Nur Fitriyah Asri: Uighur Telah Memanggil Kami Untuk Peduli

Berita961 Views
Nur Fitriah Asri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jum’at, 28 Desember 2018, kami kaum muslimin dan muslimat memenuhi undangan dari Aliansi Muslim Bela Uyghur – Jember. Untuk bersama-sama mengadakan Aksi Bela Muslim Uyghur yang bertempat di perempatan Jln Jawa-Jln Sumatra depan DPRD Jember, yang dihadiri oleh ratusan orang dari semua komunitas tidak terkecuali emak-emak yang membawa anak.
Panji Rasulullah Ar Roya dan Al Liwa, serta topi tauhid ikut menyemarakkan suasana. Membuat jalinan ukhuwah semakin erat, menambah kuatnya akidah.Tak tertinggal, saya pun ikut bangga menjadi bagian dari aksi  solidaritas membela saudaranya yang mengalami penderitan, penyiksaan dan pembunuhan yang begitu sadis dan biadab.
Saat khidmad mendengarkan orasi, ada seorang ibu yang menghampiri saya dan berkata bahwa ada ibu yang menggendong anak membawa Al Liwa diintimidasi oleh polisi supaya menggulung benderanya, tapi ibu itu tidak mau.
Ma syaa Allah, ibu tersebut yang  telah berani menolak  dan tetap mengibarkan Al Liwa telah mencuri perhatian saya, ada rasa kagum dan tertarik serta berkeinginan untuk mengabadikannya melalui tulisan. Ingin mengetahui lebih jauh karena membuat saya semakin penasaran, betapa tidak ada emak-emak yang bermental baja berakidah luar biasa, yang jarang dimiliki oleh manusia di jaman now.
Tidak etis rasanya kalau mencuri fotonya, apa salahnya saya dekati untuk mengetahui dan mengklarifikasi info yang saya peroleh. Ternyata ibu yang menggendong anak itu bernama Ummu Hamasa dari Banyuwangi. Maa syaa Allah jauh sekali. Saya klarifikasi kepada beliau ternyata benar.
Kemudian Ummu Hamasa berceritera kalau didatangi polwan,  disuruh menggulung bendera. Saya tolak dengan balik bertanya ” Apa ada yang salah dengan bendera ini? kata polwan ” ya tidak ada yang salah”.
Kalau tidak ada yang salah kenapa harus diturunin? Tanya ummu hamasa. Untuk keamanan diri mbak.
“Bukankah ibu disini ditugaskan untuk menjaga keamanan, kenapa kita yang diminta menjaga keamanan sendiri?
Pernyataan Ummu Hamasa benar-benar telak dan menohok,  membuat polwan itu diam seribu bahasa.
Ternyata kejadian itu tidak hanya dialami oleh Ummu Hamasa tapi juga dialami oleh ibu-ibu yang lainnya, yang dilakukan oleh polisi bahkan ada yang berpakaian sipil (biasa). Sempat kusindir dengan bertanya kesalah seorang polisi “Banyak banget pak polisinya? Iya bu karena setiap polsek diminta menerjunkan 5 personel. Jadi berapa dong pak jumlahnya? Ya tinggal dikalikan saja 5 × 31 = 155 personil. Wow terkesan sekali kalau ketakutan. Takut sama siapa ya? Apa ada pihak-pihak yang mengintimidasi?
Maa syaa Allah Ummu Hamasa sosok emak-emak yang patut dibanggakan dan patut dijadikan teladan, karena hanya takut pada Allah. Membuat saya berdecak kagum, melihat keberaniannya yang luar biasa, menunjukkan akidahnya yang kokoh, hebat. Sosok perempuan pejuang dan pencetak generasi cemerlang.
Memang selayaknya kita agungkan bendera Rosulullah, bendera yang bertuliskan kalimat La ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Bendera pemersatu umat Islam sedunia, dengannya kita berislam, dengannya kita mulia dan dengannyapula  kita mati.
Rasa cinta dan peduli terhadap saudara seakidah itulah yang bisa menghimpun kami untuk menunjukkan kepedulian dan bela saudaranya, walaupun hanya sebatas menyampaikan aspirasi, kepada penguasa yang tidak lagi mau peduli dengan penderitaan saudaranya. 
Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat 10. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Persaudaraan itu ibarat satu tubuh, jika ada salah satu bagian tubuh yang sakit, maka semua tubuh akan merasakan sakit.  Bersyukur saya masih diberi hati untuk peduli terhadap penderitaan saudaranya, tanda kita masih memiliki iman. Alhamdulillah.
Wahai saudara-saudaraku di Palestina, Suriah, Uganda, Somalia dan Uighur di Cina. Bersabarlah, bertahanlah, berjuanglah. Jangan berharap akan  pertolongan dari penguasa-penguasa boneka, mereka Islam tetapi sesungguhnya mereka adalah antek-antek kafir penjajah.
Kami tidak akan tinggal diam, kami akan terus berjuang merapatkan barisan, emak-emak militan tidak ketinggalan. Kami akan berjuang demi  tegaknya Khilafah. Karena hanya dengan Khilafah semua bentuk penjajahan akan enyah di muka bumi ini. Khilafah adalah ajaran Islam. Pasti Tegak. Wallahu ‘alam bish shawab.[]

Penulis adalah Member Akademi Menulis Kreatif, Jember dan telah menulis buku ” Senja di Jalan Dakwah”

Comment