![]() |
| foto/merdeka |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Hari ini saya mengganti foto sampul saya dengan lukisan tentang Penyerbuan Penjara Bastille, 14 July 1789. Peristiwa ini menandai dimulainya Revolusi Perancis.
Salah satu tokoh revolusi itu adalah Robespierre. Ia seorang pengacara yang sangat konsisten membela kaum miskin dan tertindas. Ia percaya kepada republic of virtue, yaitu masyarakat dimana orang berlomba mendahulukan kebahagiaan orang lain, ketimbang keuntungan bagi diri sendiri. Orang itu kemudian menjadi pemimpin Perancis. Orang yang dikenal penuh belas kasih ini ternyata kemudian menerapkan teror secara sistematis sebagai metode kekuasaan. Sedikitnya 40.000 orang tewas dieksekusi selama pemerintahannya. Pemerintahan Robespierre ini kelak dikenal sebagai Pemerintahan Teror (The Reign of Terror).
Entah bagaimana, Robespierre berpandangan bahwa virtue (kebajikan) tidak dapat dipisahkan dengan teror.
Menurut Robespierre, “Teror tanpa virtue adalah kutukan, virtue tanpa teror adalah ketakberdayaan.” Revolusi Perancis tidak mungkin mewujudkan virtue karena begitu banyak musuhnya. Demi virtue, mau tidak mau, kata Robespierre, pemerintah mesti menjalankan teror. Teror adalah konsekuensi logis dari virtue. Tak perlu takut kepada teror, ujar Robespierre lagi, sebab teror hanya bentuk lain dari keadilan. “Teror hanyalah keadilan dalam bentuknya yang kaku, cepat dan keras.”
Keadilan yang kaku, cepat dan keras itu ternyata akhirnya menjangkau Robespierre sendiri. Ia mati di ujung guillotine, 28 Juli 1794. Nasib Robespierre ini hendaknya menjadi peringatan bagi siapapun diktator atau calon-diktator. “[]















Comment