by

Silvi Rochmayanti, SEI: Indonesia Negara Tersantai Di Dunia

Silvi Rochmayanti, SEI
RADARINDONESIANEWSS.COM, JAKARTA – Indonesia ditetapkan sebagai Most Chilled Out Countries in The World, atau negara paling santai diseluruh dunia. Kesimpulan yang diambil dari situs Lastminute.com berdasarkan penelitian  15 negara. Hasilnya Indonesia berada di urutan teratas, dengan faktor lingkungan yang unggul dari semua negara, kemudian budaya diperingkat enam, banyaknya cuti diperingkat 13, dan hak asasi manusia di peringkat 14 (Tribunnews.Com 26/01/2019).
Kekayaan alam Indonesia memang diakui oleh dunia. Berada dalam lintasan garis katulistiwa sehingga membawa kepada 2 musim. Faktor yang membawa kepada berbagai keindahan destinasi wisata yang unik, dibandingkan dengan negara lain dunia. Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing untuk mengunjungi Indonesia. 
“Surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan pusat kebugarannya. Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celcius dan 54.716 mil dari garis pantai,” dikutip dari Lonely Planet ( Kompas.Com 25/01/2019)
Penjajahan Dibalik Destinasi Wisata Indonesia
Indonesia adalah negeri muslim terbesar yg potensial menjadi benih awal kebangkitan. Dunia pun mengakui keberadaan mayoritas muslim sangat diperhitungkan oleh negara barat. Kekuasaan kapitalisme dunia tidak akan membiarkan Ide tandinganya ini bangkit lagi. Salah satunya adalah memanfaatkan bidang pariwisata sebagai sumber potensi keindahan alam, baik yang alami maupun buatan, serta keragaman budaya yang ada.
Menggerakkan dunia pariwisata untuk menambah pendapatan negara.Terlepas dari berbagai efek yang d timbulkan. Jelas pariwisata mempunyai dampak negatif kepada negara, khususnya masyarakat setempat. 
Memanfaatkan bidang pariwisata bagi Indonesia seperti menembak titik tepat sasaran panah. Jika kena, dipastikan akan menang. Virus kebebasan akan semakin hidup di negara yang mayoritas muslim. Kaum muslim terlibat secara langsung/tidak langsung dalam pariwisata.
Perlu diketahui sebelum menjadi jawara destinasi negara paling santai, Indonesia telah masuk dalam kategori Top 5 Destinasi “Pariwisata Halal Dunia”  dengan penerimaan devisa negara mencapai USD 13 M yang berkontribusi terhadap PDB sebesar USD 57,9 M (UNWTO Highlights, 2016). Tujuanya target mendapatkan 5 juta wisatawan muslim dunia diyakini akan tercapai pada 2019. Ibarat menyelam sambil minum air. Tujuan motif ekonomi dan pelemahan politik Islam kepada umat Islam beriringan. 
Dari sini sekilas pengarusutamaan pariwisata mampu menjadi solusi bagi problematika ekonomi yang sedang membelit suatu negara bahkan membelit dunia. Namun perlu diingat, sesungguhnya gagasan pengarusutamaan pariwisata bukan sekadar upaya mengakhiri kemiskinan. Gagasan ini berasal dari lembaga internasional di bawah hegemoni negara kapitalis.
Bagi kapitalisme sesungguhnya manusia, alam dan kekayaan intelektual wajib didedikasikan semata untuk meraih kesejahteraan para pemodal (kedaulatan modal). Demi kepentingan kapitalisasi ekonomi betapapun besar kerusakan non materi yang ditimbulkan tidak akan diperhatikan oleh ideologi ini.
Penjajahan adalah metode baku penyebaran ideologi kapitalisme. Cara politik yang digunakan dalam penjajahan bisa menggunakan bantuan ekonomi melalui utang luar negeri, para ahli, dan konsep berbagai rencana pembangunan.
Liberalisasi sosial budaya menjadi ruh penjajahan pariwisata. Modal alam semata tanpa basis manusia tidak mampu menjamin keberlangsungan arus penjajahan di suatu negara (wilayah). Maka perlu diiciptakan sosial melalui pendidikan inklusif untuk melahirkan sosok (muslim) moderat –yang amat ramah dengan agenda liberalisasi, melalui interaksi penduduk lokal dengan wisatawan mancanegara -promosi bahasa, kesetaraan gender dan nilai-nilai demokrasi sekuleristik.Sehingga menjadi opinion umum dunia,  bahwa Indonesia adalah negara paling tersantai sedunia. 
Islam Menjadikan Wisata Penuh Ketaqwaan
Sebagai seorang Muslim, kita harus jeli dalam melihat skenario global. Yang bertujuan untuk memandulkan potensi wisata yang sebenarnya. Menjadikan Indonesia sebagai negara destinasi pariwisata terbaik yang berdampak  mengubur kesadaran ideologis umat dalam berjuang menegakkan institusi yang mampu melawan setiap upaya penjajahan.
Dalam Islam negara wajib menerapkan seluruh hukum Islam di dalam dan ke luar negeri. Dengan demikian, negara dapat menegakkan kemakrufan, dan mencegah kemunkaran di tengah-tengah masyarakat. Prinsip dakwah inilah yang mengharuskanya untuk tidak membiarkan terbukanya pintu kemaksiatan di dalam negara, termasuk melalui sektor pariwisata ini.
Obyek yang dijadikan tempat wisata ini, bisa berupa potensi keindahan alam, bersifat natural dan anugerah dari Allah SWT. Seperti keindahan pantai, alam pegunungan, air terjun dan sebagainya. Bisa juga berupa peninggalan bersejarah dari peradaban Islam. Obyek wisata seperti ini bisa dipertahankan, dan dijadikan sebagai sarana untuk menanamkan pemahaman Islam kepada wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut.
Ketika melihat dan menikmati keindahan alam, misalnya, yang harus ditanamkan adalah kesadaran akan Kemahabesaran Allah, Dzat yang menciptakannya. Sedangkan ketika melihat peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, yang harus ditanamkan adalah kehebatan Islam dan umatnya yang mampu menghasilkan produk madaniah yang luar biasa. Obyek-obyek ini bisa digunakan untuk mempertebal keyakinan wisatawan yang melihat dan mengunjunginya akan keagungan Islam.
Dengan demikian maka bagi wisatawan Muslim, obyek-obyek wisata in justru bisa digunakan untuk mengokohkan keyakinan mereka kepada Allah, Islam dan peradabannya. Sementara bagi wisatawan non muslim (mu’ahad dan musta’man), obyek-obyek ini bisa digunakan sebagai sarana untuk menanamkan keyakinan mereka pada Kemahabesaran Allah. 
Selain itu juga bertujuan untuk menunjukkan kepada mereka akan keagungan dan kemuliaan Islam, umat Islam dan peradabannya. Hal ini akan terwujudkan jika Islam dijadikan sebagai aturan dalam negara. Pilihan  tunggal  untuk menghadapi penjajahan global kapitalisme. Wallaahu a’lam bish shawab.[]

Penulis adalah anggota Forum Silaturahim Tokoh dan Mubalighah, Bogor

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + eleven =

Rekomendasi Berita