Rafida Aulya Rahmi: Nasionaliame Dan Kepentingan Nasional

Berita1173 Views
Rafida Aulya Rahmi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Arab Saudi adalah salah satu negara Islam terbesar selain Indonesia. Kita ketahui bahwa di setiap tahunnya berbagai macam etnis berkumpul untuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Arab Saudi bisa dibilang menjadi negara tersibuk dan teramai di dunia. 
Usut punya usut Arab Saudi memiliki hubungan erat dengan Cina, ada beberapa hal dan progam yang akan diselesaikan antar kedua negara tersebut. Salah satu program ke depan yang akan diselenggarakan adalah bahasa Cina akan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan Arab Saudi. 
Bahasa Cina akan dimasukkan dalam kurikulum dalam semua tingkat pendidikan di Arab Saudi. Demikian satu hal yang disepakati selama pertemua Putra Mahkota Muhammad bin Salman, wakil perdana menteri, menteri pertahanan dan seorang delegasi senior Cina, Jumat (22/02/2019).[kiblatnet, Riyadh]
Rencana ini bertujuan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Kerajaan Arab Saudi dan pemerintah Cina dan untuk memperdalam kemitraan strategis di semua tingkatan. Demikian menurut laporan Badan Pers Saudi (SPA). Langkah ini juga untuk menjalin kemitraan strategis antara pemimpin Saudi dan Cina, dan untuk meraih peluang yang menjanjikan di antara rakyat mereka.
Dimasukkannya bahasa Cina di sekolah-sekolah Saudi dan universitas akan meningkatkan keragaman budaya siswa di Kerajaan. Selain itu berkontribusi pada pencapaian tujuan nasional masa depan di bidang pendidikan yang sejalan dengan Visi Kerajaan 2030.
Kedekatan Arab Saudi dengan Cina seakan lupa bahwa ada hal yang lebih penting dan membutuhkan banyak uluran tangan terutama kepada Arab Saudi. Banyak jutaan kaum Muslim mengadu, meminta bantuan agar terbebas dari hegemoni barat. Salah satunya adalah Muslim Uyghur. Arab Saudi malah menyetujui program camp konsentrasi Uyghur yang dibuat oleh Cina. 
Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan.[kiblat.net]
Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya, kata Bin Salman, yang telah berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019).
Presiden Cina Xi Jinping, mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrem.
Cina telah menahan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani program pendidikan ulang yang diklaim sebagai perang melawan ekstremisme.
Uighur adalah kelompok etnis Turki yang mempraktikkan Islam dan tinggal di Cina Barat dan sebagian Asia Tengah. Beijing menuduh minoritas di wilayah Xinjiang Barat itu mendukung terorisme sehingga harus diawasi dengan ketat.
Kelompok-kelompok Uighur telah meminta pangeran muda Saudi yang kuat untuk mengangkat perjuangan mereka, karena kerajaan ultrakonservatif secara tradisional menjadi pembela hak-hak Muslim di seluruh dunia.
Namun para pemimpin Muslim sejauh ini tidak membahas krisis Uighur dengan Cina, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi mitra dagang penting dengan Timur Tengah.
Bulan lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, telah mengecam tindakan Cina, dan menggambarkan perlakuan terhadap penduduk Uighur mempermalukan rasa kemanusiaan. Erdogan juga menyerukan penutupan kamp konsentrasi. [The Telegraph]
Saat ini pemimpin kaum Muslimin tersekat oleh paham Nasionalisme, mereka lupa bahwa kemenangan kaum muslim terletak pada persatuan kaum muslimin. Sejatinya tak ada lawan dalam sistem demokrasi kapitalisme melainkan sebuah kepentingan yang menguntungkan.  
Islam adalah solusi tuntas untuk semua permasalahan yang sedang menimpa kaum muslimin saat ini, tak hanya urusan kaum muslim bahkan semua permasalahan manusia yang kompleks Islam memiliki solusinya. 
Maka tatkala hukum manusia berpijak di bumi, sejatinya malah kian menambah permasalahan yang kompleks. sebaliknya, ketika hukum Allah yang berpijak di bumi, keberkahanlah yang melimpah di langit maupun di bumi. Ketakwaan sejatinya akan membawa keberkahan sedangkan kemaksiatan sejatinya akan membawa kesengsaraan. Wallahu A’lam.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN Banten, Fakultas Ushuluddin dan Adab.

Comment