Perang Sebagai Arena Bisnis: Siapa yang Diuntungkan?

Opini1544 Views

Penulis: Nurjanah Fatahillah | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perang kerap disebut sebagai kegagalan diplomasi. Namun, bagi sebagian pihak, perang justru menjadi momentum keuntungan besar. Ketika sebuah kota luluh lantak oleh bom dan rudal, saham perusahaan industri pertahanan di bursa saham dunia justru melesat.

Di tengah kehancuran kemanusiaan, laporan laba perusahaan senjata tampil menggembirakan.

Realitas pahit inilah yang hari ini dihadapi dunia: perang telah berubah menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Dalam politik global modern, senjata bukan lagi sekadar alat pertahanan negara, melainkan komoditas bernilai miliaran dolar AS. Jet tempur, rudal, tank, hingga sistem pertahanan canggih diproduksi bukan untuk disimpan lama di gudang, tetapi untuk dijual dan digunakan.

Sebagaimana dilaporkan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dalam laporan Trends in International Arms Transfers 2023 yang dirilis Maret 2024, Amerika Serikat menguasai sekitar 42 persen pangsa ekspor senjata dunia untuk periode 2019–2023.

Hampir separuh alat perang yang beredar di dunia berasal dari industri militer AS. Negara adidaya itu bukan hanya menentukan siapa sekutu dan siapa ancaman, tetapi juga menjadi pemasok utama kebutuhan perang global.

Dalam logika industri pertahanan modern, perdamaian permanen justru dianggap ancaman bagi bisnis. Ketika konflik mereda, pesanan senjata menurun, nilai saham melemah, dan keuntungan para pemegang modal ikut tergerus.

Karena itu, ketegangan geopolitik seolah terus dipelihara: ancaman dibangun, musuh diciptakan, dan rasa takut disebarkan.

Tiga konflik besar dunia hari ini — Rusia-Ukraina, ketegangan AS-China di Taiwan, serta rivalitas Saudi-Iran di kawasan Teluk — memperlihatkan pola yang sama. Ketakutan dan paranoia dipelihara agar belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) terus meningkat.

Ini bukan sekadar kecelakaan sejarah ataupun kegagalan komunikasi diplomatik, melainkan bagian dari mekanisme ekonomi global yang diuntungkan oleh konflik.

Narasi bahwa dunia bergerak menuju era modern yang damai dan toleran juga dibantah oleh data. Seperti diberitakan Deutsche Welle Indonesia pada 23 April 2024, laporan SIPRI mencatat belanja militer global pada 2023 mencapai lebih dari 2,4 triliun dolar AS—angka tertinggi sepanjang sejarah modern. Bahkan, sejumlah lembaga ekonomi memproyeksikan belanja pertahanan dunia mendekati 2,9 triliun dolar AS pada 2025.

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir, sekitar 38 persen ekspor senjata Amerika Serikat mengalir ke Eropa. Lonjakan itu dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pertahanan negara-negara NATO pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Sementara itu, kawasan Asia dan Oseania menyerap sekitar 31 persen impor senjata global, Timur Tengah 26 persen, dan Afrika 4,3 persen.

Perang Rusia-Ukraina, konflik Palestina-Israel, hingga memanasnya isu Greenland antara AS dan Denmark, secara tidak langsung menjadi ladang keuntungan bagi industri senjata Amerika Serikat.

Ketika kawasan dunia memanas, perusahaan pertahanan justru menikmati lonjakan keuntungan. Saham mereka menguat, laba meningkat berkali-kali lipat, dan kontrak baru terus berdatangan.

Data pasar menunjukkan sektor pertahanan AS mengalami reli besar. ETF Aerospace & Defense (ITA) berada di level tinggi. Saham Lockheed Martin, RTX, hingga Northrop Grumman mengalami kenaikan signifikan hanya dalam satu hari perdagangan.

Bahkan, sebagaimana dirilis Departemen Luar Negeri AS pada Januari 2025, penjualan senjata Amerika Serikat sepanjang 2024 melonjak 29 persen menjadi 318,7 miliar dolar AS.

Angka keuntungan perusahaan-perusahaan pertahanan itu juga fantastis. Lockheed Martin pada 2025 membukukan penjualan sekitar 75 miliar dolar AS dengan backlog kontrak mencapai 179 miliar dolar AS. Northrop Grumman memasuki 2026 dengan backlog rekor 95,7 miliar dolar AS. RTX melaporkan penjualan 88,6 miliar dolar AS dengan backlog mencapai 268 miliar dolar AS.

Artinya, semakin panas sebuah kawasan, semakin besar pula potensi keuntungan industri senjata global. Jika perang berhenti, bisnis mereka bisa melambat. Dalam sistem ekonomi kapitalistik global, konflik bersenjata menjadi sumber keuntungan yang terus dipelihara.

Pertanyaannya, apakah dunia bisa keluar dari rantai bisnis perang yang kejam ini?

Islam memandang persoalan kekuatan dan pertahanan secara berbeda. Allah Swt. berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS Al-Anfal: 60).

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk menyiapkan kekuatan terbaik yang dimiliki demi menjaga keamanan dan mencegah agresi musuh. Pada masa lalu, bentuk kekuatan itu berupa kuda perang. Dalam konteks modern, tentu mencakup teknologi pertahanan dan persenjataan mutakhir.

Namun, Islam juga memberikan batasan moral yang sangat tegas. Kepemilikan senjata bukan untuk kepentingan bisnis, penjajahan, atau penghancuran massal. Bahkan, senjata pemusnah massal hanya boleh digunakan dalam kondisi sangat darurat dan dengan pertimbangan syariat yang ketat.

Karena itu, fungsi utama kekuatan dalam Islam bukan untuk menciptakan perang, melainkan mencegah perang. Kekuatan militer dibangun agar musuh berpikir seribu kali sebelum melakukan agresi.

Sejarah Islam juga menunjukkan pentingnya penguasaan teknologi pertahanan. Rasulullah saw. pernah mengutus sahabat ke Yaman untuk mempelajari teknologi pembuatan senjata.

Artinya, negara yang menerapkan aturan Allah semestinya memiliki kemandirian industri pertahanan, bukan menjadi pasar bagi industri perang global.

Jika kekuatan dibangun atas dasar iman dan tanggung jawab moral, maka persenjataan akan menjadi alat menjaga keamanan dunia, bukan instrumen bisnis yang diperdagangkan di atas darah manusia. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment