by

Siti Rahmah: Colorfull Ramadhan, Menabur Cinta Meraih Taqwa

Siti Rahmah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramadan tiba, Ramadan tiba, Marhaban ya ramadhan, marhaban ya Sahrul siyam. Yeay..hore. Alhamdulillah ya dear ramadhan yang kita nantikan sebentar lagi datang menghampiri kita. Tinggal selangkah lagi lho, kita akan memasuki bulan ramadhan ini, InsyaAllah. Semoga Allah mengijinkan kita mengecap nikmatnya dan mengizinkan kita berlari memburu pelukan kasih sayangnya yang sudah dibentangkan bagi orang yang menyambutnya dengan suka cita.
By the way, bagaimana dengan perasaan kamu dear dalam menyambut ramadhan? Adakah yang senang, atau biasa aja, atau jangan-jangan kamu malah malas-malasan menyambutnya? Ada dikadar mana rasamu? Deteksi yuk, karena rasamu menentukan kadar keimananmu. Ko bisa? Bisa donk.
Sebelum kita mendeteksi rasa cintamu pada Allah, mari kita rasakan betapa dahsyat cinta Allah untuk hambaNya. Terutama cinta yang Allah anugerahkan di bulan ramadhan. Dalam setahun Allah sediakan satu bulan khusus yang di sana Allah taburkan keberkahan, Allah kucurkan rahmat dan Allah buka pintu ampunan. 
Satu bulan khusus ini adalah fasilitas dari Allah sebagai bulan riyadhoh, bulan untuk menempa diri, melatih raga menata hati agar menjadi lebih baik. Bulan Ramadhan juga bulan untuk membersihkan hati, meningkatkan taqorub dan memperbanyak amal kebaikan. Dengan semua amal itu Allah limpahkan pahala berlipat ganda, semua itu menunjukan besarnya cinta Allah kepada hambaNya. 
Sifat cinta sejatinya adalah memberi, sebagaimana di bulan ramadhan Allah berikan ampunan kepada hambaNya sebagai bukti cintaNya. Hal ini tertuang dalam firman-nya; 
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Imran; 31)
Dalam ayat tersebut digambarkan bukti cintaNya Allah akan memberikan  ampunan bagi manusia. Jika Allah sudah mengampuni maka apapun yang kita inginkan Allah akan berikan. Jangankan kita minta dalam doa, tidak kita minta pun Allah akan memberikannya. Itulah dahsyatnya cinta Allah kepada hambaNya. Lantas bagaimana dengan hambaNya? Jangan sampai terjadi cinta segi tiga lho, Allah mencintai hambaNya malah hambaNya mencinta dunia dan segala isi ya termasuk si dia.
Colorfull Ramadhan:
Ketika Allah sudah menaburkan cintaNya di bulan mulia ini, maka tidak sepatutnya manusia menyia-nyiakan cintaNya. Jangan sampai Allah bertepuk sebelah tangan. Apa yang bisa kita lakukan untuk membalas cinta Allah? Jawabnya simple donk. Cintai Allah. Tangkap setiap sinyal cinta yang Allah kirimkan. Warnai ramadhan ini dengan warna-warni ketaatan, sebagai bukti keimanan. 
Pernah merasa jatuh cintakan? Bagaimana rasanya? Jatuh cinta berjuta rasanya, itu sich lagu. Yang jelas cinta itu akan mendorong kita melakukan, berkorban dan memberikan apapun untuk yang kita cintai. Berjumpa dengannya menjadi hal yang diinginkan, membicarakannya begitu menyenangkan, membaca pesannya tidak pernah membosankan. Begitulah cinta akan mendorong kita kearah yang kita cintai. Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menyeburkan diri dalam lautan cinta Allah.
Gambaran utuh ketulusan cinta seorang hamba kepada Allah banyak ditemui di masa para sahabat. Seperti yang  terlukis indah dalam catatan sejarah kisahnya Abu Bakar. Ketika beliau menjadi Khalifah, setelah selesai sholat shubuh senantiasa datang ke rumah-rumah wanita tua yang buta. Untuk membersihkan rumahnya, memberi makan anaknya dan mengurusi ternaknya. Wanita tua itu tidak pernah tau kalau yang selalu datang itu adalah Abu bakar sang Khalifah.
