by

Nur Fitriyah Asri*: Adakah People Power Dalam Islam?

Nur Fitriyah Asri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemilu 2019 sudah usai namun, masih meninggalkan misteri dan menimbulkan keresahan serta ketidakpercayaan di tengah masyarakat. Kedua capres saling mengklaim sebagai pemenangnya. Padahal KPU belum selesai melakukan penghitungan suara dan baru akan diumumkan besuk pada tanggal, 22 Mei 2019. Memang banyak di temukan kecurangan-kecurangan kasat mata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menjadi viral baik di media cetak maupun di media sosial. Disinyalir kecurangan-kecurangan tersebut bersifat TSMB (Terstruktur, Sistematis, Masif, Brutal). Inilah yang membuat suhu politik semakin memanas,  mengarah adanya People Power.
Dilansir oleh TEMPO.CO, Jakarta, 25/4/2019.
Wacana People Power sebelumnya dicetuskan politikus Partai Amanat Nasional, Amien Rais. Ia mengatakan akan mengerahkan massa atau people power untuk turun ke jalan jika mereka menemukan kecurangan dalam pilpres. Amien menuturkan, dia memilih menggerakkan people power ketimbang menggugat hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi. Beliau  menyatakan tak percaya dengan MK. 
Upaya Yusuf Kala dan sejumlah para jenderal dari kubu 01 untuk memanggil, membujuk, dan merayu para ulama dari kubu 02 agar menahan adanya People Power, sepertinya tidak berhasil. Ini menunjukkan adanya tekad mendeligitimasi dan mendiskualifikasi Jokowi. 
Hal Ini disebabkan adanya kejahatan pemilu yang luar biasa. Di mana sebelumnya dipicu pola politik penguasa yang menghalalkan segala cara, untuk mengintimidasi lawan politiknya yang dianggap berseberangan tidak satu langkah dengannya. Sehingga rakyat sudah benar-benar jengah dan sangat marah. Dikuatirkan People Power bisa berakibat jatuhnya banyak korban dari anak bangsa. Korban yang seharusnya tidak perlu ada. Jika terjadi People Power maka betul-betul akan memprihatinkan dan merugikan negara dan bangsa sendiri.
People Power adalah kekuatan rakyat, biasanya digunakan untuk melakukan perubahan dengan menjatuhkan rezim yang ada, lalu menggantikannya dengan rezim yang baru. Perubahan dengan menggunakan kekuatan rakyat ini, bisa digunakan untuk reformasi atau revolusi. Baik untuk mengubah sebagian sistem yang ada maupun  mengubah seluruh sistem yang ada, dengan sistem yang lain sama sekali. 
Dalam sistem demokrasi People Power hanya bermaksud mengganti rezim baru, adapun sistemnya masih tetap yaitu sekularisme. Contohnya, pergantian reformasi yang memakan korban.  Revolusi rakyat sering  menimbulkan kekacauan yang luar biasa, untuk mewujudkan tujuan yang lebih baik justru jauh panggang dari api. Malah memunculkan konflik horizontal yang mengakibatkan perpecahan ditengah masyarakat.
 Karena tidak diikuti oleh perubahan sistem akibatnya,  reformasi menghasilkan kebebasan yang kebablasan. Demikian juga kudeta di Mesir yang menimbukan pertumpahan darah akibat perang antar saudara, dan masih banyak contoh lainnya. Apa mungkin membangun negara dan pemerintahan yang solid, jika rakyatnya terpecah belah? Jadi People Power tidak ada di dalam Islam, justru menyalahi metode penegakan khilafah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Imam al-Qurtubi menyatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban mengangkat khalifah di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali yang diriwayatkan dari al-Asham–yang tuli terhadap syariah” ( Tafsir al-Qurtubi, 1/264)
Metode (thariqah/manhaj) untuk penegakkan khilafah harus mensuritauladani Rasulullah Saw. Sebab setiap perjuangan yang menyimpang akan berakhir dengan kegagalan. Siapapun yang mendalami sirah Nabi Muhammad Saw akan tahu dan menemukan tiga tahapan dalam mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah.
TAHAP PERTAMA: Kaderisasi (tatsqif). Sejak beliau mendapatkan wahyu, ketika Allah menurunkan QS al-Muddatsir ayat 1-2, bergegaslah beliau mengajak masyarakat untuk memeluk Islam. Pertama, menyampaikan kepada istrinya Khadijah ra, sepupunya Ali bin Abi Thalib, maulana Zaid, dan sahabatnya Abu Bakar Ash- Shidiq serta masyarakat secara umum. 
Kemudian ditindaklanjuti untuk dibina di rumah Arqam bin al-Arqam. Di rumah inilah Rasulullah mengajarkan, menggembleng, dan memerintahkan untuk menghafal serta memahami Alquran supaya diamalkan dalam kehidupan. Ada dua hal yang dilakukan Rasulullah yaitu: Pertama: Pembinaan akidah dan syariah, hingga para kader terbentuk kepribadian Islam, di mana pola pikir dan pola sikap hanya berdasarkan Islam. 
Kedua: Membentuk kelompok dakwah yang solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Tidak hanya Nabi saja, tapi semua jamaah melakukan  pembinaan intensif (tatsqif murakkhaz) dengan cara mencari dan membina orang (menyampaikan dakwah) untuk membentuk kader yang berkepribadian Islam dan siap berjuang, menjadi pengemban dakwah. Sekaligus ahli ibadah (muta’abbid), pemikir ( muffakir), dan politisi (siyasi)
