by

Ratna Munjiah: Kapitalis Membuat Kehidupan Makin Miris

 Ratna Munjiah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Carut marut pengaturan negeri ini, dikarenakan tidak amanahnya seorang pemimpin dalam mengurus rakyatnya, semua juga tak lepas dari penerapan idiologi kapitalisme, maka tidak mengherankan yang terjadi saat ini rakyat dihadapkan pada kesulitan hidup, dan kesulitan itu meliputi semua lini kehidupan. Di mana saat ini Indonesia berada dalam kondisi multikrisis akibat berkhidmat pada sekularisme dan demokrasi yang merupakan sistem warisan penjajah.
Bisnis.com,Jakarta- Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin mengatakan untuk memenangkan pemilihan Presiden 2019 perlu memiliki “modal besar” Untuk Indonesia maju, kita harus menang. Untuk menang, kita harus memiliki modal besar, kata Ma’ruf Amin saat pidato sebelum membacakan doa penutup pidato kebangsaan calon Presiden Joko Widodo dalam acara Konvensi Rakyat bertema Optimis Indonesia Maju di International Convention Center, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (24/2/2019).
Menurut Ma’ruf, pasangan Jokowi-Ma’ruf telah memiliki modal besar, yakni berbagai hal yang telah berhasil dicapai oleh pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai landasan kuat dan program-program yang akan ditawarkannya akan menambah kemajuan atas apa yang telah berhasil  dicapai pemerintahan selama ini.
Pengakuan pencapain program tersebut, sejatinya berbanding terbalik jika kita lihat kenyataan yang ada, bukannya keberhasilan yang ada justru rakyat semakin terpuruk dengan kondisi perekonomian saat ini, kita dapati semua harga kebutuhan pokok melonjak, akhirnya daya beli masyarakat menurun, dan pada akhirnya banyak pengusaha-pengusaha kecil pada gulung tikar.
Penerapan ideologi kapitalis-sekuler tidak akan pernah dapat menghantarkan Indonesia pada kesejahteraan hidup, meskipun Allah SWT telah memberikan berbagai kekayaan alam yang berlimpah. Justru dengan penerapan sistem kapitalis maka yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin jangan ditanya, tentu akan semakin miskin.
Dalam sistem kapitalis, yang berkuasa adalah para pemilik modal karena semua disandarkan pada asas manfaat. Terjadi kemerosotan moralitas dan tanggung jawab oleh penyelenggara negara hampir disemua tingkat, pusat dan daerah. Para elite pemerintahan saat ini pandai merangkai kata dalam pidato dan rapat-rapat kebinet, solusi yang ditawarkan pun tidak mencerminkan sebagai orang yang ahli dalam bidangnya.
Wakil rakyat yang seharusnya mengontrol penguasa pun ikut larut dalam permainan, bahkan penegak hukum banyak yang tersandung kasus hukum. Lengkap sudah penderitaan rakyat. Keadilan, keamanan, dan ketentraman yang diharapkan rakyatpun bagai impian yang kian jauh.
Bisa kita saksikan bersama, pembangunan di Indonesia saat inipun lebih mengandalkan  utang daripada sumber kekayaan alam, maka tak mengherankan lagi-lagi rakyat dibebani utang yang terus menumpuk. 
Disisi lain, kekayaan alam yang melimpah justru diserahkan kepada pihak asing. Banyak pihak yang mencatat sekitar 90 % migas Indonesia sudah ada di tangan asing.  Negara hanya kebagian sangat sedikit dalam bagi hasilnya. Setelah semua hampir habis, kini pemerintah pun mulai menjual BUMN dan yang dijual bukan BUMN yang bangkrut tapi justru yang sehat dan menguntungkan. 
Pemerintah pun tak segan menjual pembantu (TKA) ke luar negeri demi mengeruk devisa. 
Melihat faktanya demikian, lalu di manakah letak keberhasilan pembangunan yang dikatakan sudah berjalan sesuai program yang direncanakan.
Selama negara menerapkan sistem kapitalis maka bisa dipastikan negara akan semakin mendapatkan situasi yang miris. Dimana Sistem kapitalis-sekuler yang menjadi desain membangun negara bersifat eksploitatif dan hanya menguntungkan segelintir orang. Di negara kampium kapitalis sendiri, sistem ini terbukti gagal mensejahterakan rakyatnya. 
Asas sistem kapitalis menjauhkan unsur ruhiyah dan moral dari kehidupan dan menjadikan kehidupan hanya untuk meraih materi saja, sehingga dasarnya adalah perjuangan yang bersifat material untuk memperoleh alat pemuas kebutuhan yang juga bersifat materi. Inilah realitas yang terjadi di seluruh negara Barat, juga realitas yang mendominasi negara-negara Islam setelah diterapkannya sistem kapitalis atas negeri-negeri Islam.
Berbeda halnya dalam Islam, Merealisasikan politik ekonomi tidak cukup hanya dengan membolehkan kepemilikan dan berusaha pada sumber-sumber ekonomi. Pasalnya kebolehan ini hanya memungkinkan yang kuat dan memiliki kapital saja untuk berusaha. Adapun orang-orang mampu, namun belum mendapatkan pekerjaan, juga orang-orang lemah dan tua, tidak mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya.
Sehingga Islam membagi kepemilikan menjadi tiga, yaitu pemilikan individu, pemilikan umum, dan pemilikan negara. Syariah telah memberikan batasan yang sangat jelas tentang harta benda yang merupakan milik umum. Syariah tidak menjadikan negara berkuasa atas kepemilikan individu, tidak bebas mengambil alih milik seseorang diantara rakyatnya dengan alasan kepentingan umum. 
Keputusan negara harus terikat dengan syariah. Syariah mengharamkan negara menguasai harta benda rakyat dengan kekuasaannya. Rasulullah SAW bersabda : ”Tidak halal (mengambil) harta milik orang Islam, kecuali atas kerelaannya (HR Ahmad).” 
Rasulullah SAW pun bersabda “Sesungguhnya darahmu, harta-bendamu… adalah haram bagimu (HR Ahmad).”Hadis ini umum meliputi negara dan lainnya.
Terkait dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyatnya secara keseluruhan, syariah telah menetapkan pemenuhannya kepada negara secara langsung. Rasulullah SAW bersabda : ”Imam (kepala negara) adalah bagaikan pengembala dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas pengembalaannya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Sudah selayaknya pemimpin kita mengganti sistem kapitalis dengan sistem Islam, karena Indonesia hanya akan maju dan bangkit jika kembali pada jati dirinya sebagai umat Islam dan menerapkan hukum-hukum Islam, dan itu bisa terlaksana jika ada negara yang menerapkan Islam yakni Khilafah Islamiyah. Dengannya Indonesia akan merasakan kesejahteraan sesungguhnya. Wallahua’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + eight =

Rekomendasi Berita