by

Sania Nabila Afifah: Derita Dan Problem Berulang Menjelang Ramadhan

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kenaikan harga sembako dan barang-barang lainnya lazim terjadi dalam setiap momen Ramadhan. Umat selalu menghadapi problem yang mau tidak mau harus diterima dan dijalani dengan penuh rasa ikhlash walau kebanyakan merasa berat menjalaninya.  Haruskah hal seperti ini selalu kita hadapi? 
Seolah-olah tidak pernah ada solusi yang tepat. Walau pemerintah telah melakukan tindakan untuk mengantisipasinya.
Menjelang Ramadhan dan hari-hari besar umat Islam selalu dihadapkan pada masalah merangkak naiknya harga sembako di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Situbondo, kenaikan harga tersebut terjadi dalam sepekan terakhir. Begitu juga knaikan daging ayam, beras, gula pasir dan lainnya. Seperti kenaikan bawang merah dan bawang putih di Pasar Tanjung, Jember. 
Dilansir dari surryamalang.com, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember telah merencanakan sejumlah kebijakan untuk mengantisipasi lonjakan harga, serta menjaga ketersediakan pasokan barang menjelang Ramadan dan Lebaran 2019.
Kebijakan dan langkah antisipasi ini dijabarkan oleh Asisten Pemerintahan Pemkab Jember Moh Jamil saat Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) wilayah eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang) di Kantor Bank Indonesia Jember, Selasa (30/4/2019).
Rakor tersebut berfokus kepada strategi antisipasi gejolak harga menjelang Ramadan dan Lebaran 2019. Dalam paparannya, Jamil menegaskan, Pemkab Jember menerapkan langkah 4-K.
“Pemkab Jember menerapkan langkah 4-K yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, ketiga kelancaran distribusi, dan keempat, komunikasi efektif. Komunikasi efekti itu antara lain seperti dalam forum TPID yang difasilitasi BI ini, juga komunikasi antar OPD terkait,” ujar Jamil.
Sedangkan untuk kelancaran distribusi, lanjut Jamil, koordinasi Pemkab Jember melibatkan jajaran kepolisian, Dinas Perhubungan, juga Satpol PP. Jamil menegaskan peran Satpol PP untuk kelancaran distribusi sangat penting. Dia mencontohkan pasar tumpah yang berada di beberapa titik di Jember yang harus diwaspadai.
“Jangan sampai pasar tumpah ini mengganggu kelancaran distribusi barang,” imbuhnya.
Jamil juga menjamin ketersediaan barang di Jember aman. Menurutnya, rata-rata ketersedian pasokan barang, terutama sembako di Kabupaten Jember aman sampai tiga bulan mendatang. Bahkan pasokan beras di Jember aman sampai dengan Maret 2020.
Berdasarkan data Pemkab Jember, ketersediaan stok daging sapi mencapai 550 ton, aman sampai bulan Juli 2019. Sedangkan stok daging ayam ras mencapai 5.915 ton, aman untuk pasokan sampai Juli 2019. Sedangkan telur ayam ras mencapai 3.800 ton, aman sampai Juli 2019. “Bahkan ketersediaan beras aman sampai Maret 2020,” imbuh Jamil. Pasokan beras di Jember mencapai 36.000 ton.
Pasokan aman juga berlaku untuk gula pasir, tepung terigu, dan minyak goreng. Pasokan cabai merah besar, berdasarkan paparan Jamil, juga terpantau aman.
Selain menjaga ketersediaan pasokan, Pemkab Jember melalui TPID Jember juga menjaga keterjangkauan harga. Artinya TPID menjaga bagaimana harga-harga komoditas itu terjaga sehingga terjangkau oleh konsumen.
Kenaikan harga pokok terjadi setiap tahun menjelang Ramadhan. Idealnya kenaikan harga terjadi karena permintaan meningkat, sementara stok terbatas namun yang terjadi stok memadai tetapi masih saja naik. Kejadian seperti ini selalu saja terjadi, bahkan harga yang diawal naik tak akan turun lagi.Walaupun turun mungkin tak seberapa dibandingkan kenaikannya. Disamping itu juga kondisi masyarakat yang konsumtif selama Ramadhan menjadi jalan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pelaku pasar.
Negara seharusnya dalam hal ini berperan untuk memastikan stok dan menekan budaya konsumtif selama Ramadhan.
Sebab ketersedian pangan menurut kapitalis adalah ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersedian pangan dalam hal ini lebih sering dilihat secara makro.  Jika stok memadai dibandingkan tingkat kebutuhan secara makro maka ketersediaan pangan dianggap cukup.  