TAHAP KE DUA: Membangun Kesadaran Umat (Tafa’ul Ma’al Ummah).
Tidak semua umat dapat dan mau menjadi kader dakwah. Karena itu perlu ditumbuhkan kesadaran kolektif yang pegiatnya adalah para kader dakwah. 
Untuk menumbuhkan kesadaran itu perlu ditempuh beberapa hal secara bersamaan dan secara intensif, yaitu:
1. Pergolakan Pemikiran (ash-Shira’ al Fikri).
 Rasulullah senantiasa melakukan penentangan (pergolakan) pemikiran terhadap gagasan/ide/pandangan yang bertentangan terkait pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis), dan keyakinan (qana’at). Beliau dengan lantang misalnya, mengkritisi tuhan kaum kafir” Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian sembah adalah umpan neraka jahanam (TQS al-Anbiya’: 98).
 Bagaimana dengan saat ini? Dengan menentang dan menjelaskan ide-ide kufur: sekularisme, pluralisme dan liberalisme, juga cabang-cabangnya seperti, demokrasi, Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender dan lainnya. Pergolakan itu harus terus-menerus disampaikan kepada masyarakat hingga memahami mana ide-ide yang kufur hingga mereka tidak mau diatur. Sebaliknya mereka menuntut penerapan syariat Islam. 
2. Perjuangan Politik (al-kifah as siyasi).
Pada jaman Rasulullah Saw, pernah ada realitas mengurangi timbangan sudah menjadi kebiasaan. Allah menurunkan QS al-Muthafifin yang diserukan Rasulullah di tengah masyarakat. Juga adanya kebiasan  menjerumuskan  budak wanita dalam pelacuran (sekarang semacam trafficking), oleh Nabi disikapi dengan menyampaikan QS an-Nur: 24,  dan masih banyak peristiwa yang lain.
 Bagaimana dengan saat ini? Setiap peristiwa politik kekinian yang bertentangan dengan Islam dan merugikan umat, kelompok Islam  harus melakukan kifah siyasi, dengan menjelaskan bahaya dan kerugian yang akan diderita umat serta pertentangannya dengan syariah, melalui berbagai forum, disampaikan kepada penguasa dan lembaga-lembaga yang berkopenten. Peristiwa politik itu ketika negara menaikkan TDL, BBM, mensahkan RUU Kelistrikan, RUU Migas, RUU Penanaman Modal, RUU Sumberdaya Air dan lainnya. Juga peristiwa politik internasional. Penyampaianya bisa dengan tulisan, buletin, pers liris, audiensi dan masirah (demontrasi damai), diharapkan masyarakat sedikit demi sedikit akan tersadarkan.
3. Membongkar Rencana Jahat Kaum Kafir (kasyf al- khuthath). 
Rasulullah sering menyampaikan wahyu terkait rencana jahat kaum kafir, seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Walid ibn Mughirah. Membongkar rencana jahat dalam QS al- Mudatstsir: 18-26.
Bagaimana dalam upaya penegakkan khilafah? Penting membongkar makar negara kafir imperialis dan anteknya. Tujuannya untuk membebaskan mereka dari penjajahan.
TAHAP KE TIGA: Istilam al-Hukmi. Rasulullah Saw   selain aktif mendakwahi kabilah-kabilah di Mekah juga kabilah yang berada di luar Mekah. Baik yang datang untuk berdagang maupun untuk beribadah. Dakwah Rasulullah Saw ada kalanya mendapatkan pertentangan yang keras, ada yang dengan bersyarat dan semuanya tidak menggoyahkan Rasulullah Saw. Ada pula yang berasal dari Madinah, mereka adalah para pemilik kekuatan di sana, yang kelak menjadi ahlun nushrah bagi Nabi Saw.
Thalab an-Nusrah adalah memobilasi dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang mempunyai kekuasaan riil di tengah-tengah masyarakat (militer, ormas-ormas Islam dll.). Tentu setelah menerima dakwah Islam,  untuk meraih dua tujuan:
1. Himayyah (perlindungan terhadap pengemban dakwah) sehingga mereka tetap bisa mengemban dakwah.
2. Sebagai perantara untuk mewujudkan kekuasaan dalam rangka menegakkan kembali khilafah dan menerapkan aturan Islam. 
Ketika umat tidak percaya lagi kepada penguasa, umat dominan menginginkan syariah dan khilafah tegak,  menuntut penguasa agar menegakkan khilafah atau mundur. Kemudian terjadilah kavakuman kekuasaan. Di saat itu tokoh-tokoh berbagai daerah, kalangan dan organisasi membentuk semacam ahlul halli wal’aqdi untuk membaiat khalifah. Jika penguasa tidak mau menyerahkan kekuasaannya dan menghadapi rakyat pemilik kekuasaan dengan kekerasan, maka disinilah pentingnya dukungan pemilik kekuatan (ahlul quwwah, ahlun nushrah) terhadap dakwah. 
Oleh sebab itu, sejak awal perlu dukungan ahlun nushrah. Dengan adanya dukungan ahlun nushrah penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai. Begitulah yang dilakukan Nabi saat menegakkan pemerintahan di Madinah.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Methode penegakkan khilafah semata-mata hanya meneladani dakwah Rasulullah, tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah. Bukan dengan People Power. Rasulullah berhasil menegakkan Daulah Islamiyyah di Madinah al Munawarah. Dan dengan begitu kita akan berhasil menegakkan khilafah kembali, karena itu janji Allah (QS an-Nur 55) dan bisyarah Rasulullah (HR Ahmad).Wallahu a’lam bish shaawab.[]

Nur Fitriyah Asri:  Penulis Buku Opini Akademi Menulis Kreatif

* diambil dari beberapa sumber (termasuk al-waie).

Comment

Rekomendasi Berita