Begitupun dengan Umar, tidak pernah ada satu malam pun tanpa Umar mengontrol kondisi rakyatnya. Itu dilakukan di tengah malam yang lain terlelap dalam tidurnya. Utsman bin Affan adalah sosok sahabat yang kaya yang tidak pernah menahan hartanya untuk perjuangan Islam. Begitupun dengan Ali bin Abi Thalib yang sanggup melakukan sholat sepanjang malam, ketika para sahabat melihatnya setelah sholat Isya mereka mendapati Ali sedang ruku’, dan ketika berjumpa menjelang shubuh Ali pun sedang ruku’ dimana jenggotnya sudah basah dengan air mata.
Inilah kisah cinta sejati yang ditunjukan oleh para sahabat. Mereka ra membuktikan cintanya kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang istimewa. Padahal sejatinya mereka para sahabat itu adalah orang-orang yang sudah Allah jamin masuk surga. Tapi mereka beribadah, mereka membuktikan cintanya seolah-olah mereka ra akan memasuki jahanam. Lantas bagaimana dengan kadar cinta kita? Adakah jaminan untuk kita?
Ketika kita ingin mendeteksi kadar cinta kita, maka kita perlu menyelami keimanan kita. Keimanan yang benar akan menghasilkan keyakinan yang kokoh. Yang dibenarkan dan dibuktikan oleh akal, hati pun akan tunduk, taat dan patuh. Semua ini terpancar dengan amal perbuatan. Orang yang mencintai Allah pasti dia beriman. Orang yang beriman dia akan beramal dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntutan syariat. Dia tidak akan menyalahi perintah Allah dan tidak melanggar aturannya. Amalnya akan terkoneksi dengan tujuan, terikat aturan dan beralaskan ikhlas.
Terkait amal di bulan ramadhan, ada banyak jalan untuk mendekap kasih sayang Allah. Tapi sayang adakalanya niat yang ikhlas, tujuan yang benar bercampur dengan amal yang menyimpang. Tidak sedikit remaja yang begitu rajin sholat tarawih jika sholatnya di masjid, berangkat rombongan pulangnya mampir ngobrol, ngopi, ngemil bareng campur baur laki-laki dan perempuan.
Atau amalnya benar, tujuannya benar tapi niatnya yang salah. Misal, menutup aurat yang hanya khusus di bulan ramadhan karena trend ketaatan. Banyak juga acara buka bersama yang sudah diagendakan selama bulan ramadhan, pesan restoran, kafe dan tempat-tempat makan lainnya.  Dengan tujuan mengikat kebersamaan dan merekat ukhuwah, tapi tidak mengindahkan syariah. 
Jika kita ingin menyempurnakan ibadah di bulan ramadhan, sebagai bukti cinta kepada Allah dan untuk meraih tujuan puasa yaitu tercapainya derajat taqwa. Maka luruskan niat, perbaiki amal agar berkesesuaian dengan ketentuan Allah. Dengan begitu tujuan puasa yang sesungguhnya  bisa terwujud.  Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah;
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al baqoroh 183)
Tujuan dari puasa adalah agar kamu bertaqwa. Sedangkan ketaqwaan ini adalah hasil dari keimanan dikalikan dengan amal Sholeh. Jadi manusia bisa meraih derajat taqwa jika dia beriman dan beramal Sholeh. Sedangkan amal sholeh yang disebutkan oleh Imam Fudhlail bin Iyad  adalah amal terbaik yang harus memenuhi dua kriteria yaitu ikhlas dan sesuai syariat.
Warnai ramadhannya dengan curahan cinta untukNya sebagaimana Allah taburkan cinta untuk hambaNya. Perbanyak amal yang mampu membuat hatimu bergetar ketika mendengar nama Allah disebutkan. Dengan begitu maka kamu bisa mendeteksi kadar cintamu. Jika hatimu masih dingin menyambut datangnya ramadhan, jika hatimu masih berat menjalankan ketaatan dibulan ramadhan. Jangan-jangan hatimu sudah kaku, beku bahkan mati rasa. Segeralah berobat dengan bertobat memperbanyak istighfar, agar hatimu penuh warna dengan warna cintanya Allah.[]

Comment

Rekomendasi Berita