![]() |
| Sania Nabila Afifah |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pesta demokrasi akan tiba, setiap capres cawapres mulai melakukan banyak agenda politik untuk bisa mendapatkan banyak dukungan dari ummat. Ke dua pasangan capres cawapres masing-masing memiliki daya tarik tersendiri sesuai dengan figur mereka masing. Dalam metode untuk memperoleh dukungan, menjadi hal yang terkadang tak biasa dilakukan menjadi wajib bagi mereka. Demi memperoleh suara, yang tujuannya tidak lain adalah kekuasaan. Semua kalangan mulai tokoh, Ulama hingga penjual tomat mereka datangi. Ibarat kata “pepatah ada udang dibalik batu” , yaa…begitulah kira-kira.
Sebagaimana kunjungan yang dilakukan oleh paslon 01 dalam rangka menghadiri acara Sarang Berdzikir untuk Indonesia Maju. Di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah pada Jumat, 1 Februari 2019. Kehadiran ini kumben di acara tersebut beredar video yang viral di media sosial.
Di dalam video tersebut dapat dilihat bahwa Maimoen membacakan doa sambil melihat secarik kertas kuning yang dikeluarkan dari sakunya. Doa yang dilantunkan dengan bahasa arab, namun diketahui potongan doa yang memiliki arti kurang lebih “yaa Allah, inilah pemimpin, inilah pemimpin Prabowo, jadikanlah yaa Tuhan kami,” petikan doa yang terselip nama Prabowo itu terekam.
Kemudian, Maimoen dihampiri oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy alias Romy usai membacakan doa. Setelah itu Maimoen diminta untuk kembali berdoa seperti meralatnya. Dilansir dari Tempo.com
Sedangkan Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Miftah Nur Sabri menilai bahwa kubu Jokowi panik hingga Ketum PPP Romahurmuziy membuat video klarifikasi soal dukungan Maimoen Zubair dalam pilpres yang diunggah di Instragram, Romy menegaskan dukungan mbah Maimoen kepada pasangan calon presiden nomor 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.
” kurang elok dalam kamarnya di video sama gus Romy meminta endorser Jokowi duduk gini-gini kalau pak Prabowo tak seperti itu,” kata Miftah di kawasan Tamrin, Jakarta pusat, sabtu (22/1)
Politisi Gerindra itu menduga Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf mengkondisikan dukungan mbah Maimoen demi elektoral Jokowi. Sebab, kata dia, elektabilitas Jokowi sebagai petahan belum aman. Kutip dari Merdeka.com
Demokrasi meniscayaan perolehan suara thariqah mencapai kekuasaan, rentan menghalalkan segala cara. Tak memperhitungkan lagi siapa yang dihadapinya entah dia itu seorang Guru, Ulama tak lagi menjunjung tinggi akhlaqul karimah. Apalagi sampai memasuki kamar seorang Guru atau Ulama.
Ulama dalam pandangan demokrasi rentan menjadi alat legitimasi kekuasaan. Menjelang pemilu dan mengeluarkan kebijakan. Politisasi Islam yang biasa dilakukan oleh pasangan capres dan cawapres tentang Islam dan ummat Islam selalu meningkat. Maklum, negri yang mayoritas Muslim. Siapa saja yang unggul dalam pemilu harus memperhitungkan faktor ini. Yang abai maka bersiaplah menanggung resiko pahit.
Politisasi Islam adalah menjadikan Islam sebagai alat untuk meraih kepentingan politik. Seperti melakukan kunjungan ke pesantren-pesantren menggandeng Ulama dan lainnya. Peci atau sorban mungkin tetap dikenakan, tapi yaa sebatas itu. Tak lebih mereka tetap melalaikan bahkan menolak prinsip-prinsip Islam dalam politik. Ya seperti yang marak terjadi saat ini, ulama dan Ustadz dipersekusi, menuduh siapa saja yang meinginkan tegaknya Islam. Dengan sebutan radikal, intoleran dan lainnya. Tak ada lagi narasi manis seperti yang mereka lakukan ketika menjelang pemilu. Atau mengeluarkan kebijakan seperti haram golput dan lainya.
Seharusnya antara Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Bahkan politik adalah salah satu bentuk pengamalan Islam. Karena itu politik harus bersandar pada kepentingan Islam. Bukan hanya dijadikan alat untuk meraih dukungan untuk mendapatkan suara.
Peran Ulama dalam Islam sebagai pihak yang terdepan dalam melakukan muhasabah kepada penguasa.
Tugas penting ulama adalah memastikan kekuasaan menjalankan fungsinya sesuai dengan Islam. Ketika penguasa menyimpang, ulama harus tampil ke depan meluruskan penyimpangan mereka. Ulama tidak boleh bersikap lemah. Ulama harus terus mekakukan koreksi hingga penguasa tunduk dan berjalan krmbali di atas Islam.
Hakikat dan fungsi kekuasaan ditegakkan untuk menerapkan Islam secara kaffah dan menyebarkan ke seluruh penjuru dunia. Asas dan hukum yang diberlakukan untuk mengatur seluruh urusan rakyat dan negara harus bersumber dari Islam semata. Imam al Ghazali mengatakan: “Agama Islam adalah asas dan kekuasaan adalah penjaga. Kekuasaan tanpa asas binasa, sedangkan agama tanpa penjaga akan lenyap ( Al- Ghazali, Al-Iqtishad fi al I’tiqad,1/76).Wa-Allahu a’lam bish-showab.[]












Comment