by

Ratna Munjiah: Stop Kekerasan Seksual Pada Anak

Ratna Munjiah

RADARINDONESIAEWS.COM, JAKARTA – Kehadiran seorang anak bagi orang tua merupakan suatu pengharapan yang senantiasa dinantikan apalagi bagi pasangan yang baru membina bahtera rumah tangga. Anak adalah amanah yang diberikan Allah SWT kepada setiap orangtua, setiap anak dilahirkan diatas fitrahnya yakni suci tanpa noda, anak-anak terlahir tanpa ilmu, bahkan tidak mengetahui siapa orangtuanya, anak diibaratkan seperti kertas putih yang bersih tanpa tulisan atau goresan apapun.

Tidak ada cerita apapun di sana, tidak ada kisah satupun, disinilah peran kita sebagai orangtua menjadi sangat menentukan ke mana dan akan menjadi apa anak-anak kita, karena jika orangtua salah memberi warna atau menuliskan di kertas tersebut tentu akan menghasilkan sesuatu yang sangat berbahaya.
Namun saat ini, disadari atau tidak banyak orangtua yang mengabaikan anaknya. Banyak kita lihat, baca dan dengar bagaimana kondisi anak-anak yang terjadi di sekitar kita. Apalagi di zaman yang semakin maju secara materi seperti saat ini, jika orangtua tidak mengerti bagaimana cara mendidik anak maka bisa dipastikan anak-anak akan tumbuh tanpa arah. Seperti yang diberitakan di beberapa media. Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kaltim menjadi sorotan, selama 2018 terjadi 154 kasus.
Awal tahun 2019, Kaltim diterpa berbagai kasus pelecehan seksual anak yang terjadi di sejumlah kabupaten/Kota. Teranyar, Kaltim disuguhkan dengan pemberitaan betapa bejatnya kelakuan seorang guru agama di Kota Bangun yang tega mencabuli belasan anak didiknya yang masih duduk di bangku SD.
Di Kota Samarinda, dalam pekan ini, terungkap dua murid SD menjadi korban. Kasus pertama, murid SD kelas VI mengalami kekerasan seksual selama tiga tahun. Pelakunya ayah kandungnya sendiri berinisial MJ (60) yang kini masih diburu kepolisian, dan Af (16) kakak kandungnya yang sudah diciduk. Kasus kedua, korbannya anak perempuan, murid kelas VI SD. Pelakunya adalah pacarnya sendiri, dan telah diamankan kepolisian. (Tribunkaltim.co.Samarinda, 28/2/2019).
Didapati berita seperti demikian, tentu semakin membuat miris, di mana seharusnya orangtua dan keluarga terdekat mampu memberikan rasa aman terhadap anak-anaknya namun ternyata saat ini justru menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak-anak tersebut.
Maraknya kekerasan yang terjadi pada anak-anak tentu banyak penyebabnya, salah satunya yakni lepasnya pemahaman agama (Islam) di tengah individu, keluarga, masyarakat dan negara, ditambah lagi penetapan sanksi atau hukuman yang tidak jelas terhadap pelakunya merupakan salah satu pemicu semakin berkembangnya kekerasan yang terjadi pada anak.
Inilah hasil dari penerapan sistem sekuler yang memisahkan aturan agama untuk mengatur kehidupan, sehingga melahirkan kekerasan terhadap anak, dan gagalnya pembentukan generasi muda yang berkepribadian Islam.
Sejatinya dalam Islam menetapkan agar orangtua mampu melindungi, menjaga dan menjauhkan anak dari segala marabahaya baik fisik, psikis maupun pemikiran. Islam menetapkan bahwa masyarakat dan negara memiliki andil yang besar untuk melindungi anak dari segala tindakan kejahatan.
Dengan naluri melestarikan keturunan yang Allah SWT anugerahkan pada setiap hamba-Nya maka orangtua, kerabat, tetangga, anggota masyarakat dan juga pemimpin mempunyai tanggung jawab yang besar untuk melindungi anak-anak tersebut.
Islam memiliki sanksi yang tegas dalam menghukum para pelaku maksiat, sehingga pelakunya tidak akan pernah berani untuk mengulang kemaksiatan yang pernah dilakukan.
Dalam Islam, anak-anak memiliki kedudukan tinggi, karena mereka jika tidak memberikan manfaat bagi orangtua di dunia dengan mendoakannya, maka diakhirat nanti mereka akan memberikan manfaat kepadanya dengan mengangkat derajat orangtua disisi Allah. Sebenarnya kalau mau berkaca atau kembali menggunakan ajaran Islam, tentu Islam memiliki solusi dan jawaban atas segala permasalahan dalam kehidupan, begitupun dalam menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap anak.
Allah swt berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan bebatuan” (QS. At-Tahrim {66}:6)
Ali ra, berkata “Ajari anak-anakmu dan didiklah mereka! ”Hasan berkata, ”Ajarilah anak-anakmu agar taat kepada Allah dan ajarilah mereka nilai-nilai kebaikan”
Sesungguhnya Islam menempatkan anak pada posisi strategis sebagai aset generasi masa depan. Karenanya Islam memberi aturan yang menjamin tercapainya fungsi strategis dengan aturan yang kompehensif di berbagai aspek kehidupan termaksud persanksiannya.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orangtuanya bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW, bersabda :
Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, At-Tarmidzi, Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Orangtua wajib mendidik anak-anaknya tentang prilaku dan budi pekerti yang benar sesuai ajaran Islam, dan peran penting berikutnya adalah negara, karena jika negara salah dalam menetapkan sanksi bagi para pelaku pemerkosaan dan kekerasan seksual tersebut tentu akan menghasilkan penetapan hukum yang tidak bisa dijadikan solusi dalam menyelesaikan kasus tersebut, sehingga tidak mengherankan jika kasus kekerasan seksual akan terus berulang dan berulang.
Sudah seharusnya pemimpin kita menerapkan aturan Islam secara Kaffah (Keseluruhan), dan itu bisa terlaksanakan jika ada institusi negara yang menerapkannya dalam bingkai negara Khilafah Islam. Walahua’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita