by

Siti Ningrum, M.Pd: Semestinya Penghargaan Bukan Cacian Sebab Mereka Adalah Pahlawan

-Opini-44 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dikutip dari situs covid19.go.id per April 19, 2020, data penyebaran virus hingga saat ini adalah 6.575+327.  Kasus Covid-19 terbaru adalah 5.307 dirawat, 582 meninggal dan 686 sembuh.

Angka kematian akibat covid-19 ini terus merangkak mendekati angka enam ratus dan kita ikut prihatin dan belasungkawa kepada para korban covid-19 ini. Semoga mendapatkan pahala mati sahid dan untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi kesabaran.

Mengingat kematian adalah nasihat terbaik.

Begitu tutur lisan yang mulia Nabi Muhammad saw agar kita sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Dunia hanya tempat singgah dan tak ubahnya ibarat seorang perantau yang tengah mencari perbelakan untuk pulang ke kampung halaman.

Hampir semua orang terutama umat muslim menginginkan kematian yang indah. Mati dalam keadaan husnul khotimah adalah yang paling diinginkan oleh kita sebagai umat muslim.

Ditempatkan di pemakaman yang layak adalah cita-cita kita semasa hidup. Diiringi oleh sanak saudara menjadi ciri orang yang telah meninggal, membuat keluarga yang ditinggalkan merasa tentram.

Namun apa yang terjadi di luar batas kewajaran akhir ini tengah melanda kaum muslimin dengan munculnya wabah pandemi covid-19 di berbagai wilayah. Kematian seolah sangat dekat di depan mata dan menjadi sesuatu yang menakutkan bagi siapa saja.

Kematian akibat wabah ini menjadi ironi sebab tidak akan diantar sampai pemakaman bahkan oleh orang-orang tercinta sekalipun. Sungguh sangat menyedihkan, di saat jasad terbujur kaku tidak ada yang menemani.

Setelah wabah Covid-19 ini menyerang manusia secara masif dan korban berjatuhan pun semakin banyak, baik dari para pasien yang terinfeksi atau pun dari pihak para medis yang menangani para pasien.

Sungguh di luar dugaan bahwa pada saat hendak dimakamkan,  para korban tersebut mendapatkan penolakan di berbagai daerah.

Beredar video penanganan mayat yang terkena virus corona, begitu menyayat hati. Dari mulai dimandikan dengan tayamum, disholatkan oleh segelintir orang yang notabene adalah para medis itu sendiri di ruang isolasi sampai pada mayat tersebut dimasukan dalam peti mati.

Jenazah hanya diantar oleh para medis yang memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang sangat lengkap dan berlapis-lapis.

Tenaga medis pasien Corona atau Covid-19 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur ditolak pulang oleh tetangga mereka (Dilansir dari liputan 6.com pada tanggal 25 Maret 2020).

Hal itu sangat menyedihkan. Mengapa? Para dokter dan perawat yang berjuang di garda terdepan dalam memerangi kasus corona ini, justeru diusir oleh para warga yang sangat ketakutan tertular bahkan dikucilkan.

Menyikapi fakta tetsebut, akhirnya Gubernur DKI Jakarta Anies baswedan memberikan fasilitas tempat tinggal yang mewah di hotel bintang lima milik pemprov DKI. Tidak kalah juga disusul oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun mengambil langkah yang sama yaitu memberikan fasilitas kepada para medis.

Dilansir dari kompas.com 11 April 2020. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa teriris hatinya tatkala mendengar kabar peristiwa penolakan pemakaman jenazah Covid-19.

Penolakan tersebut dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4/2020). Ganjar mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa jenazah yang ditolak pemakamannya itu adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang.

Sungguh ironi, para medis yang berjuang untuk menyembuhkan para pasien dan rela meninggalkan keluarga, berkorban waktu, tenaga, bahkan nyawa mereka pertaruhkan demi keselamatan dankesembuhan para pasien.

Namun ketika para medis tersebut meninggal justeru mendapatkan penolakan, cibiran bahkan keluarganya dikucilkan. Pantaskah seorang pejuang mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi seperti itu?

Inikah ciri dari masyarakat kita yang apatis dan tidak peduli dengan nasib orang lain. Apakah rasa empati dan kemanusiaan yang ada dalam diri kita terkikis oleh kepongahan ego yang menguasai diri. Di mana rasa keadilan yang semestinya didapatkan oleh para korban dan para medis?

Terserabutkah hanya demi keselamatan diri sendiri. Ataukah minimnya informasi yang masyarakat terima? Lalu, siapakah yang wajib mengedukasi masyarakat agar dapat bahu membahu melewati wabah ini?

Pandangan masyarakat kapitalisme vs masyarakat Islam menghadapi wabah pandemic.

