Refleksi Nakba: Palestina Menanti Pembebasan Hakiki

Opini21 Views

 

Penulis: Aficena Sakila, S.S | Aktivis Dakwah Muslimah Deli Serdang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Peringatan Nakba setiap 15 Mei kembali mengingatkan dunia pada luka panjang rakyat Palestina, salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.

Nakba yang berarti “malapetaka” menjadi simbol penderitaan rakyat Palestina sejak 1948, ketika tanah mereka direbut secara paksa oleh Zionis Israel dengan dukungan kekuatan Barat.

Ratusan ribu warga Palestina terusir dari kampung halamannya. Rumah-rumah dirampas, desa-desa dihancurkan, dan kehidupan mereka berubah menjadi pengungsian berkepanjangan.

Sebagaimana ditulis Britannica.com (15/5/2026), konflik tersebut bermula dari deklarasi berdirinya Israel pada 1948 yang memicu eksodus besar rakyat Palestina dari tanah kelahirannya.

Hingga kini, luka Palestina belum juga berakhir. Rakyat Palestina masih menghadapi pengeboman, blokade, perampasan wilayah, penahanan tanpa proses hukum, hingga serangan yang menimbulkan krisis kemanusiaan berkepanjangan di Gaza.

Anak-anak kehilangan orang tua, rumah sakit menjadi sasaran serangan, dan masyarakat hidup dalam ancaman kelaparan akibat blokade yang terus berlangsung.

Sebagaimana dilansir Antara News (15/5/2026), Liga Arab kembali mendesak perlindungan global bagi rakyat Palestina. Sementara itu, sejumlah negara anggota BRICS juga menyerukan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina serta gencatan senjata di Gaza.

Namun hingga saat ini, berbagai seruan internasional tersebut belum mampu menghentikan agresi Israel secara menyeluruh.

Fakta itu memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem global dalam menghadirkan keadilan. Berbagai resolusi dan kecaman internasional terus disampaikan, tetapi rakyat Palestina tetap hidup di bawah bayang-bayang penjajahan. Dunia seolah hanya menjadi penonton atas penderitaan yang terus berlangsung di tanah Palestina.

Dalam pandangan penulis, tragedi Nakba juga memperlihatkan lemahnya persatuan dunia Islam. Negeri-negeri muslim masih berjalan dengan kepentingannya masing-masing, terpisah oleh batas negara, nasionalisme, dan orientasi politik yang berbeda.

Padahal umat Islam memiliki jumlah penduduk besar serta kekayaan sumber daya yang melimpah.

Penjajahan Palestina bukan semata persoalan wilayah, tetapi juga persoalan politik dan kemanusiaan global yang membutuhkan kekuatan nyata untuk menghentikannya.

Karena itu, penyelesaian konflik Palestina dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kecaman diplomatik tanpa langkah yang benar-benar memberi tekanan terhadap penjajahan.

Sejarah mencatat, Palestina pernah berada dalam situasi damai di bawah kepemimpinan Islam selama berabad-abad. Kaum muslim, Yahudi, dan Nasrani hidup berdampingan dalam perlindungan negara.

Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga menjadi catatan penting bagaimana persatuan umat mampu menghadirkan kekuatan besar dalam menjaga wilayah dan kehormatan umat.

Karena itu, menurut penulis, perjuangan membebaskan Palestina harus dibangun melalui kebangkitan kesadaran umat Islam untuk kembali menjadikan syariat Islam sebagai pedoman kehidupan.

Persatuan umat dinilai menjadi faktor penting dalam menghadirkan kekuatan politik, ekonomi, dan pertahanan yang mampu melindungi negeri-negeri muslim dari penjajahan dan intervensi asing.

Di tengah situasi dunia yang terus berubah, tragedi Palestina menjadi pengingat bahwa solidaritas kemanusiaan tidak boleh berhenti pada slogan dan simpati semata. Palestina bukan hanya persoalan rakyat Palestina, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang menuntut kepedulian nyata dari masyarakat dunia.

Sepenggal tulisan di dinding Masjid Al-Aqsa berbunyi:

لـن تركع أمة قائدها محمد

“Bangsa yang dipimpin oleh Muhammad ﷺ tidak akan pernah menyerah.” Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment