by

Sania Nabila Afifah*: Pilkada Serentak Mampukah Membawa Perubahan?

-Opini-16 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perubahan, siapa yang tak ingin hidup ini lebih baik, pastinya semua menginginkan perubahan.

Karena sudah menjadi sunnatullah pada setiap diri manusia, memiliki fitrah cenderung pada kebaikan, bukankah begitu? Namun manusia terkadang belum menemukan jalan yang tepat, dan benar agar bisa mewujudkan kebaikan tersebut. Terkadang sudah berusaha namun, menemui kegagalan.

Sebagaimana halnya dengan pilkada yang akan segera digelar serentak, itu merupakan bentuk dari potensi manusia yaitu ingin hidup lebih baik. Tetapi apakah nantinya mampu memberikan perubahan terhadap kondisi yang terjadi saat ini?

Jika melihat banyaknya problem, apakah para parpol yang mengusung paslon beserta jargonnya akan berhasil meraih visi misinya?

Sebab jika diamati dari tahun ke tahun, pergantian paslon yang sudah terpilih belum mampu memberikan perubahan yang siknifikan. Buktinya masyarakat masih banyak yang menderita akibat kebijakan yang tidak tepat.

Kesejahteraan yang belum dirasakan oleh semua elemen masyarakat. Lebih-lebih di era pandemi covid 19 ini, sepertinya semakin menyulitkan rakyat. Dari sisi kesejahteraan untuk memenuhi sandang, pangan dan papan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain semakin runyam.

Kegagalan pelayanan penguasa, baik di pusat maupun di daerah seringkali tidak sesuai dengan apa yang mereka gembar-gemborkan pada saat meminta dukungan masyarakat. Bahkan terkadang lupa dengan janji manisnya. Memang seperti itulah keadaannya, kalaupun terwujud itu hanya untuk segelintir orang saja.

Padahal tujuan awal partai politik yang didirikan, dan para aktivisnya yang terpilih merupakan sarana untuk memberikan perubahan.

Lantas mengapa selalu gagal?
Jika dikaji kembali tujuan utama pembentukan partai tersebut untuk kebangkitan umat.

Tetapi kebangkitan yang seperti apa?, itu belum ada pada setiap parpol yang ada saat ini. Sebab falsafah yang dibangun untuk mendirikan partai tersebut masih terlalu umum dan juga tidak jelas. Misalnya, parpol A dengan slogan “Kebangkitan Bangsa” , kebangkitan bangsa yang seperti apa, yang akan diraih itu belum tergambar di dalamnya.

Pantas saja ketika parpol itu menang dan memimpin selalu menemui kegagalan. Jadi falsafah atau ide dasar pemikiran dalam gerakan atau partai politik itu masih terlalu umum.

Dari falsafah itu juga yang akan menentukan metode untuk meraih tujuannya. Namun karena dari awal sudah keliru. Maka akhirnya akan gagal, di sebabkan ide atau pemikiran itu bersifat umum.

Juga para aktivis yang ada di dalamnya itu tidak memiliki kesadaran yang benar dengan aktivitas yang mereka lakukan. Dalam aktivitasnya hanya berbekal semangat saja, untuk mencapai tujuannya.

Namun karena falsafahnya tadi sudah terlalu umum maka para aktivis partai juga akan menemui kejumutan dan juga kebingungan, dan akan berakhir pada kegagalan. Di samping para aktivis hanya fokus meraih kemaslahatan dirinya dan partainya. Sehingga lupa akan tujuan awal pembentukannya.

Bisa juga penyebab kegagalan itu dari ikatan yang mengikat para aktivis partai tersebut adalah ikatan yang tidak shahih, yaitu hanya untuk meraih kemashlahatan diri dan partainya. Jika mereka mendapatkan manfaat dari aktivitasnya, maka dia akan bergerak sesuai kepentingan mereka dan para anggota.

Itulah kondisi mengapa partai politik itu pada akhirnya selalu menemui kegagalan. Gagal dalam mewujudkan kebangkitan umat.

Dan kegagalan itu terus berulang-ulang terjadi, tidak ada pengaruh walaupun berulang kali tumbang dan tumbuh parpol baru. Itulah partai politik yang ada saat ini, dalam sistem demokrasi. Dan bukan tidak mungkin akan ada partai politik baru yang mampu merubah kondisi negara dan umat manusia.

Jalan satu-satunya untuk membangkitkan umat yaitu dengan memberikan pemikiran yang shohih atau benar sesuai Islam. Dalam Islam aktivitas apa sih, yang tidak diatur.

Segala aktivitas manusia diatur. Agar dapat membangkitkan umat yaitu dengan memberikan pemahaman yang benar tentang alam semasta manusia dan hidup, serta apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan setelahnya.

Dengan pemikiran tersebut, manusia akan mampu berfikir benar sesuai Islam. Itualah akidah yang terpancar darinya peraturan, maka menjadikan berfikir benar ini sebagai landasan berpijaknya manusia dalam melaksanakan aktivitasnya.

Dengan itulah akan muncul kesadaran yang benar bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah dan terbatas serta butuh kepada yang lainnya. akidah Islam yang terpancar darinya peraturan. Dan hendaknya akidah itu menjadi asas partai politik shohih yang dibangun berlandaskan falsafah tersebut akan mampu membangkitkan manusia. Juga akan mampu berpengaruh bagi kehidupan manusia diseluruh alam.

Maka harus ada parpol shohih dengan falsafah yang shohih, para pengembannya atau aktivisnya memiliki kesadaran yang shohih, ikatannya juga hanya ikatan yang shohih yang lahir dari falsafah shohih yaitu akidah Islam. Bahwa setiap manusia hanya bersatu dengan ikatan akidah Islam bukan yang lain.

Sebagaimana telah Rasulullah contohkan bagaimana Beliau membentuk partai politik Islam yaitu dengan mendakwahkan Islam serta diemban oleh para pengikutNya. Berawal dari Mekkah hingga ke seluruh penjuru jazirah arab.

Terbukti Islam mampu memberikan pengaruh yang amat besar ketika Islam dijadikan sumber hukum untuk mengatur kehidupan manusia.

Dari falsafah Islam itu juga mampu mencetak para pejabat yang bertaqwa kepada Allah, menjalankan fungsi kekuasaan hanya semata mata mengharap rido Allah Swt serta ketaqwaan individunya. Bukan ingin menumpuk harta dan jabatan yang tinggi.

Dengan ketaqwaan, para pejabat akan selalu merasa diawasi oleh Allah yang itu muncul dari taqarrub kepeda Allah. Mereka sadar dalam setiap tingkah laku dan kebijakan itu kelak akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah Swt.

Maka dari itulah urgennya membentuk parpol yang shohih guna mewujudkan kebangkitan umat serta berpengaruh yang akan dirasakan oleh setiap masyarakat.

Disebabkan bermunculan para pejabat pejabat yang amanah dan bertaqwa dan itulah karakteristik pemimpin ataupun pejabat dalam sistem politiknya Islami yang sesuai fitrah manusia, bukan sistem politik yang kotor yang bertentangan dengan fitrah manusia. Wa’allahu a’lam bisshowab.[]

 

Komunitas Muslimah Rindu Jannah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × one =

Rekomendasi Berita