by

Radikalisme Isu Yang Bertujuan Memecah Belah NKRI

Furqon Bunyamin Husein, Pinum radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Radikalisme menjadi alat propaganda baru setelah isu terorisme yang belum bisa melumpuhkan kekuatan Islam baik di tataran regional maupun internasional. Islam dengan warna aslinya sebagai “Rahmatan Lil Aalamiin” masih tetap hidup bahkan terus mengalir deras baik di Eropa Timur maupun Barat.
Dalam konteks nasional, meminjam istilah BJ.Bolan, pergumulan Islam di Indonesia semakin menohok dengan kemenangan Anies Sandi di Pilkada DKI Jakarta dengan prosentase yang cukup telak. Meskipun sebenarnya pertempuran dalam batas ini tidak melulu diwakilkan sebagai kemenangan dalam pertarungan hitam putih dua ideologi, Islam dan Kristen. Karena faktanya, di dua kubu yang bertarung, terdapat dua ideologi yang tidak bisa dibantah. Di kubu Anies terdapat kalangan Kristen dan di kubu Ahok pun banyak muslim.
Dari komposisi pengikut, jelas bahwa pertarungan dalam Pilkada  merupakan sebuah pertarungan yang identik dengan demokrasi dan tidak berorientasi pada pertempuran ideologi dalam konteks sesungguhnya baik dari kaca mata politik secara makro maupun konsep itu sendiri.
Kekalahan Ahok disebabkan perilaku personal yang dikenal kurang memilik etika dan moral kebangsaan yang biasa disebut adat ketimuran yang selama ini menjadi jargon. Selain itu, kekalahan juga dipengaruhi oleh tim sukses yang terlalu yakin dengan euphoria kemenangan sehingga tidak maksimal melakukan kampanye yang mampu meyakinkan calon pemilih. Indikasi ini terlihat dengan perolehan suara yang menurun dari 43% di putaran pertama menjadi 42% di putaran ke dua.
Kekalahan yang sangat menohok ini tidak bisa diterima oleh mereka yang sudah begitu yakin terhadap kemenangan. Ditambah pula putusan hakim pada kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok diganjar 2 tahun penjara. Ini sebuah pukulan mental. Sudah jatuh tertimpa tangga.
Ketidak puasan berlanjut dengan rangkaian aksi tebar bunga dan aksi hingga larut malam di Cipinang. Ketidak puasan itu belum usai hingga ditebarlah ranjau baru dengan radikalisme dan intoleran islam, padahal Romo Magnis Suseno dengan tegas menolak intoleransi yang dipikulkan kepada islam.
Isu ini semakin dibumbui dengan embel-embel makar, anti pancasila, kriminilasasi ulama hingga isu menurunkan Jokowi dari tahta keprisedenan. Sebuah permainan politik yang sangat tidak santun. Padahal kalah dan menang dalam sebuah demokrasi itu sebuah hal yang biasa.
Oleh karena itu, kepada para pejuang agama baik Islam, Kristen, Hindu dan Budha harus menyadari apa dan ke mana arah isu ini dikembangkan. Jangan biarkan isu ini bergulir sehingga panasnya menampar keindahan toleransi dan hidup berdampingan yang telah terbangun selama ini. Islam, Kristen, Hindu dan Budha harus menjadi tameng bagi kekuatan yang hendak menghancurkan NKRI. Jangan tertipu dengan isu yang menyudutkan dan menumbuhkan kebencian antar agama dan golongan yang kemudian menghancurkan tatanan NKRI.[GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − ten =

Rekomendasi Berita