by

Rafida Aulya Rahmi: Gurita Kapitalisme

Rafida Aulya Rahmi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia adalah negara terkaya di dunia. Kekayaan alamnya meluas dr pulau sumatra hingga papua. Indonesia kaya akan sumber daya dan mineral yang tidak lepas dari kondisi geografis dan jalur gunung api dunia. Tak hanya itu, sumber daya dan mineral ini menjadi penunjang dalam kemajuan bangsa. Namun Kekayaan sumber energi yang ada di seluruh penjuru nusantara ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk menjamin ketersediaan energi serta akses terhadap energi yang dapat dijangkau dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kekayaan alam di Indonesia sangat banyak dan berlimpah hingga masih ada yang belum terjamah dan dikelola secara maksimal oleh negara. 
Berdasarkan data tahun 2015 dari Kementerian Energi Sumber Daya Alam dan Mineral, cadangan batubara Indonesia berlimpah dengan total cadangan 32 miliar ton yang terbukti sedangkan yang terkira mencapai angka 74 miliarton.https://newswantara.com/energi/sumber-daya-energi-dan-mineral-di-indonesia.
Dua pulau di Indonesia memiliki kandungan batubara terbesar adalah Sumatera dan Kalimantan. Sumatera mempunyai 12 miliar ton untuk cadangan terbukti dan 55 miliar ton cadangan terkira, sedangkan Kalimantan cadangan batubara terbukti 19 miliar ton dan terkira 68 miliar ton. Selain batu bara, Indonesia masih menyimpan cadangan mineral lain. https://newswantara.com/energi/sumber-daya-energi-dan-mineral-di-indonesia. Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alam. Jika kekayaan sumber daya energi dan mineral di Indonesia ini dapat dikelola dan diolah dengan baik, negeri ini tentunya mampu menjadi negara yang kaya raya dan mandiri.
Namun pada faktanya kekayaan alam Indonesia ini justru tidak mampu di kelola dengan baik. Banyak perusahaan besar yang ingin merebut kekayaan alam ini dengan dalil bisnis. Salah satunya penbangan batu bara di daerah Bayah. Penambangan batu bara ilegal juga terjadi di Blok Sangko, Desa Sawarna, Bayah, Lebak. Titiknol melaporkan, penambangan di wilayah tersebut diduga dimotori oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sawarna, Kukun Kurnia. 
Tambang ilegal di Blok Sangko sempat menewaskan warga pada 30 Oktober 2017. Korban bernama Ade, diduga tewas setelah menghirup gas beracun saat melakukan penambangan. Peristiwa ini menyulut kemarahan warga yang tinggal di sekitar lokasi penambangan.
Film dokumenter “Sexy Killer” yang rilis 5 April 2019. Sampai 13 April 2019,  sudah 476 lokasi memutar film ini di berbagai daerah di Indonesia. Secara resmi film ini sudah diunggah di kanal Youtube Watch Dog Image. Sampai 16 April ini, video ini sudah dilihat 7 jutaan kali. Sexy Killers, merupakan bagian terakhir Ekspedisi Indonesia Biru, sebuah perjalanan dua jurnalis Dhandy Dwi Laksono dan Ucok Suparta,  merekam berbagai masalah sosial, ekonomi dan lingkungan di Indonesia.
Film ini bercerita tentang bagaimana produksi listrik dari industri batubara. Dari hulu hingga ke hilir, energi penyedia listrik ‘andalan’ ini menyebabkan penghancuran hidup rakyat dan lingkungan sekitar. Berbagai kepentingan bisnis juga tumpang tindih dengan kepentingan politik oleh orang-orang yang juga punya kedudukan penting di pemerintahan.
Tampaknya gurita para Kapital semakin meluas di Indonesia, sudah sejak lama bangsa Indonesia ini terjajah secara masif dan halus. Berbagai penderitaan yang di alami masyarakat Indonesia terlebih masyarakat kalangan menengah ke bawah.  Hingga sebagian warga harus kehilangan keluarganya akibat ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Masalah ini sudah lama terjadi. Ketika pergantian presiden, warga Indonesia berharap ada perbaikan secara intensif oleh pemerintah guna memperbaiki kondisi kekayaan alam di Indonesia. 
Namun tampaknya kasus ini belum bisa di selesaikan dengan benar, bagaimana pun kondisi nya ketika para kapital masih tetap tenar bertengger di dunia tidak mampu menyelesaikan masalah. Pengelolaan SDA dalam  sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme dengan kendali korporasi yang merusak lingkungan dan menimbulkan penderitaan. Tak hanya itu, mereka pun merampas hak yang bukan miliknya dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.
Selama sistem yang dipakai adalah buatan manusia, maka ketidak sejahteraan lah yang hanya di rasakan oleh masyarakat. Kebebasan dalam kepemilikan yang tidak di atur dalam sistem Kapitalisme Demokrasi membuat para pemilik modal bebas merampas sehingga ketimpangan lah yang terjadi di tenga-tengah masyarakat, yang kaya semakin kaya sedang yang miskin semakin miskin. 
Islam adalah agama bukan hanya mengatur ibadah ritual antara manusia dengan pencipta melainkan segala aturan yang ada dalam Islam itu ada. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Termasuk masalah kepemilikan antar individu, masyarakat dan negara memiliki ruangnya masing-masing. Islam mengatur kepemilikan bahwa setiap barang tambang, emas, batu bara, laut padang pasir dsb. adalah milik negara yang wajib dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Semata-mata untuk rakyat dan tidak boleh diprivatisasi baik kepada pengusaha maupun negara asing. 
Maka ketika Islam yang menjadi dasar suatu hukum maka keberkahan datang di langit maupun di bumi bahkan Allah telah berfirman dalam Quran Surat Al-A’raf ayat 96 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Maka pantaskah manusia sebagai makhluk ciptaan Nya yang hina dina membangkang dengan acuh terhadap perintah juga larangannya? Tidakkah ingin jika bumi ini kembali sejahtera? Dan tentunya dengan menerapkan seperangkat dari aturan Sang Maha Kuasa. Wallahu A’lam.[]
Penulis adalah Mahasiswi,  fakultas ushuluddin dan adab, semester 4 UIN Banten 

Comment

Rekomendasi Berita