Masyarakat kapitalisme menghadapi Wabah

Salah satu ciri masyarakat kapitalisme adalah sikap apatis (masa bodo/tidak mau tahu) dan individualistis. Inilah yang tengah terjadi di tengah kaum muslimin. Jangan kan untuk berempati kepada orang lain, yang ada adalah saling sikut dalam hal apapun, baik itu dalam jabatan atau pun hal lainnya.

Bagi mereka, yang terpenting adalah dirinya selamat dan mendapatkan kekuasaan dengan tidak mempertimbangkan prosesnya.
Ciri lainnya adalah dalam hal pemikiran. Ciri masyarakat kapitalisme adalah pemikiran yang sekuler, yang melepas nilai nilai agama dari kehidupan. Ketika mengambil sebuah kebijakan atau tindakan maka yang jadi pertimbangan adalah untung dan rugi bukan maslahat atau mudharat. Mereka tidak peduli halal atau haram, boleh atau tidak.

Masyarakat semacam ini juga tidak mempeduikan prosesnya yang terpenting adalah ketercapaian dari keinginan tersebut.

Namun yang tidak boleh diabaikan adalah peran negara dalam menangani kasus wabah Covid-19 ini. Jika negara menganut sistem kapitalisme maka tidak akan jauh seperti masyarakat dalam memandang kasus covid-19 ini. Sebab negara menjadi contoh bagi warganya.

Saat ini seakan tidak ada empati terhadap korban yang telah meninggal dan memandang remeh wabah pandemic, kurangnnya edukasi secara khusus kepada masyarakat, mengambil kebijakan yang kurang tepat sehingga wabah ini bergulir terus tanpa kepastian kapan virus ini dapat dihentikan.

Pandangan Masyarakat Islam menghadapi Wabah

Dalam sejarah Islam ada dua bencana yang menimpa kepemimpinan amirul mukminin Umar Bin Khatab r.a. yaitu wabah dan benacana. Sejarah telah mencatat bagaimana seorang pemimpin mengambil kebijakan dengan cepat dan tepat serta bagaimana mengedukasi masyarakat sehingga wabah pandemi dan bencana tidak berkepanjangan, dan berhasil melaluinya dengan sangat gemilang.

Pengambilan kebijaka bukan semata-mata dari dirinya sendiri melainkan dari aturan yang berasal dari Allah swt.

Berikut adalah kunci sukses Amirul Mukminin Umar Bin Khatab dalam menangani wabah dan bencana:

Memadukan antara akidah dan Syariah

Kesempurnaan Islam tergambar dari aspek akidah yakni keimanan terhadap Allah SWT, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Nabi dan Rasul, hari kiamat, dan iman pada takdir baik dan buruk semua terjadi dengan ilmu Allah.

Keimanan ini tidak hanya terukir dalam hati, bukan sebatas diucapkan dengan lisan, namun dinampakan dalam wujud perbuataan yang menunjukkan pada ketaatan terhadap syariat yang telah diturunkan Allah SWT pada Rasulullah saw.

Dalam menghadapi serangan wabah yang mengancam jiwa.

Keimanan yang kuat ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dengan para sahabat tatkala menghadapi wabah. Mereka langsung meyakini bahwa semua terjadi karena kekuasaan Allah SWT. Dan ketika sudah menimpa manusia maka termasuk takdir Allah yang harus disikapi dengan penuh keimanan dan qanaah dalam menerimanya.

Hal ini nampak jelas saat perbincangan antara Abu ‘Ubaidah bin Jarrah yang bertanya kepada khalifah Umar: “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” Umar menjawab: “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”

Bagi orang beriman kedatangan wabah adalah bagian dari ujian yang sudah menjadi sunnatullah akan diberikan dalam kehidupan dunia sehingga sikap yang mesti dimiliki adalah siap dan bersabar, seperti difirmankan Allah SWT:

“Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar.” (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Keimanan seorang muslim akan menghantarkan pada keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ini terjadi dengan iradah dan kekuasaan Allah SWT sehingga di baliknya pasti ada hikmah bagi manusia.

Demikian juga wabah Covid-19, salah satu pesannya adalah semakin membuktikan lemahnya manusia dan betapa Mahakuasanya Allah untuk meruntuhkan kesombongan para penguasa zalim. Kemajuan ilmu teknologi yang mereka banggakan tidak ada artinya di msta Allah. Selain mengembalikannya pada Allah yang Maha Pencipta, maka ucapan yang layak kita ungkapkan adalah seperti firman Nya:

“Duhai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Karena itu peliharalah kami dari siksa Neraka.” (TQS Ali Imran [3]: 191).

