by

Siti Rahmah: Ketahanan Keluarga Pilar Utama Menuju Bahagia

Siti Rahmah, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan kehangatan, tempat yang senantiasa dirindukan, tempat tercurahnya kasih sayang. Keluarga adalah tempat pertama mengenal cinta, cinta yang terencana, cinta yang karenanya bahagia itu ada.
Memiliki keluarga yang bahagia adalah impian semua orang, karena darinya lahir kehidupan. Bahkan keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk corak kehidupan masyarakat. Rapuhnya kehidupan masyarakat menjadi cermin betapa rapuhnya bangunan keluarga.
Disisi lain, merebaknya nilai-nilai rusak yang tersebar di tengah masyarakatpun membawa pengaruh signifikan dalam hancurnya ketahanan keluarga. Keluarga dan msyarakat tidak bisa dipisahkan, kerusakan masyarakat dan kerusakan keluarga akan saling terkait. 
Jika dipelajari lebih mendalam ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab runtuhnya ketahanan keluarga, diantaranya adalah: Pertama, lemahnya komitmen tentang Islam. Pondasi akidah yang ditanamkan dalam keluarga menjadi faktor terpenting, sehingga kokohnya akidah akan menjadi penopang utama kekokohan keluarga. Jika penanaman akidah ini lemah maka bangunan keluarga layaknya gedung tanpa pondasi, jangankan badai yang menghantam angin sepoi-sepoipun akan meluluh lantakan bangunan tersebut.
Sehingga dalam tataran ini keluarga muslim wajib menanamkan akidah yang kokoh dalam bangunan keluarganya. Mulai dari perencanaan,seperti pemilihan calon dan persiapan pernikahan. Sampai kepada tahapan pelaksanaan, perjalanan kehidupan setelah pernikahan semua harus berada pada koridor akidah Islam. Dengan begitu maka ketahanan keluarga akan terjaga dan keluarga yang dibangunpun memiliki model khas yaitu keluarga yang Islam.
Kedua, Sikap materialisme yang dianut oleh anggota keluarga ini juga berperan dalam menyebabkan runtuhnya ketahanan keluarga. Pasalnya paham materialisme ini menjadi celah terbesar dalam mengikis ketahanan keluarga. Jika sikap ini yang tertanam diantara anggota keluarga, maka standar keluargapun akan berubah haluan. Sehingga interaksi dan komunikasi antar anggota keluarga akan berubah menjadi hubungan bisnis. Hitung-hitungan untung rugi akan mewarnai keluarga ini, tidak ada tolong menolong, bakti, kerjasama yang ada adalah relasi bisnis.
Realitanya memang tidak bisa  dipungkiri kehidupan keluarga memang membutuhkan kecukupan materi untuk keberlangsungannya, sehingga diperlukan kemandirian secara ekonom. Kemandirian ekonomi yang dimaksud adalah bagaimana seorang ayah bisa memberikan nafkah terbaik untuk keluarganya. Sehingga semua kebutuhan keluarga bisa terpenuhi. Namun, perintah memberikan nafkah terbaik ini bukan acuan untuk mengukur segala hal dari materi. 
Justru hal ini menunjukan bahwa peran ayah yang begitu luar biasa dalam melindungi dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Menunjukan keluarga itu berjalan sebagimana harusnya, semua hak dan kewajiban berjalan secara benar. Materi tidak menjadi fokus utama. Karena kebahagiaan tidak dibangun diatas dasar materi, namun berjalannya semua fungsi yang bisa melahirkan kententraman dan mewujud menjadi sebuah kebahagiaan. 
Ketiga, berkembangnya nilai-nilai jahiliyah. Nilai jahiliyah yang berkembang saat ini memang pengulang dari masa lalu. Jahiliyah bukan bermakna bodoh, dalam arti kurangnya kecerdasan intelektual. Karena pada faktanya kehidupan kaum Quraisy yang digambarkan sebagai induknya kebodahan, tidaklah demikain. Justeru kilasan sejarah menggambar betapa kehidupan saat itu berada dipuncaknya, seperti halnya dalam dunia sastra, pada masa itu sedang berada diketinggian. 
