RADARINDONESIANEWS.COM, SEOUL — Pemuda dari 43 negara, termasuk Indonesia, mengikuti program pertukaran pemuda internasional di Seoul, Korea Selatan, pada 17-19 September 2026.
Mereka mengunjungi sejumlah situs sejarah dan budaya untuk memahami nilai perdamaian, hidup berdampingan, serta saling menghormati.
Program bertajuk HWPL International Youth Peace Program itu diselenggarakan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), organisasi yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (ECOSOC).
Mengusung tema “We, the Living Legacy of Peace”, program tersebut dibagi menjadi tiga tahap, yakni Discover, Learn, dan Act.
Peserta diajak menemukan makna perdamaian melalui sejarah, mempelajarinya melalui dialog lintas budaya dan agama, kemudian menerapkannya dalam kegiatan di komunitas masing-masing.
Pada hari pertama, peserta mengunjungi War Memorial of Korea. Mereka menelusuri sejumlah ruang dan monumen, antara lain Korean War Room, UN Room, UN Monument, dan Statue of Brothers.
Kunjungan itu mengajak peserta melihat kembali dampak perang terhadap individu, keluarga, dan generasi muda. Mereka juga diajak menjawab pertanyaan mengenai makna perdamaian serta langkah yang dapat dilakukan untuk menjaganya.
Ketua National Youth Council of Fiji (NYCF), Laisani Sepo, mengatakan kunjungan tersebut memperlihatkan besarnya pengorbanan generasi muda dalam perang.
“Para pemuda berusaha melindungi wilayah mereka dan bersedia mempertaruhkan nyawa meskipun mengetahui risiko kematian,” kata Laisani.
Menurut dia, membangun perdamaian membutuhkan kemauan kuat untuk terus bergerak meskipun menghadapi tantangan dan kritik.
Dari War Memorial, peserta kemudian menuju Insadong untuk mengenal budaya tradisional Korea secara langsung. Pengalaman tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana pemahaman terhadap budaya yang berbeda dapat menumbuhkan penghormatan, yang selanjutnya membuka ruang pertukaran antarmanusia.
Direktur Program Public Aid Organization dari Irak, Alwand Talaat Jawhar Caluri, mengatakan ruang yang aman dan inklusif diperlukan agar anak muda dari berbagai negara dan latar belakang agama dapat bertukar gagasan mengenai perdamaian.
“Pertemuan seperti ini dapat menjadi wadah untuk bertukar praktik terbaik dan belajar satu sama lain,” ujar Alwand. Ia mengatakan pengalaman tersebut dapat membantu anak muda memperoleh pelajaran dari pengalaman peserta lain.
Belajar dari Sejarah Korea
Peserta selanjutnya mengunjungi Gwanghwamun dan Gyeongbokgung Palace. Di dua lokasi itu, mereka membahas perdamaian melalui lima nilai, yakni Inheritance, Respect, Responsibility, Change, dan Harmony.
Sejarah Raja Sejong Agung, Hall of Worthies atau Jiphyeonjeon, serta penciptaan Hangeul melalui Hunminjeongeum menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana keputusan dan proses belajar seorang pemimpin dapat membawa perubahan bagi masyarakat dan generasi berikutnya.
Setiap peserta kemudian memilih salah satu dari lima nilai tersebut untuk diterapkan setelah kembali ke negara masing-masing. Mereka juga menuliskan tindakan konkret yang akan dilakukan.
CEO Mental Health and Anti-Drug Abuse Organisation, Andrew Junior Mwima, mengatakan generasi muda memiliki posisi penting dalam upaya membangun perdamaian.
“Anak muda adalah mereka yang dikirim ke medan perang. Karena itu, anak muda pula yang dapat memimpin inisiatif perdamaian di garis depan,” katanya.
Ia menambahkan, anak muda tidak semata-mata diposisikan sebagai calon pemimpin masa depan.
“Anak muda adalah pemimpin hari ini,” ujar Andrew.
Tahap Discover pada 17 September berlanjut ke tahap Learn pada 18 September. Salah satu agendanya adalah diskusi meja bundar bertema “The Role of Youth in Spreading a Culture of Peace.”
Dalam diskusi tersebut, peserta mempelajari peran anak muda dalam mencegah keyakinan agama dan identitas etnis dijadikan alasan terjadinya kekerasan dan konflik.
Materi diskusi merujuk pada Pasal 8, 9, dan 10 Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) yang memuat prinsip pencegahan perang, penyelesaian konflik, perdamaian antarkelompok agama dan etnis, serta penyebaran budaya damai.
Peserta juga mengikuti International Religious Peace Academy for Youth Leaders.
Mereka mempelajari kitab suci dan ajaran sejumlah agama, antara lain Buddha, Konghucu, Kristen, Islam, dan Hindu, untuk memperluas pemahaman terhadap keberagaman budaya dan agama.
Dari Pembelajaran ke Aksi
Tahap terakhir, Act, berlangsung pada 19 September. Pada tahap ini, peserta mulai menghubungkan nilai yang mereka temukan dan pelajari dengan kegiatan nyata.
Peserta berbagi pengalaman mengenai kegiatan perdamaian di berbagai wilayah melalui Youth Engagement & Peacebuilding Working Group (YEPW). Kelompok tersebut menjadi ruang bagi anak muda untuk merancang dan menjalankan kegiatan perdamaian di komunitas masing-masing.
Pembahasan kemudian diarahkan pada strategi pelaksanaan proyek YEPW di tingkat regional. Peserta juga menyusun rencana kegiatan untuk 2027 sekaligus menentukan peran masing-masing.
Sekretaris Jenderal HWPL, Kang Tae-ho, mengatakan para peserta telah melihat secara langsung pentingnya perdamaian di wilayah yang memiliki sejarah perang dan pembagian Korea.
“Pemuda dari berbagai negara secara langsung melihat pentingnya perdamaian di tanah yang pernah mengalami perang dan perpecahan ini,” kata Kang.
Ia mengatakan perdamaian bukan sekadar warisan yang diterima dari generasi sebelumnya, melainkan sesuatu yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Kami berharap para peserta membawa jawaban yang mereka temukan di Korea dan mengubahnya menjadi tindakan nyata di negara masing-masing,” ujarnya.
Mahasiswi hukum Free University of Brussels (VUB), Belgia, Sarah Vermaut, mengatakan pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari posisi yang besar.
“Saya hanya seorang mahasiswa. Mengapa mereka harus mendengarkan saya?” kata Sarah.
Menurut dia, jika anak muda berpikir tidak mampu mengubah keadaan, perubahan tidak akan terjadi. Karena itu, Sarah berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan sebaya dan mengadakan kegiatan yang dapat diikuti lebih banyak anak muda.
Program selama tiga hari tersebut dirancang sebagai perjalanan dari menemukan, mempelajari, hingga melakukan.
Sejarah perang digunakan untuk memahami kebutuhan akan perdamaian, keberagaman budaya untuk membangun penghormatan, dan pengalaman sejarah untuk mendorong anak muda menerjemahkan nilai serta tanggung jawab ke dalam tindakan di komunitas masing-masing.[]








Comment