![]() |
| Rosmiati, S.Si |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jauh sebelum Islam hadir menyapa dunia dengan keagungan dan kemuliaan syariatnya. Kehidupan wanita tidaklah diperhitungkan dalam kancah kehidupan. Khususnya apa yang terjadi pada masyarakat Arab Jahiliyah. Mengapa kita mengambil kisah dari negeri arab? Sebab dari sanalah cikal bakal Islam pertama kali.
Masyarakat Arab di masa jahiliyahnya menjadikan wanita hanya seabagi tempat pelampiasan hawa nasfu semata. Wanita saat itu pun dianggap aib yang teramat memalukan bagi setiap anggota keluarga. Ketika ada seorang Isteri yang hendak melahirkan. Kala itu kegelisahan dan kecemasan membayang-bayangi sang suami. Raut wajahnya seakan berkata bahwa ia tak menginginkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan keluar dari Rahim sang isteri.
Jika memang yang lahir ke dunia itu bayi perempuan. Seketika wajah-wajah para lelaki (suami) menjadi merah bak kepiting rebus. Marah bahkan murka dengan kelahiran sang bayi. Karena kelak ia hanya menyisahkan jejak memalukan bagi nasab dan keluarganya. Maka untuk menghindari hal itu. Bayi-bayi mungil yang tak berdosa itu pun harus rela menerimah kenyataan pahitnya hidup dikubur hidup-hidup oleh sang ayah.
Namun, kelamnya kehidupan masyarakat Arab kala itu seketika berubah ketika cahaya kemulian Islam telah menancap di bumi, melalui seorang insan mulia, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah Muhammad Saw. Melalui lisannya dan seluruh peluh perjuangan serta pengorbananya, Islam bisa tersebar seantero arab, menyebar keluar menyebrangi gurun pasir dan lautan hingga syariatnya mampu dikenal dan merubah kebiasaan buruk hidup ummat manusia di masanya.
Wanita pun mulia bersama Islam. Islam pun memuliakannya dengan memberikan apa yang tak dimiliki oleh makhluk selainnya yakni kaum lelaki. Ia diberi anugerah untuk bisa melahirkan insan mulia. Dalam dirinya (Rahim) mampu hidup sosok mahluk ciptaan ilahi. Ia pun mampu mendidik hingga membesarkannya.
Islam pula memuliakannya dengan menurunkan satu surah dalam Al-Qur’an yang berisi kisah tentangnya. Allah swt pun mengatur tata cara bergaul dan berpakaiannya agar tetap terjagah marwahnya. Bahkan Rasul pun mengibaratkan baiknya wanita sebagai tanda akan baiknya sebuah negara. Syariat pun memuliakannya dengan tidak membebaninya dengan setumpuk aktivitas mengais pundi-pundi rupiah. Cukuplah ia berdiam di rumahnya. Mendidik anak-anaknya dan mengurus keperluan suaminya.
Rasul pun mengulang-ulang jawabannya ketika seorang sahabat bertanya kepadanya, kepada siapakah aku hendak berbakti terlebih dahulu wahai Rasulullah? Ibumu…ibumu…ibumu…barulah kemudian ayahmu. Itulah jawaban beliau. Bahkan kemuliaan tertinggi bagi seorang wanita ketika syurga berada di bawah telapak kakinya. Murkanya adalah murka sang maha pencipta.
Ketika Masa tampuk kepemimpinan Islam dibawah komando Rasulullah Saw. Wanita pun terlindungi kemuliaannya. Bahkan kisah pembelaan Rasulullah terhadap seorang wanita muslimah tercatat indah oleh tinta sejarah peradaban Islam. Ribuan pasukan pun dikerahkan untuk memenuhi seruan seorang wanita yang meminta pembelaan dan pertolongan kepadanya. Bahkan perang terhadap para pelaku itu memakan waktu hingga beberapa hari. Padahal jika ditelusuri lebih dalam si wanita muslimah itu tidak dilecehkan sampai serendah kondisi wanita muslimah saat ini. Yang mana hari ini kondisi para wanita benar-benar direndahkan namun tak ada pembelaan terhadap mereka
Alkisah wanita tersebut sedang asyik melihat-lihat perhiasan di pasar para orang yahudi. Tiba-tiba datang beberapa orang hendak menyingkap kerudung sang muslimah. Bersamaan dengan itu, sang pengrajin perhiasan diam-diam mengikat ujung jilbabnya. Seketika muslimah tersebut ingin bangkit, aurtanya pun nampak dan dilihat oleh banyak orang. Ia pun kemudian berteriak meminta pertolongan. Munculah seorang lelaki muslim yang datang menolongnya dengan membunuh sang pengrajin yang karena ulahnya aurat sang muslimah tersingkap. Orang-orang yahudi pun tidak tinggal diam. Mereka pun lalu membunuh sang pemuda muslim tadi. Inilah kemudian membuat marah sang baginda Nabi Saw.
Namun, sungguh teramat jauh berbeda dengan kondisi hari ini. Kasus yang menimpah kaum muslimah bukanlah hanya sekedar tersingkapnya aurat, bahkan mereka pun dilecehkan. Lebih dari itu, mereka pun hidup di bawah bayang-bayang kehidupan yang memang sengaja hadir untuk mengeksploitasi kaum wanita melalui sistem tatanan kehidupannya yang liberalis dan hedonis.
Alhasil lihatlah kasus yang menimpah wanita muslimah di Palestina, Suriah, China, Yaman, Afganistan, muslimah rohingya dan muslimah lainnya. Sungguh teramat sadis dan tak berperi kemanusiaan. Bahkan yang baru-baru ramai di negeri ini yaitu kasus pelecehan yang dialami Bu Nuril seorang tenaga pendidik SMP di Mataram. Ia korban namun sayang ia juga yang dihukum dengan penjara 6 bulan dan denda 500 juta.
Mereka pun harus pasrah menerima meskipun hati merintih tiada akhir. Jika dulu Rasulullah Saw mengerahkan ribuan pasukan untuk menolong wanita yang tersingkap auratnya. Lalu bagaimana dengan kini dimana ummatnya para wanita muslimah yang dilecehkan, diperkosa, lalu dibunuh dan dibuang. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana marah dan murkanya beliau.
Maka berdiam diri terhadap penindasan yang tengah di alami kaum wanita hari ini akan menjadi beban berat di hadapan Allah swt dan Rasul-Nya di yaumil akhir kelak. Utamanya bagi pengurus urusan ummat. Sebab hakikatnya pemimpin ialah melindungi. Terlebih lagi terhadap mereka yang lemah.
Wallahu’alam










Comment