by

Penetapan 22 Juni Sebagi Hari Jadi Kota Jakarta Sarat Muatan Politis


RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tanggal 22 Juni yang hingga kini
ditetapkan sebagai hari lahirnya kota Jakarta, dinilai beberapa kalangan
sebagai suatu hal yang salah kaprah. Pemilihan tanggal tersebut,
dianggap hanya merupakan keputusan politis yang seyogyanya segera
diralat oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.‎

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi menilai, penetapan tanggal itu tanpa
didasari sejarah heroisme kota Jakarta.‎ Ia menambahkan tanggal 22 Juni
1527, sebenarnya bukanlah kelahiran kota Jakarta yang kala itu bernama
Sunda Kelapa.

“Tetapi penyerangan Fatahilah dari Cirebon kepada Wak Item yang
merupakan tokoh Betawi sebenarnya. Fatahilah bukan orang
Betawi. Dipilihnya tanggal tersebut juga mungkin karena kemenangan
Sudiro yang menjabat sebagai walikota pertama kali di Jakarta,” kata
Ridwan.

“Pemilihan tanggal tersebut hanya merupakan keputusan politis, yang
harus segera diralat oleh Pemprov DKI Jakarta,” lanjut dia menerangkan‎,
saat ditemui di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (12/5/2016).‎

Secara tegas, ia mengatakan bahwa HUT DKI bukanlah 22 Juni 1527. Melainkan, jatuh pada tanggal 3 September 1945.

“Saya sampai kapan pun akan tetap mengatakan bahwa HUT DKI adalah 3
September 1945. Jangan ditua-tuakanlah HUT DKI. Tanggal 22 Juni itu guna
memperingati kepentingan Piagam Jakarta dan bukan HUT Jakarta yang
sebenarnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, alasan tanggal 3 September 1945, merupakan awal mula adanya pemerintahan di Kota Jakarta.

“Jadi gak usah punya pemikiran lain. Tetapkan saja 3 September jadi HUT
DKI. Saya sempat meminta ke Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, namun
tak direspon,” ujarnya.

Ia menerangkan, awal ditetapkan HUT DKI jatuh pada 22 Juni, sejak
Soediro yang menganut paham Partai Serikat Islam (PSI) kala itu,
menjabat selaku Walikota Jakarta dan Abdullah Salim dari Partai Masyumi
menjabat selaku Ketua DPRD DKI. Pada saat itu, lanjut dia, kepentingan
politis sangat kental terkait adanya Piagam Jakarta.

Sehingga, kata Ridwan, atas dasar pertimbangan politis dan memperingati
Piagam Jakarta, maka dicetuskanlah pada 22 Juni sebagai hari lahir Kota
Jakarta.‎

“Ini fakta sejarah loh. Karena itu saya ngotot agar itu dirubah.
Terutama bagi para calon gubernur nantinya. Karena ini bicara mengenai
pelurusan Sejarah,”

Ia melihat, rakyat Jakarta juga akan mendukung calon gubernur yang
berani merubah HUT DKI dari 22 Juni menjadi 3 September. Kalau tidak
berani, kata dia, cagub 2017 nanti jangan harap didukung warga Jakarta.‎

“Sebagai putra asli Betawi yang sudah berumur 81 tahun, kami lebih
paham soal hari lahir kota kami (Jakarta) dibanding orang lain. Dan saya
siap berdebat dengan siapa pun bahwa HUT DKI adalah 3 September 1945,
bukan 22 Juni 1527,” imbuh Ridwan.

Mendesak Untuk Diubah

Sementara, ahli sejarah Yusmar Yusuf menjelaskan, dalam menentukan hari
lahir sebuah kota biasanya berdasarkan sejarah heroisme, dan bukan
tentang kekalahan.

“Perbedaan pendapat tentang hal ini perlu dipertengkarkan dengan pemerintah untuk menemukan solusi,” jelas Yusmar.

Ia sekaligus memberikan beberapa opsi yang dapat dijadikan tanggal atau
hari jadi kota Jakarta. Yakni, tanggal 30 Mei 1619 ditandai dengan JP
Coen membangun Benteng Batavia.

Kemudian, opsi kedua adalah 16 Februari 1894, dimana sebagai tanggal
lahir Husni Thamrin sebagai tokoh identik Betawi, atau opsi ketiga,
yakni tanggal 27 Mei 1966 yang merupakan pengangkatan Ali Sadikin
sebagai gubernur, yang mengubah big village menjadi kota metropolitan.

“Selama ini, Pemprov DKI salah menetapkan HUT kota Jakarta dan telah
berlangsung lebih dari setengah abad. Untuk itu, kami mendesak pemprov
DKI agar segera mengubah tanggal sejarah, yang dinilai menyimpang itu,”
tandasnya.‎(Sammy/Hanter)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × three =

Rekomendasi Berita