Masalah distribusi dan bisa diakses oleh tiap individu atau tidak, itu tidak jadi perhatian.  Disamping itu dengan filosofi kebebasan ala kapitalis maka penyediaan pangan itu harus diberikan kepada swasta secara bebas.  Keserdiaan pangan yang ditempuh pada sistem kapitalis ini tidak membatasi pelaku penjamin ketersedian pangan oleh negara. Hal itu memungkinkan pihak-pihak lain di luar Negara (swasta dalam negeri dan luar negeri) bisa mengambil andil yang sangat besar.  Akibatnya terjadilah monopoli bahan pangan, menumpuknya kendali supply pangan pada sekelompok orang, serta impor yang menyebabkan ketergantungan kepada Negara lain.
Solusi Ketahanan Pangan
Sebagai sebuah agama yang sempurna, Islam memiliki konsep dan visi dalam mewujudkan ketahanan pangan. Islam memandang pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang wajib dipenuhi per individu. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak bila ada satu saja dari rakyatnya yang menderita kelaparan.
Syariah Islam juga sangat menaruh perhatian pada upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan. Dalam Islam, tanah-tanah mati yaitu tanah yang tidak tampak adanya bekas-bekas tanah itu diproduktifkan, bisa dihidupkan oleh siapa saja baik dengan cara memagarinya dengan maksud untuk memproduktifkannya atau menanaminya dan tanah itu menjadi milik orang yang menghidupkannya. Rasul bersabda; “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud).
Selanjutnya, siapapun yang memiliki tanah baik dari menghidupkan tanah mati atau dari warisan, membeli, hibah, dsb, jika ia telantarkan tiga tahun berturut-turut maka hak kepemilikannya atas tanah itu hilang. Selanjutnya tanah yang ditelantarkan pemiliknya tiga tahun berturut-turut itu diambil oleh negara dan didistribusikan kepada individu rakyat yang mampu mengolahnya, tentu dengan memperhatikan keseimbangan ekonomi dan pemerataan secara adil.
Syariah Islam juga menjamin terlaksananya mekanisme pasar yang baik. Negara wajib menghilangkan dan memberantas berbagai distorsi pasar, seperti penimbunan, kanzul mal (QS at-Tawbah [9]: 34), riba, monopoli, dan penipuan. Negara juga harus menyediakan informasi ekonomi dan pasar serta membuka akses informasi itu untuk semua orang sehingga akan meminimalkan terjadinya informasi asimetris yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar mengambil keuntungan secara tidak benar.
Dari aspek manajemen rantai pasok pangan, kita dapat belajar dari Rasul saw yang pada saat itu sudah sangat konsen terhadap persoalan akurasi data produksi. Beliau mengangkat Hudzaifah ibn al-Yaman sebagai katib untuk mencatat hasil produksi Khaybar dan hasil produksi pertanian. Sementara itu, kebijakan pengendalian harga dilakukan melalui mekanisme pasar dengan mengendalikan supply and demand bukan dengan kebijakan pematokan harga.
Praktek pengendalian suplai pernah dicontohkan oleh Umar bin al-Khaththab ra. Pada waktu tahun paceklik dan Hijaz dilanda kekeringan, Umar bin al-Khaththab ra menulis surat kepada walinya di Mesir Amru bin al–‘Ash tentang kondisi pangan di Madinah dan memerintahkannya untuk mengirimkan pasokan. Lalu Amru membalas surat tersebut, “saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makanan, yang “kepalanya” ada di hadapan Anda (di Madinah) dan dan ekornya masih di hadapan saya (Mesir) dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut”.
Demikianlah konsep dan nilai-nilai syariah Islam memberikan kontribusi pada penyelesaian masalah pangan. Konsep tersebut tentu baru dapat dirasakan kemaslahatannya dan menjadi rahmatan lil alamin bila ada institusi negara yang melaksanakannya. 
Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengingatkan pemerintah akan kewajiban mereka dalam melayani urusan umat, termasuk persoalan pangan dengan menerapkan syariah yang bersumber dari Allah SWT, pencipta manusia dan seluruh alam raya. Sehingga masalah-masalah seperti saat ini tidak kembali terulang. Wallahu a’lam bi as-shawab.[]
Penulis dalah anggota komunitas muslimah rindu jannah, Jember

Comment

Rekomendasi Berita