Rahmi Surainah, M.Pd: Indonesia Peringkat Pertama Negara Paling Santai di Dunia

Berita2293 Views
Rahmi Surainah, M.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia peringkat pertama dari lima belas negara yang mendapat gelar sebagai negara paling santai di dunia. Diikuti Australia, Islandia, Selandia Baru, Sri Lanka, Cyprus, Fililina, Yunani, India, Mauritius, Kosta Rika, Portugal, Bulgaria, Kroasia, dan Spanyol.
Peringkat 15 besar negara paling santai di dunia ini berdasarkan laporan dari sebuah agen perjalanan di Inggris yakni Lastminute.com, menuliskan Indonesia Most Chilled Out Countries in The World. 
Maksud dari julukan negara santai ini ada kaitannya dalam hal-hal yang positif. Yakni, berhubungan dengan reklasasi santai dan memanjakan liburan. Mulai dari faktor lingkungan yang unggul dari semua negara, banyaknya cuti tahunan peringkat 13, faktor polusi suara, faktor cahaya (lingkungan), faktor Hak Asasi Manusia (HAM) peringkat 14, budaya peringkat ke 6, dan banyaknya lokasi spa berjumlah 66 dan pusat kebugaran yang menawarkan pengalaman bersantai terbaik (tribuntravel.com,26/01/2019).
Jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara atau Wisman ke Indonesia nopember 2018 naik 8,16 persen dibanding nopember 2017. Yaitu dari 1,06 juta kunjungan menjadi 1,15 juta (data Badan Pusat Statistik).
Meningkatnya jumlah wisatawan menunjukan Indonesia memang dijadikan pilihan sebagai negara yang cocok untuk tempat liburan. Selain itu, sektor wisata memberikan dampak positif bagi Indonesia. Yakni menambah pendapatan negara dan daerah, membuka lapangan kerja, menambah pendapatan penduduk sekitar tempat wisata baik itu penginapan, wisata kuliner, pakaian, cendera mata, dan sebagainya.
Keindahan alam baik itu pantai, lautan, gunung, air terjun, puncak, kekayaan flora dan fauna serta keragaman budaya menggambarkan Indonesia memang kaya dan indah. Sektor wisata memang potensial untuk menambah pendapatan negara Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah pusat atau daerah terus berupaya untuk meningkatkan sektor pariwisata ini. Misalnya, membangun museum, patung-patung ikon, taman, tempat-tempat bermain dan hiburan dan sebagainya termasuk menumbuhkan kearifan lokal daerah dan budaya adat setempat. Dengan menambah anggaran yang tidak sedikit dibidang pariwisata, pemerintah tidak tanggung-tanggung membuat event besar guna menarik wisatawan berkunjung.
Demikianlah manisnya sektor wisata membuahkan dampak postif bagi Indonesia. Namun, perlu diwaspadai ada sisi negatif yang mengancam Indonesia dibalik peningkatan sektor wisata ini. Yakni liberalisasi sosial budaya dan sekulerisasi yang merupakan ruh dari kapitalisme. Selain itu, dibalik gelar sebagai negara paling santai di dunia menjadikan Indonesia seakan disetting oleh Barat (masuk dalam skenario global) untuk memandulkan kebangkitan Islam di Indonesia.
Indonesia merupakan negeri yang penduduk muslimnya terbesar. Beragamnya agama, ras, suku, dan budaya di Indonesia tidak membuat perpecahan. Berbeda tapi tetap satu. Budaya timur, khususnya Indonesia sebagai negara yang beragama menjunjung tinggi etika tentu berseberangan dengan Barat.
Liberalisasi budaya akan menggerus gaya hidup dan pandangan masyarakat, menjadikan dunia hanya untuk bersenang-senang, mengejar materi, dan bebas melakukan apapun sehingga mengindahkan keyakinan agama, norma dan etika. Misalnya, dari segi gaya hidup, yang mana mereka wisman terbuka dan minimnya berpakaian apalagi ketika berada di pantai berjemur dengan pakaian renangnya. Ditambah lagi kebebasan berperilaku seks bebas, minuman keras, narkoba, dan legalnya hubungan sesama jenis atau LGBT.
Selain itu, industri pariwisata ini kental dengan maksiat, budaya syirik, dan sekulerisasi memisahkan agama dengan kehidupan. Pasti ada upaya dari pemerintah untuk menjaga keamanan dan antisipasi agar masyarakat Indonesia kondusif. Misalnya, digalakkannya pemberantasan terorisme dan radikalisme agar wisatawan mancanegara tidak khawatir dan takut berkunjung ke Indonesia. Padahal, makna teroris dan radikal merupakan senjata untuk memusuhi muslim dan menghambat kebangkitan Islam.
Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat seharusnya sadar, waspada dan berupaya agar penjajahan negara barat melalui investasi di sektor pariwisata dan datangnya wisman bisa ditanggulangi. Kontrol masyarakat penting, mencegah kebatilan dan menyeru kebaikan. Jangan sampai, gelar negara paling santai di dunia menjadikan Indonesia benar-benar santai ketika liberalisasi dan sekulerisasi merusak akidah atau keyakinan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. 
Sistem saat ini memang membuka peluang penjajah masuk atas nama wisatawan mancanegara dan investasi. Pariwisata yang seharusnya dijadikan sarana hiburan, rekreasi, dan dakwah (takjub akan kebesaran sang pencipta, menambah ikatan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan, dan menambah atau menumbuhkan keimanan) justru hanya dijadikan sebagai sarana meraup materi, hiburan, dan semata keduniawian bahkan mengundang bencana serta murka sang Pencipta.
Hanya sistem Islam yang mampu mencegah berbagai kemaksiatan, menjaga kemurnian akidah dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pariwisata dalam Islam merupakan ladang pahala sekaligus menunjukan kegemilangan dan kemulian Islam.Wallahu’alam.[]
Penulis adalah alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Comment