by

Suhaeni, M.Si: Remaja Dilan (da) Dilan II

Suhaeni, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Kalo aku jadi Presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, maaf aku tidak bisa. Karena aku hanya mencintai Milea.” Kurang lebih itulah sepenggal rayuan maut yang dilancarkan Dilan. Remaja SMA kepada pujaan hatinya bernama Milea. 
Film besutan Fajar Bustomy ini kembali membuat viral jagat perfilman. Film yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq ini aromanya tetap sama dengan Dilan 1990. Tidak jauh dari aroma pendewaan terhadap syahwat. 
Banyak yang bilang film bergenre remaja yang tengah viral ini unik. Katanya, keunikan tersebut terlihat dari keromantisan ala Dilan. Siapapun yang menyaksikan sosok Dilan meleleh dibuatnya.
Ketahuilah Gaes, ini adalah bujuk rayu setan yang membius iman. Kecerdasasan sosok Dilan yang ditunjukkan dalam film ini juga tidak lebih hanyalah kamuflase dari pemuda yang dangkal ilmu agama. Karena pemuda yang cerdas adalah pemuda yang paham akan agamanya. Ia tidak akan rela melacurkan diri pada aktivitas maksiat bernama pacaran. 
Gaes! kita tidak perlu ikut-ikutan larut dalam euphoria viralnya film roman picisan ini. Masih banyak aktivitas lain yang lebih penting dan bernilai pahala yang perlu kita kerjakan. Cukup film ini menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa kondisi remaja kita masih sangat memilukan hati. Tak usah kita ikut serta menambah deretan remaja yang terjerumus gaul bebas. 
Tak cukupkah bukti yang kita saksikan saat ini. Hancurnya para generasi pemuja syahwat. Tidak sedikit bayi mungil tak berdosa dibuang menjadi korban kebiadaban para pezina. Bahkan tak cukup dibuang, tapi mereka juga dibunuh. Naudzubillah!
Taukah kalian, pacaranlah yang menjadi biang keladinya. Pacaranlah yang menjadi salah satu sebab awal mula petaka pergulan bebas. 
“Kalau tidak pacaran bagaimana kita bisa mengenal pasangan kita nanti? Gak mau kan kita beli kucing dalam karung?”
Stop ini hanya alasan klasik dan basi! Banyak kok yang pacaran bertahun-tahun eh nikahnya malah sama orang lain. Tuh, ending cerita Dilan II juga seperti itu, kan?  Jadi, perempuan jangan mau deh di PHP-in seperti itu. jaga iffah dan izzah sebagai perempuan ya.
Sobat, pemuda yang cerdas dan idaman bukanlah pemuda yang mengajak pada aktivitas pacaran. Pemuda idaman bukanlah pemuda yang gemar mengumbar maksiat atas nama cinta dan sayang. Karena ini jelas jebakan setan. Setan sedang mencari sekutunya nanti di Neraka. Setan tidak ingin melihat kita, generasi muda paham dan melaksanakan semua aturan agama. 
Sedih rasanya, ketika kita menyaksikan kemasiatan difasilitasi bahkan diapresiasi. Entah serusak apalagi generasi kita. Padahal remaja adalah generasi penerus yang akan menentukkan baik buruknya suatu peradaban. 
Sobat, sudah cukup janganlah kita jadi remaja latah! Ikut serta larut dalam aktivitas pacaran. Gak usah deh ikut-ikutan tren yang lagi viral, karena sejatinya tren tersebut menjerumuskan. Kita harus jadi remaja yang cerdas. Remaja yang ikhlas dan taat pada aturan islam. Remaja yang mampu mengoptimalkan potensinya untuk mencintai Islam. Mau memperjuangan bukan malah meremehkan Islam. 
Yuk, kita tengok sosok Al-Fatih 1953. Di usianya 19 tahun sudah menjadi Sultan Utsmani dan mampu menaklukan kontantinopel pada usia 21 tahun. Sedang Dilan 1990, usia 18 tahun hanya jadi ketua geng motor dan menaklukkan hati seorang perempuan (pacar). Visi hiduplah yang membedakan keduanya. Al-Fatih visinya akhirat, sedang Dilan sebaliknya. 
Lalu bagaimana agar kita memliki visi akhirat? solusinya adalah belajar dan menerapkan Islam secara kaffah. Mengkaji Islam selain kewajiban juga sebagai tameng untuk menghindarkan diri  dari virus merusak yang bernama gaul bebas. Tentu, kita tidak hanya sendirian menjadi baik. Kita butuh teman. So, bukti kecintaan kita kepada teman mari kita ajak teman untuk megkaji islam secara istiqamah. Saling menguatkan ketika salah satu terjatuh. Saling mengingatkan ketika ada yang khilaf.  Wallahu a’alam bishawab,[]

Penulis adalah seorang dosen

Comment

Rekomendasi Berita