Dalam menangani masalah wabah, khalifah Umar tidak berhenti hanya menyerahkannya pada takdir Allah saja, namun justru bersegera terikat kepada ketentuan syariat yang telah dicontohkan oleh qudwah hasanah baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kebijakan yang diambil khalifah bukan semata mengandalkan kecerdasan dan kemampuan manusiawinya, tetapi disandarkan pada apa yang sudah diperintahkan oleh Nabi saw.

Sebagai buktinya adalah kegembiraan khalifah Umar dan rasa syukurnya atas pernyataan Abdurrahman bin ‘Auf yang menegaskan bahwa keputusan Umar sudah sesuai dengan ketetapan Rasulullah saw.

Ibnu Hajar menceritakan kisah ini di dalam Fathu al-Bârî bahwa Umar ra. menuju Syam, ketika tiba di Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin ‘Awf memberitahunya bahwa Rasulullah saw bersabda.

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Sinergi antara negara sebagai pelaksana hukum syara yang dipimpin oleh pemimpin yang berkarakter mulia dengan masyarakat yang melakukan amar makruf nahi mungkar yang ditopang oleh ketakwaan individu rakyat.

Kunci kesuksesan pertama adalah aturan yang diberlakukan hanya yang berasal dari Allah SWT, karenanya penerapan hukum syara merupakan sebuah keniscayaan.

Pilar utamanya adalah negara yang siap sebagai institusi pelaksana syariah secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk penetapan kebijakan penanggulangan wabah.
Negara hadir sebagai penanggung jawab urusan umat. Negara senantiasa ada dan terdepan dalam setiap keadaan. Negara tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

“Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

Sejatinya memang negara mesti memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyat, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai raa’in dan junnah. Tidak boleh negara mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib mereka.

Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat harus menjadi pertimbangan utama negara.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Beliau rela membatalkan kunjungan resminya ke Syam dan memutuskan kembali ke Madinah guna menghindari paparan wabah yang sedang merajalela di negeri penduduk di tempat lain.

Pilihan ini tentu saja memilki risiko sehingga sebagian sahabat Muhajirin sempat mengingatkannya:

“Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.”

Namun beliau tetap yakin dengan langkah yang telah ditetapkannya. Nyawa dan keselamatan rakyat menjadi pertimbangan utama dibandingkan urusan lainnya.

Di bawah ri’ayah pemerintahan seperti inilah kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan sekalipun didera berbagai musibah dan ujian. Mereka percaya bahwa pemimpinnya tidak akan berlepas tangan. Pemerintahnya tidak mungkin mengorbankan nasib mereka atas dasar pertimbangan ekonomi, apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir pengusaha.

Pemimpin yang berkarakter mulia.

Adanya sistem kehidupan yang benar memang syarat utama namun tidak akan terlihat keagungannya andai tidak ditopang oleh hadirnya sosok pemimpin yang berkarakter mulia.

Dialah yang akan memimpin dan menjalankan implementasi kecemerlangan syariah Islam dalam berbagai kebijakan yang diambilnya. Tanpa kehadirannya, kekuatan syariat Islam akan sulit dirasakan.

Berikut adalah di antara karakter pemimpin yang dibutuhkan agar penerapan  Islam secara kaffaj menjadi kenyataan:

Pemimpin kuat, senantiasa melakukan introspeksi dan tidak ragu untuk mengakui kesalahan

Di balik musibah boleh jadi ada peringatan yang hendak disampaikan Allah SWT kepada hamba-Nya agar mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan dan bersegera untuk kembali kepada jalan kebenaran.

Banyak nas yang menyatakan hal demikian, di antaranya adalah firman Allah dalam Alquran Surah ar-Ruum[30] ayat 41 yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Ibnu Abu Hatim dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-A’raj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. (Ar-Rum: 41).

Pemimpin yang tawakal pada Allah dan yakin pada kemampuan.

Keyakinan seorang pemimpin bahwa Islam satu-satu mu’alajah musykilah, solusi semua permasalah kehidupan akan menghantarkannya pada kemantapan untuk menerapkan syariah kaffah.

Dalam dirinya tidak ada keraguan untuk mengambil kebijakan,  karena ia berasal dari wahyu Allah yang Mahabenar. Bukan hasil uji coba kecerdasan akal manusia.

Sikap plin-plan dan ragu ragu dalam mengambil langkah solusi menghadapi wabah boleh jadi muncul karena lemah dalam memahami kemahakuasaan Allah SWT, dan tidak yakin pada kemampuan diri. Seperti yang sekarang terjadi di negeri ini, pemimpin tertinggi tidak berani mengambil keputusan tegas berupa karantina wilayah yang akan memutus rantai penyebaran virus covid meluas ke tempat lain.

Pasalnya, tidak siap menangani implikasi kebijakan ini.
Karantina wilayah harus dibarengi dengan kesigapan negara menyediakan kebutuhan pokok masyarakat selama masa pembatasan ruang gerak tersebut.

Pemimpin kuat, senantiasa melakukan introspeksi dan tidak ragu untuk mengakui kesalahan.

Di balik musibah boleh jadi ada peringatan yang hendak disampaikan Allah SWT kepada hamba-Nya agar mereka menyadari kesalahan yang sudah dilakukan dan bersegera untuk kembali kepada jalan kebenaran.

Banyak nas yang menyatakan hal demikian, di antaranya adalah firman Allah dalam Alquran Surah ar-Ruum[30] ayat 41 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ibnu Abu Hatim dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-A’raj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. (Ar-Rum: 41)

2. Kesiapan masyarakat melakukan amar makruf nahi mungkar
Berjalannya penerapan aturan Islam termasuk dalam menghadapi bencana tidak mungkin terlaksana hanya dengan kehadiran pemimpin berkarakter saja, namun perlu ditopang dengan kepedulian masyarakat.

Mereka tidak boleh abai terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintahnya.

Pengawasan, koreksi, dan muhasabah harus terus dilakukan untuk memastikan bahwa aturan yang diterapkan benar sesuai dengan tuntunan syariah (QS Ali Imran[3]: 104).

Masyarakat harus berani mengungkap kebijakan zalim yang akan menyengsarakan rakyat.
Keberanian mereka dalam mengingatkan penguasa akan melayakkan dirinya sebagai pemimpin para syuhada, seperti yang disebut oleh hadis Rasulullah saw:

“Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya, kemudian pemimpinnya itu membunuhnya.” (Hadis Sahih dalam Mustadrak ‘ala shahihain, imam Al Hakim no. 4884).

Kepedulian masyarakat juga dibutuhkan untuk saling mengingatkan agar mereka semua tidak melakukan pelanggaran terhadap kebijakan yang telah ditetapkan. Masyarakat Islam tidak akan membiarkan pelanggaran dilakukan oleh siapa pun karena mereka memahami bahwa dampak buruknya akan menimpa semua orang.

Salah satu contoh sebagai kebijakan karantina wilayah tidak akan efektif bila ada sebagian masyarakat yang melanggar dan dibiarkan oleh yang lainnya. Akibatnya, virus akan semakin menyebar secara liar dan sulit untuk dikendalikan.

Sungguh sangat tepat perumpamaan yang diberikan Rasulullah saw untuk menggambarkan sikap masyarakat terhadap kewajiban amar makruf nahi mungkar diibaratkan layaknya penumpang kapal.

Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berunding dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Ketakwaan Individu
Dampak dari bencana akan dirasakan sangat berat manakala dihadapi sendiri. Sebaliknya beban akan terasa berkurang dengan adanya bantuan dan sokongan dari sesama.

Dalam Islam banyak nas yang menyampaikan anjuran untuk membantu sesama dan meringankan beban yang sedang kesulitan. Salah satunya adalah hadis Rasulullah saw,
“Orang yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amalan yang paling Allah cintai adalah membahagiakan orang Muslim, mengangkat kesusahan dari dirinya, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh”. (HR ath-Thabarani).

Nas yang mulia ini tidak akan memiliki pengaruh berarti bagi orang yang standar hidupnya hanya mengedepankan keuntungan materi. Boleh jadi bagi mereka yang menjadi pertimbangan utama adalah menyelamatkan kepentingan pribadi dan keluarganya.

Sebaliknya, bagi muslim yang bertakwa akan menjadi dorongan kuat untuk meringankan saudaranya semata untuk meraih keridaan-Nya. Pertimbangan materi akan dikalahkan oleh keyakinannya pada Kemahakuasaan Allah SWT yang dengan kehendak-Nya akan memberikan pertolongan kepadanya, seperti disebutkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barang siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah utang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim no. 2699).

Penutup
Keberhasilan Islam menangani wabah tidak akan terulang kalau kunci kesuksesannya tidak diupayakan untuk dihadirkan kembali. Kegemilangan sejarah Islam telah ditorehkan dengan tinta emas yaitu peradaban mulia dengan menerapkan Islam secara Kaffah.

Semoga dengan wabah ini,  sejatinya menyadari bahwa kita ini adalah makhluk lemah, serba kurang juga serba terbatas dan hanya kepada-Nya-lah kita semua menyandarkan segala urusan kita.

Semoga Allah SWT. segera mengangkat kembali wabah ini dari negeri tercinta Indonesia dan juga negeri-negeri di lainnya di dunia. Semoga Allah swt. mengampuni dosa-dosa kita semua, Aamiin. Wallahu A’lam. Bishowab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =

Rekomendasi Berita