Panic Buying BBM dan Rapuhnya Kedaulatan Energi Indonesia

Opini704 Views

Penulis: Della Amelia Pasha | Aktivis Remaja

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Memanasnya konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah. Konflik geopolitik tersebut juga memicu gejolak energi global yang merambat hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu dampak yang mulai terasa adalah munculnya fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi Indonesia masih sangat rentan terhadap dinamika konflik internasional.
Panic Buying dan Ancaman Kelangkaan BBM
Seperti dilaporkan CNNIndonesia.com pada 5 Maret 2026, penutupan jalur perdagangan minyak dan gas (migas) di Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi global. Ketika distribusi minyak terganggu, pasar energi dunia pun langsung bergejolak.
Akibatnya, fenomena panic buying BBM terjadi di sejumlah negara seperti Korea Selatan, Sri Lanka, Australia, Inggris, Jerman, hingga Indonesia. Kekhawatiran akan kelangkaan bahan bakar membuat masyarakat berbondong-bondong membeli BBM dalam jumlah besar.
Di Indonesia sendiri, fenomena ini mulai terlihat di beberapa wilayah seperti Medan, Aceh, dan Jember. Pembelian BBM secara berlebihan menimbulkan ketidakseimbangan distribusi dan berpotensi memicu kelangkaan di sejumlah daerah.
Seperti diberitakan Detik.com pada 6 Maret 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk tetap tenang. Ia menegaskan bahwa stok BBM nasional masih berada dalam kondisi aman. Menurutnya, standar minimal cadangan BBM nasional adalah sekitar 20 hari, sementara ketersediaan saat ini mencapai sekitar 23 hari.
Meski demikian, kepanikan publik menunjukkan adanya kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas pasokan energi. Kekhawatiran ini tidak muncul tanpa alasan, mengingat BBM merupakan komoditas strategis yang menopang hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketergantungan Energi dan Sistem Kapitalisme Global

Data menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi. Produksi minyak nasional terus menurun dalam dua dekade terakhir, sementara kebutuhan energi domestik terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
Ketergantungan ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak pasar energi global.

Ketika terjadi konflik internasional atau gangguan jalur distribusi minyak dunia, dampaknya langsung terasa pada stabilitas energi nasional.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalisme global yang menempatkan energi sebagai komoditas ekonomi dan alat geopolitik.

Negara-negara besar berlomba menguasai sumber daya energi, sementara negara berkembang sering kali hanya menjadi pasar sekaligus pemasok bahan mentah.

Akibatnya, banyak negara kaya sumber daya alam justru tidak memiliki kedaulatan energi. Mereka tetap bergantung pada impor, teknologi asing, serta mekanisme pasar global yang mudah bergejolak.

Urgensi Kedaulatan Energi

Peristiwa panic buying BBM yang terjadi saat ini seharusnya menjadi peringatan penting bagi Indonesia tentang urgensi kedaulatan energi. Negara yang tidak mandiri dalam pengelolaan energi akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap krisis global.

Dalam pandangan Islam, sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas, dan tambang termasuk dalam kepemilikan umum yang harus dikelola negara untuk kepentingan rakyat.

Pengelolaannya tidak boleh diserahkan kepada individu atau korporasi yang hanya berorientasi pada keuntungan.

Negara berkewajiban mengelola sumber daya alam secara mandiri, mengoptimalkan produksi dalam negeri, serta memastikan distribusinya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Negara juga akan memprioritaskan kebutuhan domestik sebelum melakukan ekspor atau kerja sama dengan pihak luar.

Dengan kebijakan seperti ini, ketergantungan terhadap negara lain dapat diminimalkan. Negara akan memiliki cadangan energi yang cukup serta sistem distribusi yang stabil, sehingga masyarakat tidak perlu diliputi kepanikan ketika terjadi krisis energi global.

Pada akhirnya, umat Islam perlu menyadari bahwa negeri-negeri muslim memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah.

Kekayaan tersebut seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir pihak atau bahkan dikuasai oleh kekuatan asing.

Penjajahan ekonomi melalui penguasaan sumber daya alam harus dihentikan. Umat tidak boleh terus terjebak dalam kemiskinan di tengah limpahan kekayaan alam yang dimiliki.

Karena itu, penerapan syariat Islam secara menyeluruh diyakini sebagai jalan untuk mewujudkan kedaulatan energi sekaligus membebaskan umat dari dominasi kapitalisme global.
Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment