by

Pannindya Surya Rahma Sari Puspita: Janji Palsu Penguasa

  Pannindya Surya Rahma Sari Puspita
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menjelang pemilu capres dan cawapres yang akan dilaksanakan pada bulan april mendatang, menjadi cerita baru untuk negeri ini diawal tahun 2019, mulai dari aktivitas kampanye besar besaran antara kubu Jokowi dengan Prabowo, memasang atribut seperti baliho bahkan menciptakan slogan slogan yang dapat memantik semangat pemilu ditengah tengah masyarakat Indonesia. 
Slogan ‘Indonesia Maju’ yang digaungkan pasangan calon presiden Joko Widodo-Maruf Amin merupakan sebuah wujud optimisme. Demikian disampaikan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Erick Thohir dalam Konvensi Rakyat yang mengangkat tema ‘Optimis Indonesia Maju’ di Sentul Internasional Convention Center, Minggu (24/2). “Indonesia maju bukan hanya slogan. Indonesia maju adalah wujud optimisme. 
Sebuah tranformasi dari harapan besar bangsa Indonesia,” ujarnya. Bukan hanya kisruh permasalahan slogan Indonesia Maju saja,namun negeri ini pun kembali dikisruhkan dengan pidato Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin mengatakan untuk memenangkan pemilihan presiden 2019 perlu memiliki modal besar.”Untuk Indonesia maju, kita harus menang. 
Untuk menang, kita harus memiliki modal besar,” kata Mairuf Amin saat pidato sebelum membacakan doa penutup pidato kebangsaan calon Presiden Joko Widodo dalam acara Konvensi Rakyat bertema Optimis Indonesia Maju di International Convention Center, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (24/2/2019).Dalam pidatonya, Ma’ruf menjelaskan pendapatnya kenapa dia dan Jokowi harus memenangkan Pemilihan Presiden 2019.Modal yang dimaksud Ma’ruf bukan uang melainkan hasil kerja pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. 
Ma’ruf mengatakan, Jokowi-JK sudah meletakkan dasar pembangunan yang kuat.Ma’ruf menyebut dirinya akan membantu Jokowi memperbesar manfaat program-program yang sudah dibuat Jokowi-JK.
Lagi dan lagi kisah pemilu tak akan terlepas dari persoalan janji capres dan cawapres untuk negeri ini, hal itu seperti kaset yang berulang kali diputar namun tetap dalam kondisi dan situasi yang sama statis tanpa adanya perubahan. Andai saja janji janji itu mampu ditampung dalam sebuah wadah yang besar pasti akan melebihi batas wadah itu, mengapa bisa? Karena sudah 6 kali pergantia presiden namun tak ada bukti nyata yang mampu mereka ciptakan dinegeri ini. 
Mereka hanya berperan sebagai penjanji namun bukan Seagai orang yang bertanggung jawab untuk merealisasikan janji janji itu. Mulai dari pemberantasan kemiskinan, bobroknya pendidikan, minimnya tingkah laku generasi muda, menciptakan lapangan kerja bagi WNI dan perbaikan infrastruktur negara, nyatanya tak ada satupun yang mampu diwujudkan, harga sandang, pangan dan papan kian meningkat, harga pendidikan kian melangit, generasi muda mulai terbius dengan permainan dunia sehingga banyak tindakan kriminal yang tak sedikit pelakunya berasal dari kalangan muda mudi negeri ini, dan terakhir kalinya kekecewaan masyarakat kian bertambah ketika lapangan kerja yang tercipta nyatanya bukan diperuntukkan warga pribumi melainkan warga negara asing. 
Janji mana lagi yang mau terus menerus dilontarkan bila tak ada bukti konkret untuk negeri ini. Katanya demokrasi adalah kebebasan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, namun disi mananya rakyat mendapatkan bagiannya, dari tahun ke tahun justru rakyat semakin tersiksa rasanya hak rakyat pun mereka tak punya. Beginilah kisah duka nan pilu bila hidup terus menerus dibawah atap dan beralaskan demokrasi kapitalisme. 
Janji yang seharusnya ditepati malah justru diingkari, program program kerja yang harusnya terlaksana justru terbengkalai begitu saja, keterpurukan rakyat seperti kutukan yang tak ada habisnya diciptakan oleh sistem ini, yang kaya raya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Seharusnya yang menjadi modal besar kita dalam perubahan ini bukanlah mempertahankan sesuatu yang sudah jelas terlihat kerusakannya, bukan dengan tetap menjaga sistem yang sudah terlahir dengan keadaan cacat, yang kita butuhkan adalah institusi yang sempurna, yang tak nampak satu titik kecacatannya dan tak terawang sisi kerusakannya. 
Modal besar kita dalam perubahan bukan menciptakan program kerja yang baru dalam bingkai sistem demokrasi, tapi modal besar kita adalah kembali kepada hakikat dan jati diri kita sebagai muslim, kembalilah kepada hukum Alla yang bersumber dari al quran dan as sunnah. 
Hanya sistem islam yang mampu menjadi rahmatan lil alamin, hany dengaj sistem islam lah para pemimpin akan menepati janji janjinya dan hanya islamlah yang mampu mengembalikn kondisi umat dari sengsara menjadi sejahtera, dan terlepas dari rantai keterpurukan yang mengikat di negeri ini. Dan hanya dengan khilafahlah satu satunya institusi yang mampu menerapkan islam di tengah tengah umat.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN SMH Banten

Comment

Rekomendasi Berita