by

Rina Tresna Sari,S.Pdi: Harga Melonjak Semaunya, Ekonomi Islam Solusinya

Rina Tresna Sari,S.Pdi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bagai tamu tak diundang, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih yang meroket diikuti kenaikan harga bahan pangan lainnya. Kenaikan harga yang rutin terjadi jelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri ini seolah sudah dianggap wajar mekipun kaum ibu dan emak-emak menjerit. Namun apalah daya pemerintah tak bergeming. 
Dilansir radarindonesiaews.com–  Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengalami kenaikan signifikan bahkan bisa dikatakan ganti harga. Satu minggu yang lalu harga bawang merah perkilonya dalam kisaran Rp15 ribu – Rp20 ribu kini harga bawang merah menjadi Rp40 ribu perkilogramnya.
Bawang putih lebih dulu mengalami kenaikan sangat tinggi. Jika sebelumnya harga bawang putih hanya mencapai Rp23 ribu perkilogramnya kini harga bawang putih mencapai Rp43 ribu perkilogramnya.
Kedua komoditas ini mengalami kenaikan yang sangat tajam dalam satu minggu terakhir sebagaimana dikatakan Rus Widarmi, salah seorang pedang sayur-mayur di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY.  Kenaikan harga komoditas ini tentunya dikuti  kenaikan harga bahan pangan lainnya
Walaupun pemerintah sudah melakukan upaya antisipasi lonjakan harga, namun faktanya, setiap jelang Ramadhan dan Idul Fitri, harga bahan pangan seperti bawang merah, bawang putih, gula, minyak, cabe dan yang lainnya selalu mengalami kenaikan. Tentunya  hal ini berimbas kepada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah dituntut pintar dalam mengatur pendapatan yang ada menghadapi tren tahunan ini. Yang sebelumnya rakyat sudah menerima kenaikan BBM, listrik, gas, dll. Lagi dan lagi rakyat yang menjadi korban, Menelan kegetiran menghadapi semakin susahnya hidup dalam himpitan ekonomi. Lantas apa sebenarnya penyebab hal ini terus berulang tiap tahun? 
Setidaknya ada dua komponen yang menyebabkan kenaikan harga pangan jelang ramadhan dan idul fitri. Komponen pertama adalah ancaman inflasi yang kemungkinan terjadi dan inflasi yang bergejolak kerap menjadi pemicu lonjakan harga bahan pangan  di Indonesia. 
Selanjutnya ada masalah impor yang sejauh ini terus dilakukan pemerintah.  Ibarat dua mata uang yang tak bisa di pisahkan. Inflasi dan impor adalah problem yang selalu terjadi ketika negara menerapkan sistem ekonomi liberal (kapitalis). Sistem ekonomi yang sering berkaitan dengan pasar bebas dan dukungan terhadap kepemilikan individu yang  menguasai aset.
Dalam ekonomi liberal, keputusan perekonomian sebagian besar ditentukan oleh masing-masing individu, bukan lembaga,organisasi bahkan pemerintah. Pemerintah hanya berperan sebagai pengawas saja. 
Pemerintah hanya sebagai badan birokrasi dan menjaga ketersediaan bahan pokok. Hal ini sesuai dengan tujuan ekonomi liberal untuk menghilangkan kebijakan ekonomi proteksionisme. 
Karenanya individu mendapatkan kebebasan melakukan aktivitas ekonomi. Prioritas utamanya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi pelaku usaha itu sendiri. Untuk tujuan itu pelaku usaha akan bersaing bebas dengan yang lain. Apapun akan dilakukan, tak lagi mengindahkan halal atau haram. Serba bebas. Karenanya dalam ekonomi liberal akan ditemui banyak sekali kecurangan seperti monopoli, penimbunan bahan pokok,dan permainan harga. Wajar jika persaingan bisnis tidak sehat pun merajalela.
Sistem ekonomi liberal tidak mempertimbangkan humanis kemanusiaan, apa lagi nilai religius karena sistem ekonomi ini lahir dari rahim sekulari.  Kegiatan ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak diserahkan kepada manusia untuk mengaturnya dan disandarkan oleh mekanisme pasar tanpa pertimbangan kemanusiaan ap lagi ketuhanan. Karenanya, kegiatan ekonomi dikuasai oleh mereka yang mempunyai kekuatan modal besar. Perputaran kekayaan hanya berlaku pada beberapa orang saja. 
Akibatnya terjadi kesenjangan sosial; yang kaya makin kaya yang miskin tambah dimiskinkan oleh sistem. Muncul rentetan masalah yang lebih parah dengan terjadinya inflasi mendadak sehingga kondisi perekonomian negara menjadi tidak stabil. 
Berbeda halnya dengan sistem perekonomian Islam yang bersumber dari ajaran samawi dan dilandaskan kepada humanisme universal atas teks dan konsep Al- Quran dan As-Sunah Muhammad SAW yang tertera dalam Hadits. 
Dalam konsep ekonomi Islam, setiap individu diberikan kebebasan untuk melakukan upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya. Salah satunya adalah dengan melakukan transaksi jual beli. Jual beli apapun pada asalnya boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.
Allah ta’ala berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al Baqarah :275)
Dalam tataran praktis, jual beli dalam Islam itu harus dilandasi saling suka  antara kedua belah pihak, tidak curang, jujur, tidak ada penipuan, persaingan yang sehat sesuai dengan ketentuan syariah, transparan serta keadilan. Distribusi barang dan jasa harus lancar. Sebagai wujud menciptakan mekanisme pasar yang Islami. Sesuai dengan nash syara.
Dalam islam, praktek monopoli atau penimbunan barang dengan tujuan membuat kelangkaan barang di pasaran sehingga melambungnya harga dengan tegas dilarang.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menimbun barang, maka ia telah berbuat kesalahan (dosa).”  (HR. Muslim)
Dalam pandangan Islam negara memiliki hak untuk melakukan intervensi kegiatan ekonomi baik itu dalam bentuk pengawasan, pengaturan maupun pelaksanaan aktivitas ekonomi yang tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat. Bahkan negara bisa melakukan intervensi harga dengan kondisi yang dibenarkan syara’.
Berikutnya penggunaan mata uang kertas yang tidak di back up emas, mengakibatkan negara dengan mudah mencetaknya. Maka akan terjadi kelebihan uang yang beredar di masyarakat berimbas pada kenaikan inflasi. Solusinya dengan menggunakan standar mata uang emas dan perak. Hal ini telah digunakan pada masa Rasulullah SAW dilanjutkan pada masa kekhilafahan selama 14 abad. Dan terbukti dalam sejarah, sangat ampuh mencegah terjadinya inflasi. Alhasil rakyat hidup tenang tanpa dihantui kenaikan komoditas bahan pokok, sehingga kesejahteraan rakyat terwujud.
Demikianlah sistem ekonomi  Islam yang  mampu menjawab dan menyelesaikan, permasalahan ekonomi. Wallahua’lam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita