasa.

Sedangkan si miskin akan terus terperangkap dengan kemiskinannya melalui kebijakan pemerintah yang tidak solutif sehingga rakyat terus hidup dalam kubangan kemiskinan.

Melambungnya harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya kesehatan, mahalnya biaya pendidikan, tarif listrik yang naik secara signifikan dan sebagainya menjadi instrumen yang memaksa masyarakat hidup dalam kubangan gelap kemiskinan.

Bagaimana Islam memberi solusi?

Dalam Islam, pernikahan merupakan sebuah ibadah untuk menjaga kemuliaan hidup manusia. Perbuatan yang awalnya bernilai haram (di luar nikah) menjadi halal dan mulia (melalui prosedur).

Melalui ibadah pernikahan ini Allah SWT memberi ganjaran berupa pahala yang berlipat-lipat bagi hambaNya serta menambah kekayaan. Hal ini menjadi catatan penting yang sangat diperhatikan dalam Islam.

Misalnya menyiapkan generasi yang siap menjalani biduk rumah tangga melalui pendidikan baik di dalam rumah tangga maupun di sekolah yang didukung dengan kurikulum di setiap jenjang pendidikan. Begitu pula di lingkup sosial dan negara dengan suasana ketaatan terhadap syariat sebagai undang-undang dalam kehidupan.

Islam mempermudah, mendukung dan memfasilitasi setiap warga negara yang telah memenuhi rukun dan syarat pernikahan.

Misalnya negara membantu laki-laki untuk membayar sejumlah mahar bagi calon istri.

Negara yang menerapkan sistem Islam tak akan membiarkan warga negaranya menjadi peminta-minta dan fakir baik secara ilmu ataupun harta.

Sehingga negara akan memberikan layanan pendidikan gratis dan berkualitas bagi setiap warga negara, kemudian setelah mereka lulus, siap bekerja di instansi-instansi, perusahaan-perusahaan atau lapangan kerja yang telah disediakan negara.

Dengan demikian, tidak ada lagi kisah buruk sarjana pengangguran dan hal ini tentunya akan menurunkan angka kemiskinan.

Besarnya jumlah penduduk produktif adalah potensi yang luar biasa untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan membangun kemandirian negara yang kuat dan terdepan. Bukankah Rosulullah SAW sangat bangga dengan umatnya yang banyak?

Jumlah penduduk yang besar sangat tentu pulabmembutuhkan pelayanan dan kerja keras untuk membinanya agar potensi tersebut dapat berdaya guna secara tepat untuk kemajuan negara.

Misalnya tersedianya banyak tenaga ahli di usia produktif akan memudahkan negara menjalankan program-program di berbagai bidang; negara tak perlu mencari tenaga ahli dari luar atau memperkerjakan warga negara asing.

Sistem kapitalis terbukti tak mampu meratakan kesejahteraan rakyat karena tak memiliki tanggung jawab yang besar terhadap rakyat.

Sehingga kepentingan rakyat tak menjadi fokus utama dan termarginalkan. Kapitalisme hanya berpihak pada kepentingan para penguasa, elit partai dan pengusaha saja.

Berbeda jauh dengan sistem Islam yang akan meriayah rakyat dengan aturan terbaik (memberlakukan kebijakan yang pro rakyat).

Menjamin kebutuhan rakyat di segala bidang (pendidikan, ekonomi, kesehatan, keamanan dan sebagainya). Islam membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan serta memberikan kualitas pelayanan terbaik.

Kemandirian ekonomi menjadi fokus utama negara. Negara secara serius dan totalitas mengelola harta kepemilikan umum dan negara untuk kepentingan rakyat misalnya tersedianya lapangan kerja yang luas dengan gaji dan upah yang layak bagi rakyat.

Tidak pernah ada sebuah korelasi antara pernikahan dan kemiskinan. Allah SWT telah menjamin rizki tiap-tiap makhluk yang bernyawa.

Menghubung-hubungkan pernikahan dan kemiskinan hanya akan menampakkan bahwa pemerintah tak mampu menjamin kebutuhan ekonomi rakyat terhadap tingginya angka kemiskinan di negeri ini.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − 3 =

Rekomendasi Berita