by

Rizki Amelia Kurnia Dewi, S.I.Kom: Memaknai Perjuangan Kartini

Rizki Amelia Kurnia Dewi.[Dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kartini selalu dilekatkan dengan sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita. Mengangkat harkat dan derajat kaum wanita yang dahulu dianggap sebagai pihak yang lemah dan tak diperhitungkan, menjadi kaum yang tegas, mandiri, serta berpendidikan. Kisah-kisah Kartini yang selalu dikenang adalah tentang perjuangannya menjadikan para wanita dapat mengenyam bangku sekolah. Kartini seolah ingin menjelaskan kepada dunia, bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin laki-laki maupun wanita.
Namun, sangat disayangkan, perjuangan mulia Kartini itu kini justru disalah artikan oleh para pengemban ide feminisme. Atas nama emansipasi wanita, kaum feminis berkoar-koar meneriakkan kesetaraan gender. Menuntut agar para wanita diberikan posisi yang setara dengan laki-laki. Tidak hanya dalam hal pendidikan, kaum feminis juga menuntut kesetaraan dengan kaum adam dalam segala hal, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga gaya berpakaian. Bahkan, mereka rela melakukan aksi ‘telanjang dada’ hanya demi sebuah protes ‘kenapa hanya laki-laki yang boleh bertelanjang dada, sedangkan kami tidak?’. Sungguh, ini adalah hal bodoh yang sangat memalukan dan tidak masuk akal.
Hari ini, kita melihat banyak para wanita yang suka berpakaian seksi. Katanya lebih modern. Padahal, tidakkah mereka sadar, justru akibat pakaiannya itu mereka sering dilecehkan. Wanita masa kini juga lebih bangga menjadi wanita karir. Bekerja siang malam tanpa lelah. Hingga lupa dengan kewajiban utamanya sebagai pengurus rumah tangga, keluarga, dan anak. Bahkan, mereka lebih rela tersibukkan oleh pekerjaan karirnya dari pada tersibukkan dalam urusan dakwah memperbaiki masyarakat. Mereka terlena dengan kesibukan duniawi yang semu, hingga lupa menyiapkan diri untuk kehidupan yang lebih kekal.
Duhai, andai saja Kartini masih hidup, pastilah beliau bersedih menyaksikan kondisi saat ini. Karena perjuangan mulia yang bertahun-tahun ia lakukan, ternyata justru dirusak dan diselewengkan oleh para pejuang kebebasan. Cita-citanya untuk memperbaiki masyarakat dengan mengangkat harkat dan martabat kaum wanita, ternodai oleh ide-ide feminis yang justru semakin merendahkan martabat wanita.
Padahal, sejatinya Kartini ingin menunjukkan bahwa wanita itu tidak layak dilecehkan, direndahkan, dan dipandang sebelah mata. Sebaliknya, wanita seharusnya dimuliakan, karena dari rahimnya lah terlahir generasi pemimpin bangsa. Maka kualitas seorang wanita haruslah diperhatikan. Karena itulah Kartini memperjuangkan agar wanita dapat mengenyam pendidikan sebagaimana laki-laki. Sehingga ia mampu mendidik dan menyiapkan generasi yang berkualitas di masa depan. 
Allah SWT. telah melindungi dan menjaga hak-hak kaum wanita, sebagaimana Allah telah mensyari’atkan hak waris atas wanita, hak nafkah bagi wanita dari suaminya, hak mendapatkan pendidikan hingga memperoleh ilmu tauhid yang benar dan lurus serta hak untuk mendapatkan ilmu tentang hukum-hukum Islam (syariat Islam). Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW. juga memprioritaskan hak pendidikan kepada para sahabat wanita. Di antara sahabat wanita berkata kepada Rasulullah SAW., “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki pergi berjihad, berhaji, dan berperang bersamamu, maka jadikanlah satu hari saja untuk kami!”. Maka Rasulullah mengkhususkan satu hari Senin untuk mengajar kaum wanita. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa sejatinya laki-laki dan wanita itu memiliki hak yang sama dalam urusan pendidikan serta kehidupan yang layak. Namun, mereka diberikan oleh Allah peran dan tugas masing-masing yang berbeda, tetapi saling melengkapi satu sama lain. Laki-laki bertugas mencari nafkah, sedangkan wanita berperan melahirkan dan mendidik anak-anak. Ketika mereka telah memahami peran dan tugas masing-masing, mereka pun dapat hidup berdampingan dan saling bekerja sama dalam menjalankan perannya. Sehingga terciptalah kehidupan yang harmonis tanpa perlu saling menuntut kesamaan gender sebagaimana yang dilakukan oleh kaum feminis.[]
Penulis adalah pemilik RBB “Cerdas Media

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × five =

Rekomendasi Berita