by

Novi Alfi: Kebohongan Untuk Pencitraan Semata

Novi Alfi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pasca debat kedua terjadi banyak polemik ditengah masyarakat. Karena salah satu capres dianggap berbohong saat debat capres kedua pada beberapa hari lalu, minggu 17 Februari 2019. Banyak poin kebohongan yang disampaikannya dalam debat capres kemarin.
Dilansir dari detik.com (17/2/2019) Jokowi menyampaikan bahwa tidak ada lagi kebakaran hutan dan lahan dalam 3 tahun terakhir. Akan tetapi data yang disampaikan Jokowi ini berbeda dengan data BNPB.
Selain itu dikutip dari teropongsenayan.com (18/2/2019), Jokowi pun juga menyampaikan bahwa tidak ada konflik dengan masyarakat saat pembebasan lahan untuk proyek pembangunan infrasturktur. Seperti berikut 
“Dalam 4,5 tahun terakhir hampir tidak ada konflik dalam pembebasan lahan untuk memuluskan proyek-proyek infrastruktur negara,” ujar Jokowi
Namun, yang disampaikan Jokowi tersebut bertentangan dan bertolah belakang dari fakta yang terdapat di lapangan. (teropongsenayan.com, 18/2/2019)
Dan masih terdapat beberapa fakta yang bertolak belakang dari apa yang disampaikan Jokowi dalam debat kedua capres pada beberapa hari yang lalu. Sikap bohong ini benar-benar tidak patut dicontoh apalagi diteladani oleh masyarakat kalangan apapun.
Sungguh miris dan menyedihkan. Bagaimana tidak, seorang pemimpin yang seharusya dijadikan contoh dan diteladani tindak tanduknya, justru memberikan contoh buruk kepada rakyatnya dengan berbohong.
Selain berbohong dengan fakta yang diungkapkannya dalam debat kemarin, juga terdapat dugaan kecurangan lainnya. Yaitu dugaan menggunakan alat komunikasi saat debat capres kemarin.
Benar-benar berbeda ketika Islam diterapkan dalam sistem Islam beberapa ratus tahun yang lalu. Seorang pemimpin dalam naungan sistem Islam tidak akan melakukan kebohongan kepada rakyatnya sendiri. Seorang pemimpin (khalifah) hanya takut kepada Allah SWT disamping karena ia mengetahui bahwa ia akan dijadikan contoh dan teladan bagi rakyatnya.
Itulah pemimpin yang seharusnya. Tidak seperti sistem demokrasi saat ini yang membolehkan dan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan jabatan semata. Akan tetapi kurang ketaatannya kepada Allah SWT, dan tidak patut dijadikan contoh bagi masyarakat luas. Bagaimana bisa, pemimpin yang seperti akan dipatuhi dan berwibawa dihadapan rakyatnya sendiri? 
Sulit rasanya dapat berwibawa di hadapan rakyatnya sendiri ketika sikap buruk seperti itu yang diandalkan olehnya.
Sebuah kebohongan yang dilakukan berulang kali akan membuat orang jera untuk mempercayainya. Dan juga justru akan membuahkan kerugian bagi dirinya, tidak hanya dirinya, akan tetapi juga keluarganya. Tidak hanya di dunia, akan tetapi juga di akhirat nanti dengan siksaan yang amat pedih. 
Pada awalnya memang menguntungkan, akan tetapi semakin berjalannya waktu kebohongan pasti terkuak.
Tidak ada jalan lain yang dapat memperbaiki kerusakan di negeri ini dengan sempurna, selain penerapan sistem Islam. Hanya penerapan sistem Islamlah yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan negeri ini. Bukan solusi dengan cara berbohong seperti yang diucapkan salah satu calon presiden yang saat ini masih menjadi presiden. Hanya Islamlah solusinya. Wallahu A’lam.[]
Penulis adalah Mahasiswi S1 jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Comment

Rekomendasi Berita