Begitupun dengan siasat (politik), sehingga banyak ditemukan ahli diplomasi, strategi dan lain sebagainya. Adapun makna bodoh disini memiliki arti menolak kebenaran Islam. Kondisi ini tidak jauh beda dengan kondisi saat ini, dimana penelantaran terhadap aturan Islam menjadi biang pemicu terjadinya berbagai macam kerusakan yang berdampak pada runtuhnya ketahanan keluarga.
Begitupun dengan niilai perbuatan manusia saat ini, yang hanya berdasarkan asas manfaat. Standar nilaipun akhirnya bergeser, predikat baik  dan buruknya tidak lagi ditimbang berdasarkan hukum syara namun menggunakan kacamata manusia. Akhirnya nilai-nilai jahiliyahpun berkembang kembali di era modernisasi saat ini. Maka keluarga sebagai benteng pertahanan terakhir dari sebuah peradaban, wajib menanamkan nilai-nilai Islam untuk mengembalikan generasi agar menjadi yang kokoh, generasi rabbani.
Keempat, minimnya komunikasi anggota keluarga menjadikan keluarga disharmonis. Kesibukan anggota keluarga membuat waktu dan kebersamaan menjadi barang yang mahal.  Minimnya kebersamaan menjadikannya sulit membangun komunikasi yang efektif. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan lancar maka akan sulit juga mewujudkan kehangatan dalam keluarga. 
Jika hal ini dibiarkan maka bukan hal yang tidak mungkin ketahanan keluargapun akan terkikis. Sehingga anggota keluarga terutama orangtua perlu memahami bahwa komunikasi efektif adalah hal terpenting dalam keluarga. Komunikasi suami istri dibangun atas landasan persahabatan, bukan intruksi, bukan layaknya atasan sama bawahan. 
Begitpun komuniksai orangtua terhadap anaknya, berjalan dengan penuh kehangatan. Anak akan senantiasa nyaman jika sudah menceritakan segala hal yang dialami kepada orangtuanya. Apabila model komunikasi ini sudah terbangun, maka orang tua akan mampu menjaga anak-anaknya. Kemudian orangtua pun akan lebih mudah membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Dengan begitu ketahanan keluaraga akan berbuah kehangatan bagi semua anggotanya.
Kelima, rendahnya pembinaan yang dilakukan oleh kepala keluarga atau orang tua kepada anaknya. Ini bisa menjadi pemicu lemahnya kekokohan bangunan keluarga. Karena dari orangtua lah anak mengenal bagaimana arti sebuah kehidupan. Mampu membedakan baik dan buruk juga mampu berjalan menggapai masa depan. Jika anak tumbuh besar tanpa sentuhan dan didikan dari orangtuanya, maka dia akan tumbuh liar tanpa pegangan. 
Di sinilah peran penting orangtua, terutama ibu yang menjadi madrosatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Pembinaan yang diberikan ibu disaat anak usia dini adalah pendidikan yang akan membekas selama hidupnya. Darinya anak akan mengenal penciptanya, akan paham bagaimana cara beribadah, akhlak yang baik, adab dan semua hal. Begitupan dengan ayah, ayah sebagai kepala sekolah yang akan menentukan corak pembinaan yang diberikan kepada anaknya. Ayah juga yang akan membuat kurikulum yang tepat dalam proses pembinaan anaknya, sehingga lahirlah dari proses pembinaan ini anak-anak yang memiliki kepribadian yang kokoh.
Semua hal yang bisa merusak ketahanan dan kekokohan keluarga pada dasarnya bisa di selesaikan. Selama orangtua dan anggota keluarga memiliki komitmen yang kuat dalam menjalaninya. Dengan terlaksananya semua usaha yang bisa dilaksanakan maka bukan hanya sekedar ketahanan yang bisa diraih namun kebahagiaan yang menjadi impianpun bisa didapatkan. waallahualam.[]

Comment