by

Sri Ratna Puri: Mau Cari Apa Lagi?

Sri Ratna Puri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miris bercampur kaget. Saat mengetahui berita, tentang Putusan PN Cibinong mengenai penetapan penggantian jenis kelamin seorang perempuan berinisial PD. Dimana, dia mengajukan penggantian status gendernya (transgender) dari perempuan menjadi laki-laki. (Radar Bogor, 01/02/2019).
Bila dalam sudut pandang para pemuja kebebasan, khususnya pejuang kesetaraan gender (feminis), hal ini adalah bentuk keberhasilan. Mengapa? Sebab, perempuan bisa mengambil keputusan. Tidak ada lagi pembeda antara laki-laki dan perempuan. Semua sama. Semua sejajar. 
Dengan begitu, akan hilang tekanan dan ketertindasan perempuan dalam ikatan pernikahan (terkait talak dan poligami yang ada di tangan suami). Akhirnya perempuan bisa mandiri, baik secara materi dan ekspresi, juga terbebas dari intimidasi. 
Padahal bila dicermati, klaim keberhasilan yang disebutkan diatas, hanya fatamorgana di tengah carut marutnya sistem pergaulan yang ada. Dan lagi-lagi, semua permasalahan berakar dari paham sekuler yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan manusia.
Telah banyak waktu yang dihabiskan, dan  usaha yang dikerahkan. Namun, alih-alih berhasil. Yang ada, bermunculan permasalahan-permasalahan baru, membuat hidup perempuan semakin pilu. Meningkatnya angka perceraian, disorientasi seksual, bertambahnya penderita HIV/AIDS, kasus kriminalitas, dll. Ini menjadi gambaran jelas kegagalan mereka.
Islam menawarkan solusi dari permasalahan ini. Dalam Islam, perempuan dipandang sebagai pasangan laki-laki, yang saling melengkapi. Adakalanya berbeda dalam peranan. Laki-laki wajib bekerja, perempuan sebagai pengatur rumah tangga dan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dalam masalah ekonomi, pemenuhan kebutuhan perempuan ditanggung oleh laki-laki (suami atau wali). Maka, perempuan tidak wajib untuk bekerja. 
Banyak tudingan yang ditujukan pada Islam, ketika terkait dengan pakaian. Kewajiban menutup aurat secara syar’i dianggap sebagai larangan perempuan untuk berekspresi. Ini salah besar. Bagi yang paham dan melihat fakta sekarang. Dimana banyak “penampakan’ perempuan setengah telanjang, pasti akan berkesimpulan bahwa pakaian kurung dan kerudung (jilbab dan khimar) adalah bentuk Islam memuliakan perempuan, menjaga kehormatannya, serta pembeda antara perempuan muslim dan perempuan kafir. 
Mengenai surga, tidak ada yang berbeda. Semua mempunyai hak yang sama, dinilai berdasarkan takwa. Jadi, Islam sudah menempatkan posisi yang pas bagi laki-laki dan perempuan. Masih mau dicari kesetaraan apa lagi?  Wallahu’alam. []

Penulis adalah Penggiat Masyarakat dan Anggota Komunitas Revowriter Bogor dan WCWH.

Comment

Rekomendasi Berita