Penulis: Nayla Nathania dan Shiera Kalisha | Mahasiswa Psikologi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Kasus genosida besar-besaran yang terjadi di Palestina hingga kini masih terus berlangsung. Israel seolah tidak memberi ruang bagi warga Palestina untuk hidup dengan tenang, bahkan sekadar beristirahat.
Gencatan senjata yang berkali-kali diumumkan pun terbukti tidak mampu menghentikan kekerasan. Militer Israel tetap melancarkan serangan terhadap warga sipil, khususnya di Jalur Gaza, meskipun status “gencatan senjata” telah diberlakukan.
Laman METROTV (5/6/2026) melaporkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, militer Israel masih membunuh sedikitnya 947 warga Palestina dan melukai 2.935 orang lainnya.
Penderitaan warga Gaza tidak berhenti pada serangan bersenjata. Ancaman kelaparan kini menjadi tragedi kemanusiaan berikutnya.
Sebagaimana dilaporkan Al Jazeera (24/4/2026), berdasarkan klasifikasi Integrated Food Security Phase Classification (IPC), suatu wilayah dinyatakan mengalami kelaparan apabila sedikitnya 20 persen rumah tangga menghadapi kekurangan pangan ekstrem, lebih dari 30 persen penduduk mengalami malnutrisi akut, serta angka kematian akibat kelaparan melebihi dua orang per 10.000 penduduk setiap hari.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Jalur Gaza menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Sekitar 640.700 orang atau sekitar 32 persen dari total penduduknya menghadapi kondisi kelaparan ekstrem. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia.
Sementara itu, dilaporkan METROTV (5/6/2026), data otoritas Palestina menunjukkan bahwa agresi Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan hampir 73.000 orang dan melukai lebih dari 173.000 lainnya.
Sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Namun, kematian puluhan ribu warga sipil di Palestina sering kali hanya menjadi deretan angka di layar gawai kita.
Padahal, statistik tersebut hanyalah puncak gunung es dari tragedi kemanusiaan yang jauh lebih besar. Di balik angka-angka itu, terdapat epidemi gangguan kesehatan mental yang secara perlahan menghancurkan satu generasi.
Inilah sebabnya mengapa isu Palestina bukan sekadar konflik perebutan wilayah, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyangkut masa depan manusia itu sendiri.
Kehancuran Psikologis: Melampaui PTSD
Bagi anak-anak di Gaza, rasa takut bukan lagi emosi yang datang sesekali. Ketakutan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa agresi berkepanjangan telah menciptakan kondisi kesehatan mental anak-anak Palestina sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Di Kamp Pengungsian Jabalia, prevalensi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) bahkan mencapai 73,8 persen.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori Trauma Kompleks yang dikembangkan oleh Van der Kolk. Berbeda dengan trauma akibat satu peristiwa, trauma kompleks muncul karena paparan kekerasan yang terus-menerus selama masa pertumbuhan anak.
Akibatnya, banyak anak mengalami gangguan fisik maupun psikologis, mulai dari mengompol, agresivitas, insomnia, hingga kehilangan kemampuan membayangkan masa depan.
Mereka tidak lagi bercita-cita menjadi dokter atau insinyur. Sebaliknya, sebagian hanya berharap menjadi penarik kereta keledai karena itulah realitas bertahan hidup yang mereka saksikan setiap hari.
Runtuhnya Ekosistem Pelindung Anak
Trauma yang dialami anak-anak Palestina tidak berdiri sendiri. Luka tersebut muncul akibat runtuhnya seluruh sistem perlindungan yang seharusnya menopang kehidupan mereka.
Melalui pendekatan Social Ecological Model, kerusakan itu dapat dilihat pada berbagai lapisan kehidupan.
Pada tingkat interpersonal, keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama justru ikut hancur. Diperkirakan sekitar 17.000 anak kehilangan orang tua atau terpisah dari keluarganya sehingga kehilangan sumber rasa aman dan dukungan emosional.
Pada tingkat komunitas, sekolah yang semestinya menjadi tempat berlindung justru menjadi sasaran serangan. Akibatnya, lebih dari 84.000 pelajar kehilangan akses pendidikan yang stabil sehingga perkembangan intelektual dan sosial mereka ikut terganggu.
Sementara pada tingkat struktural, blokade yang berlangsung selama 17 tahun telah mengubah Gaza menjadi “penjara terbuka” yang membatasi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental, pangan, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Sumud”: Keteguhan di Tengah Reruntuhan
Di tengah kehancuran tersebut, masyarakat Palestina tetap menunjukkan daya tahan luar biasa melalui konsep Sumud, yakni keteguhan hati dan ketahanan kolektif dalam menghadapi penindasan.
Dalam perspektif psikologi, teori resiliensi menjelaskan bahwa identitas budaya dan spiritualitas menjadi faktor penting dalam proses pemulihan trauma.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa program dukungan psikososial yang mengintegrasikan budaya lokal serta melibatkan komunitas mampu meningkatkan efektivitas pemulihan hingga 43 persen.
Di tengah keterbatasan akses internet, ancaman bom, dan kondisi yang serba sulit, para orang tua Palestina tetap berusaha menghadirkan hiburan, rasa aman, dan strategi koping bagi anak-anak mereka.
Upaya sederhana tersebut sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling kuat, yakni mempertahankan kewarasan generasi penerus di tengah situasi yang tidak manusiawi.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa penghentian serangan militer hanyalah langkah awal. Perdamaian sejati tidak akan pernah terwujud tanpa rekonstruksi psikologis jangka panjang bagi generasi Palestina.
Dunia kini sedang menyaksikan lahirnya sebuah “generasi yang hilang” yang tumbuh dalam bayang-bayang trauma sistematis. Membiarkan luka ini terus berlangsung bukan hanya kegagalan politik, tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
Palestina menjadi penting karena di sanalah nurani, empati, dan keimanan manusia sedang diuji.[]











Comment