by

Rafida Aulya Rahmi*: Uninstall Democrazy

  Rafida Aulya Rahmi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Sejak pasca pemilu 2019 korban kematian kian bertambah. Alasan utama nya akibat kelelahan dalan menangani proses penghitungan suara. pemilu tahun ini menjadi pemilu yang paling ramai di ikuti sampai-sampai jalanan pun sepi karena semangat masyarakat dalam ajang kontribusi pemilihan presiden. 

JawaPos.com – Proses pemilu yang begitu panjang membuat korban dari jajaran KPU dan Bawaslu terus berjatuhan. Hingga kemarin (26/4), sudah 326 petugas pemilu yang meninggal dunia. Perinciannya, 253 korban berasal dari jajaran KPU, 55 dari unsur Bawaslu, dan 18 personel Polri.
Yang memprihatinkan, berdasar laporan yang diterima KPU, salah seorang korban bernama Alhat Supawi, 32, meninggal karena bunuh diri. Alhat adalah petugas KPPS yang bertugas mengisi formulir C1 sebanyak 86 rangkap.
Menurut laporan istrinya, Alhat tidak tahan dengan beban pekerjaan yang begitu berat. Pekerjaan sehari semalam itu membuat dia kelelahan dan berujung stres. Alhat begitu khawatir jika di antara 86 formulir C1 tersebut ada kesalahan mengisi. Dalam kondisi itulah, dia meminum racun hingga meninggal.

Selain Alhat, ada 307 petugas penyelenggara pemilu lainnya yang meninggal dunia. Itu diketahui berdasar data yang didapat Jawa Pos dari KPU dan Bawaslu hingga kemarin. Mereka meninggal dalam dedikasi untuk mengawal proses demokrasi Indonesia lewat pemilu serentak.
Dari jajaran KPU, yang meninggal tersebar di 27 provinsi. Yang paling banyak terdapat di Jawa Timur dengan 62 orang, Jawa Barat (61), dan Jawa Tengah (31). Diperkirakan, sebagian besar di antara ratusan orang itu berusia di atas 40 tahun. https://m.jpnn.com/news/326-petugas-pemilu-2019-meninggal-dunia-dua-bunuh-diri.
Tidak menutup kemungkinan bahwa angka korban kematian pasca pemilu semakin meningkat dari periode sebelumnya. Hingga kini angka korban pun mencapai ratusan dan yang lebih memprihatinkan adalah aksi bunuh diri karena stres yang amat berat akibat pemilu, mengurus ratusan ribu suara. 

Mengikuti ajang pemilihan presiden untuk menjadikan Indonesia agar lebih maju lagi memang sudah kewajiban bagi setiap bangsa Indonesia terlebih dia sebagai kepala negara. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang ringan, namun patut di garis bawahi bahwa ketika proses itu dijalankan bukan sesuai aturan aslinya maka kecacatanlah yang terjadi. Indonesia adalah negara berdaulat dengan menjunjung demokrasi pancasila namun pada faktanya masih ada kesengsaraan yang melanda, korban bunuh diri dll. 

Ini menunjukkan bahwa kecacatan sejak lahir dari demokrasi itu sendiri, ia tidak mampu menangani masalah serius ini, belum lagi terjadi kecurangan-kecurangan pada perhitungan suara. Dalam Demokrasi suara adalah berharga. Bagaimana mungkin seseorang terpilih atas dasar perhitungan suara? Padahal dalam Islam menjadi pemimpin adalah amanah terberat dan bukan untuk di jadikan kebanggaan. 

Dalam islam memilih pemimpin bukan hanya sekedar dari perhitungan suara saja melainkan ada kriteria-kriteria yang wajib di penuhi oleh calon pemimpin, bukan sembarang orang yang mampu menjalankan itu semua, bahkan saat ini profesi menjadi pemimpin menjadi bahan rebutan kaum borjuis umagar tetap bisa menjalankan urusan bisnis juga pribadinya masing-masing, alhasil rakyatlah yang menjadi korban dari ketidak adilan negara kepada rakyat kecil. 

Oleh karena itu sampai kapan pun ketika Sistem buatan manusia masih bertengger di dunia maka tidak menutupi kemungkinan akan selalu terjadi kerusakan dan bencana. Rasulullah Saw. Bersabda: “wahai umat manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan apa-apa yang jika kalian berpegang teguh kepadaNya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan sunnah Rasul”(H.R Al-hakim, Al-baihaqi).


*Mahasiswi UIN Banten, Fakultas Ushuluddin dan Adab, Semester 4

Comment

Rekomendasi Berita