Optimalisasi e-Learning Berbasis AI, Tim UIA Perkuat Kompetensi Guru SMPN 35 Bekasi Hadapi Generasi Alpha

Pendidikan41 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, BEKASI — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perubahan besar dalam dunia pendidikan. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran.

Menjawab tantangan itu, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) melaksanakan program Smart-Early Steps di SMPN 35 Kota Bekasi.

Program yang didanai Kemendikti Saintek Berdampak 2026 ini berlangsung selama delapan bulan dengan tujuan memperkuat kompetensi pedagogis digital guru melalui pemanfaatan AI secara kontekstual, etis, dan berkelanjutan.

Program dipimpin oleh Dr. Khasanah, S.Pd., M.Pd. dengan anggota Dr. Syarifah, M.Pd. dan Nurul Fajri, M.Pd. Menurut tim pelaksana, peningkatan kemampuan guru menjadi kunci keberhasilan transformasi pembelajaran di era digital.

Kesiapan Guru Masih Menjadi Tantangan

Analisis awal menunjukkan SMPN 35 Kota Bekasi telah memiliki laboratorium komputer dan akses internet yang memadai. Namun, kesiapan guru dalam memanfaatkan AI belum sebanding dengan ketersediaan infrastruktur tersebut.

Di sisi lain, siswa yang didominasi Generasi Alpha memiliki kemampuan menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, tetapi belum sepenuhnya diarahkan untuk mendukung proses belajar.

“Hambatan utama bukan terletak pada ketersediaan perangkat, melainkan pada kompetensi pedagogis digital guru. Integrasi AI yang berhasil sangat bergantung pada kemampuan guru merancang pembelajaran yang personal, memfasilitasi interaksi, dan mengevaluasi pembelajaran berbasis AI secara bijak,” ujar Dr. Syarifah.

Pelatihan Berbasis Kolaborasi

Program ini menerapkan pendekatan Participatory Technological Development (PTD). Guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga terlibat sejak tahap identifikasi kebutuhan, penyusunan modul, simulasi, hingga evaluasi berbasis refleksi.

Tim PKM mengembangkan alur kerja terpadu menggunakan empat platform AI, yakni Teachy.ai untuk penyusunan modul ajar, ChatGPT Plus sebagai pendukung pengembangan materi dan asesmen, Canva Pro AI untuk pembuatan media pembelajaran visual, serta Wordwall Pro sebagai sarana asesmen berbasis gim.

Sebelum pelaksanaan, tim PKM berkoordinasi dengan manajemen sekolah dan memperoleh persetujuan dari 30 guru yang menjadi peserta pelatihan selama lima hari.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan, terutama setelah sekolah memperoleh dukungan penggunaan aplikasi premium tersebut. Para guru mengaku lebih mudah menyusun perangkat pembelajaran, media ajar, hingga instrumen evaluasi berbasis AI.

Waktu Penyusunan Materi Berkurang Drastis

Evaluasi program menunjukkan pemanfaatan ekosistem AI mampu meningkatkan efisiensi kerja guru. Waktu yang sebelumnya dibutuhkan sekitar 14 jam untuk menyiapkan satu unit pembelajaran berkurang menjadi sekitar 45 menit.

Efisiensi tersebut turut menekan beban administrasi rutin hingga sekitar 65 persen. Dengan demikian, guru memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan pendampingan individual kepada siswa serta meningkatkan kualitas interaksi di dalam kelas.

Berdasarkan kerangka Competency Framework for Teachers UNESCO, skor kompetensi pedagogis digital guru meningkat dari 53,25 persen sebelum pelatihan menjadi 71 persen setelah program berlangsung.

Peningkatan kompetensi meliputi literasi digital pedagogis, perencanaan pembelajaran berbasis AI, personalisasi materi ajar, pengembangan media digital, pelaksanaan asesmen interaktif, hingga pemahaman etika penggunaan AI, termasuk perlindungan data pribadi dan integritas akademik.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 35 Kota Bekasi, Fajri, mengatakan sebanyak 28 dari 30 guru atau 93,3 persen peserta telah mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI yang memenuhi standar pedagogis.

Monitoring Tunjukkan AI Mulai Diterapkan di Kelas

Ketua tim PKM, Dr. Khasanah, mengatakan hasil monitoring pada 21 Juli 2026 menunjukkan guru mulai menerapkan teknologi AI dalam proses pembelajaran.

Tim melakukan observasi terhadap lima guru yang telah memanfaatkan modul, media pembelajaran, dan perangkat ajar berbasis AI sesuai materi pelatihan.

“Monitoring menunjukkan guru telah mampu mengimplementasikan teknologi digital berbasis AI dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini menjadi indikator bahwa pelatihan tidak berhenti pada aspek teori, tetapi benar-benar diterapkan di ruang kelas,” kata Khasanah.

Bentuk Komunitas Belajar

Untuk menjaga keberlanjutan program, SMPN 35 Kota Bekasi membentuk Professional Learning Community (PLC) atau Komunitas Belajar Guru.

Sebanyak 30 guru peserta pelatihan ditugaskan sebagai mentor sebaya yang akan mendampingi rekan-rekan guru lainnya dalam mengembangkan pembelajaran berbasis AI.

Selain itu, sekolah mulai memasukkan praktik pembelajaran berbasis AI ke dalam panduan operasional internal. Langkah tersebut diharapkan menjadikan pemanfaatan AI sebagai bagian dari budaya mutu sekolah, bukan sekadar proyek jangka pendek.

Melalui program Smart-Early Steps, tim PKM UIA berharap transformasi digital di lingkungan sekolah dapat berlangsung secara sistematis, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran bagi Generasi Alpha.[]

Comment