by

Ratna Munjiah: Sexy Killers Itu Bernama Sistem Kapitalisme Liberal

Ratna Munjiah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Lagi-lagi dan lagi, masyarakat senantiasa  dizhalimi oleh para kapitalis dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada, baik di Indonesia secara umum maupun di daerah-daerah tertentu secara khusus. Seperti apa yang dihadapi oleh Kalimantan. 
Pengerukan SDA semakin memprihatinkan. Apalagi jika kita menyaksikan film Sexy Killers. Salah satu desa yang disoroti adalah desa Mulawarman. Betapa banyak lahan tambang batubara yang dimiliki secara pribadi oleh para pemilik kebijakan, dari anggota legislatif sampai para penguasa di luar legislatif.
Yang memprihatinkan yakni bagaimana kita dapati pengerukan yang terjadi luar biasa sesukanya, tanpa memperhatikan dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat. setelah dikeruk senantiasa dibiarkan begitu saja, maka yang ditinggalkan yakni kerusakan alam, pencemaran lingkungan, bencana demi bencana bagi masyarakat setempat. 
Menurut data yang ada, antara tahun 2011-2018 tercatat setidaknya 32 jiwa melayang akibat tenggelam dilubang bekas tambang tersebut. Dan menurut data secara nasional antara tahun 2014-2018 tercatat didapati korban sebanyak 115 jiwa. 
Ya, mereka mengeruk dengan sesukanya semua didasarkan pada hawa nafsu dan kecintaannya pada dunia, tanpa mengingat lagi bahwa sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah swt sejatinya mereka terikat pada aturan-aturan dari sang pencipta.
Sejatinya Allah SWT menciptakan manusia dilengkapi dengan penciptaan sumber daya alam (SDA) untuk mencukupi kebutuhan hidup tiap-tiap individu tersebut,dan  pemanfaatan terhadap SDA yang Allah swt berikan tentu harus berdasarkan syariah.
Namun saat manusia menerapkan sistem kapitalis tentu pelaksanaannya sangat jauh berbeda terhadap dirinya sebagai makhluk Allah. Karena dalam sistem kapitalis telah mengalihkan keterikatan dirinya terhadap aturan Allah, aktivitasnya selalu didasarkan pada asas manfaat, dimana tujuan utamanya untuk mendapatkan kebahagiaan seluas-luasnya sehingga pada saat mengeruk SDA (Batubara) terjadilah eksploitasi secara besar-besaran yang didasarkan pada hawa nafsu.
Sehingga tak mengherankan jika yang dilakukan oleh para penguasa dan pengusaha  mengeruk SDA dengan sesuka hatinya, Ideologi Kapitalis telah begitu sempurnanya mengakar dihati dan pikiran, dan mereka bangga menerapkan sistem kapitalis tersebut. 
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan al-Hasan bin Sufyan).
Dalam hadist ini Rasulullah Saw menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan hawa nafsunya supaya imannya sempurna.
Karena semua kemaksiatan itu muncul karena hawa nafsu lebih didahulukan daripada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul SAW. Karena itu Allah Swt melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu (QS an-Nisa (4):135.
Sejatinya sistem kapitalis telah membuat kerusakan dari semua lini kehidupan. Dimana Sistem kapitalis-sekuler yang menjadi desain membangun negara bersifat eksploitatif dan hanya menguntungkan segelintir orang,dan di negara kampium kapitalis sendiri, sistem ini terbukti gagal mensejahterakan rakyatnya. 
Asas sistem kapitalis menjauhkan unsur ruhiyah dan moral dari kehidupan dan menjadikan kehidupan hanya untuk meraih materi saja, sehingga dasarnya adalah perjuangan yang bersifat material untuk memperoleh alat pemuas kebutuhan yang juga bersifat materi. 
Berbeda halnya jika negara mau menerapkan sistem Islam. Hanya sistem Islam yang mampu mengatasi permasalahan tambang. Karena Islam hadir tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan, termaksud dalam pengelolaan kekayaan alam. Allah SWT berfirman “Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Qur’an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (TQS an-Nahl (16):89).
Menurut aturan Islam, kekayaan alam  (batubara) adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing. 
Diantara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah SAW:
Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : air, rumput, dan api (HR Ibnu Majah) Rasulullah SAW juga bersabda “Tiga hal yang tidak boleh dimonopoli : air, rumput, dan api (HR Ibnu Majah)”
Imam At-Tarmidzi meriwayatkan hadist dari Abyadh bin Hamal, bahwa ia meminta kepada Rasulullah SAW  untuk dibolehkan mengelola tambang garam, Lalu Rasulullah SAW memberikannya. Setelah ia pergi, ada seorang laki-laki bertanya: wahai Rasulullah, tahukah engkau apa yang engkau berikan kepadanya? sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu bagaikan air yang mengalir. “ Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Tariklah tambang tersebut darinya“ (HR. At-Tarmidzi ). Tindakan Rasulullah SAW membatalkan pegelolaan tambang yang sangat besar (bagaikan air yang mengalir) menunjukan bahwa barang tambang yang jumlahnya sangat besar tidak boleh dimiliki oleh pribadi, karena tambang tersebut merupakan kepemilikan umum.
Tentu yang menjadi fokus dalam hadits tersebut bukan “garam” melainkan tambangnya. 
Alhasil, menurut aturan Islam, tambang yang jumlahnya sangat besar baik garam maupun selain garam seperti batubara, emas, perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas dsb semuanya adalah tambang yang terkategori milik umum sebagaimana tercakup dalam pengertian hadits tersebut.
Sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka setiap muslim termaksud para penguasanya wajib terikat dengan seluruh aturan syariah Islam. 
Karena itu semua perkara dan persoalan  kehidupan termaksud masalah pengelolaan sumberdaya alam, harus dikembalikan pada al-Quran dan as-Sunnah.
Allah SWT berfirman “Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kalian mengimani Allah dan Hari Akhir (TQS an-Nisa (4):59).
Untuk itu, Islam dan syariahnya harus kita jadikan standar dan pedoman. Semua keinginan, kecenderungan dan kesukaan dan tidaknya harus kita tundukan pada ketentuan Islam dan Syariahnya. 
Sudah selayaknya pemimpin kita mengganti sistem kapitalis dengan sistem Islam, karena Indonesia hanya akan maju dan bangkit jika kembali pada jati dirinya sebagai umat Islam dan menerapkan hukum-hukum Islam, dan itu bisa terlaksana jika ada negara yang menerapkan Islam yakni Khilafah Islamiyah. Wallahua’lam.[]

Penulis adalah pemerhati sosial kemasyakatan

Comment

Rekomendasi Berita