by

Nurhidayat Syamsir*: Gurita Kapitalis Mencengkeram Negeri

Nurhidayat Syamsir
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belakangan ini, linimasa ruang publik didominasi oleh tanggapan tentang film dokumenter “Sexy Killers” yang menuai kisruh. Mongabay.co.id- Mengatakan, masalah muncul dari hulu ke hilir. Banyak konsesi batubara yang memiliki perusahaan berada dekat dengan pemukiman maupun lahan pertanian warga. Praktis mengambil lahan pertanian dan perkebunan, serta tempat hidup warga. Seperti yang terjadi di kota Samarinda, Kalimantan Timur. 
Hidup bertetangga dengan tambang batubara memunculkan banyak masalah. Seperti air bersih yang langka maupun sawah yang tercemari. Wilayah pertanian kurang produktif sampai polusi udara karena debu lalu lintas pengangkutan. Selain itu, lubang tambang yang menganga bahkan ada yang ditinggal begitu saja oleh perusahaan, menyebabkan setidaknya 32 orang (kebanyakan anak-anak) meninggal dunia (16 April 2019).
Realita Tambang: Dari Rakyat, Untuk Pengusaha, Dikatalisasi Oleh Penguasa
Cerita tentang kebutuhan akan penerangan (Sumber listrik) ternyata menyisakan duka di tengah masifnya pengelolaan sumber daya alam (SDA) di negeri Indonesia. Pasalnya, aktivitas pertambangan batubara menimbulkan penderitaan warga yang dekat dengan wilayah tersebut.
Tidak berlebihan memang, jika negeri ini dijuluki ‘Tanah Surga’ lantaran memiliki kekayaan SDA yang melimpah ruah. Tak hanya emas, mineral lain seperti perak, tembaga, nikel, dan batubara pun melimpah di Indonesia. Volume hasil tambang inipun dia sebut selalu masuk 10 besar dunia, Ujar Praktisi Eksplorasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Adi Maryonodi. Jakarta, Kompas.com- Selasa (15/5/2018).
Siapa sangka, kekayaan alam tak selalu berpihak pada yang empunya negeri. Hasil dari pengelolaan SDA semestinya untuk kepentingan rakyat demi menopang kesejahteraan yang dikehendaki. Nihil nian, jauh panggang dari api, tambang batubara atas nama hajat publik ternyata dibekingi kepentingan diatas kegentingan.
Fakta petahana dan lawan debat capres 17 Februari 2019 lalu, memberikan simpulan acuh tak acuh keduanya untuk membahas kongkrit mengenai korban lubang tambang. Riset tim dokumenter menemukan, baik tim Jokowi maupun Prabowo, punya kepentingan sama dalam industri batubara (Mongabay.co.id, 16 April 2019).
Pengelolaan SDA dalam sistem politik Demokrasi dan sistem ekonomi Kapitalisme, tak ubahnya ‘dari rakyat, untuk pengusaha dan dikatalisasi oleh penguasa’. Bagaimana tidak, hajat publik dijadikan dalih untuk beroperasi, yang mengambil aksi adalah pengusaha (pemilik modal) dan di setujui oleh penguasa.
Politik Demokrasi berpedoman pada segala pengurusan yang berasaskan kebebasan. Keadaan tambang batubara sangat jelas adanya kebebasan kepemilikan oleh siapapun yang bermodal. Kebebasan hak milik diatas stempel kapitalisme. Inipula bukti kemelut ekonomi kapitalisme yang siap diterima negeri kaya akan SDA. Sistem ekonomi ini memandang segala sesuatu bergantung atas asas kepentingan yang orientasinya peraihan materi (uang) sebanyak-banyaknya. 
Alhasil, dampak penerapan sistem politik Demokrasi dan ekonomi Kapitalisme yakni keberlangsungan penjajahan yang melanggengkan kedzoliman. Negeri dengan keyakinan standar kebahagiaan berupa materi (modal) akan mudah dimodali (dikuasai). Sedang imbasnya diterima oleh rakyat. Wilayah bekas galian tambang justeru mengorbankan nyawa warga.
Islam Dalam Mengelola SDA
Sebagai agama yang paripurna, Islam memiliki pandangan sendiri mengenai pengelolaan SDA. Yang tentu saja berbeda dengan Kapitalisme saat ini. Dikatakan, pengelolaan SDA wajib dilaksanakan oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Ketakwaan pemimpin yang jauh dari asas kepentingan materi. Ditambah dengan ketatnya sistem Islam dalam mengelola SDA akan mengantarkan pada kesejahteraan sesungguhnya.
Dalam salah satu asas ekonomi Islam, yakni kepemilikan, barang tambang dikategorikan sebagai kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai per individu, baik pribumi maupun asing. Barang tambang yang dimaksud yakni yang memiliki deposit tidak terbatas, atau memiliki jumlah yang sangat banyak. 
Dalilnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abyadh bin Hamal al-Mazini, bahwa Abyadh telah meminta kepada Rasul saw untuk mengelola tambang garam. Lalu Rasulullah memberikannya. Setelah ia pergi, ada seseorang yang berkata kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, tahukah engkau apa yang telah engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir.” Rasul kemudian berkata, “Tariklah kembali tambang tersebut darinya.”
Rasul bersikap demikian karena sesungguhnya garam adalah barang tambang seperti air mengalir (yang tidak terbatas depositnya).
Dari sini terlihat jelas jika Islam mencegah penguasaan SDA yang melimpah oleh individu. Tidak seperti saat ini, dimana gurita kapitalis baik dari pihak pribumi maupun asing betul-betul mencengkeram semua potensi terbaik negeri. Hal yang tak lepas dari peran sistem kufur yang diterapkan saat ini. Sehingga, jika realitas penerapan sistem Demokrasi hanya menimbulkan kesengsaraan semata, bagaimana bisa pemerintah masih mempertahankannya? Bukankah sudah saatnya sistem tersebut diganti dengan aturan yang lebih baik (Islam)? Wallahua’lam bi ash-shawab.[]

*Mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan UHO

Comment

Rekomendasi Berita