Seremonialisme Santri: Ramai Perayaan, Sepi Peran Perubahan

Opini278 Views

Penulis: Afifah Qia | Mahasantriwati Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Santri selalu digambarkan sebagai penjaga negeri, garda terdepan dalam perjuangan. Mereka berjuang bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu dan keyakinan membela agama dari upaya penjajahan.

Kisah perjuangan santri adalah nyala yang tak pernah padam dalam sejarah bangsa—menumbuhkan inspirasi yang hingga kini tetap mengalir dalam denyut peradaban.

Tanggal 22 Oktober menjadi momen penuh makna. Hari Santri Nasional ditetapkan untuk mengenang Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, sebagai panggilan suci bagi para santri dan ulama untuk membela kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan (UICI, 2024).

Kini, setiap peringatan Hari Santri diramaikan dengan berbagai seremoni: panggung megah, pawai santri, lomba tahfidz, festival budaya, hingga upacara bendera di pesantren maupun sekolah.

Ribuan santri berbaris, sorak-sorai memenuhi lapangan, dan media berlomba menyiarkan gegap gempita perayaannya. Namun, pertanyaan penting muncul: apakah kita sungguh memaknai peran santri, atau sekadar merayakan simbolnya?

Kisah heroik masa lalu kerap dielu-elukan di atas panggung, sementara semangat jihad yang menjadi ruh perjuangan sering tertinggal di balik gemerlap acara. Hari Santri pun kian tampak sebagai panggung kebanggaan tahunan, bukan ruang pembentukan kesadaran.

Dulu, santri mengusir penjajah dengan keberanian, ilmu, dan keyakinan. Mereka bukan sekadar pelajar, tetapi pejuang yang memahami arti menjaga akidah dan membela umat.

Kini, mereka menghadapi penjajahan yang lebih halus: penjajahan pemikiran. Alih-alih diarahkan menjaga syariat dan umat, sebagian santri justru dijadikan alat untuk menopang sistem yang menjauh dari nilai-nilai ilahiah.

Dalam narasi baru yang mengemuka, peran santri direduksi menjadi “agen moderasi beragama” atau “penggerak ekonomi”, padahal misi utamanya jauh lebih luhur: menjaga umat dan memperjuangkan kebenaran.

Tema Hari Santri tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” seperti ditulis Setneg.go.id, (24/10/25), terdengar gagah dan menggugah. Namun tanpa arah perjuangan yang jelas, slogan itu berpotensi menjadi gema kosong. Peradaban sejati tidak lahir dari seremoni tahunan, melainkan dari generasi yang berilmu, bertakwa, dan berani menjaga umat dari segala bentuk penjajahan.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Hayatul fata wallahi bil ‘ilmi wat tuqo, idzaa lam yakunaa laa i’tibaara lidzatihi.” Hidupnya seorang pemuda, demi Allah, adalah dengan ilmu dan takwa. Jika keduanya tiada, maka tiadalah nilai bagi dirinya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan, takwa berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sementara Ali bin Abi Thalib ra. membagi takwa menjadi empat hal: takut kepada Allah, beramal sesuai wahyu-Nya, ridha dengan rezeki yang sedikit, dan mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Dari mereka, kita belajar bahwa ilmu dan takwa adalah dua pilar peradaban. Hanya dengan keduanya, santri dapat menjadi penuntun umat dan pelita di tengah gelapnya zaman.

Sayangnya, peran strategis santri kini kerap direduksi. Sebagian mempelajari ilmu agama secara tekstual tanpa mengaitkannya dengan realitas sosial.

Aktivitas pesantren lebih banyak diwarnai lomba dan festival, sementara pembelajaran tentang jihad pemikiran, kepemimpinan, dan pembangunan umat terpinggirkan.

Kini saatnya mengembalikan santri pada visi mulia mereka sebagai faqih fiddin dan mujahid fii sabilillah. Santri perlu diarahkan untuk mengokohkan takwa, memahami realitas, dan menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.

Mereka bukan sekadar pelajar atau simbol moral, tetapi generasi yang mampu menafsirkan zaman, menjawab tantangan global, dan menegakkan nilai-nilai Islam secara kaffah.

Peran ini tidak berdiri sendiri. Ulama, guru, dan negara memiliki tanggung jawab besar memastikan pesan perjuangan Islam tersampaikan secara utuh di balik momen Hari Santri. Negara perlu menyiapkan sistem pendidikan yang menumbuhkan akal tajam, takwa yang kokoh, serta keberanian menegakkan kebenaran.

Santri pun harus menyadari kembali misi utamanya: menjaga umat dan membangun peradaban cemerlang. Sebab setiap momentum bukan sekadar seremoni, melainkan peluang perjuangan.

Dari rahim Islamlah lahir generasi pejuang yang tak gentar melawan penjajahan, sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Perayaan boleh berhenti di panggung, tetapi semangat jihad, ilmu, dan takwa harus terus hidup di dada.

Karena sejatinya, santri bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan pelopor perubahan masa depan—yang mengingatkan kita bahwa menjaga umat dan menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab setiap generasi. Allahu a’lam Bishawab.[]

Comment