by

Sri Nurhayati, S.Pd.I: Merindukan Sosok Pemimpin Umar bin Khaththab

Sri Nurhayati, S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ketika kita berbicara tentang kepemimpinan, sosok dirinya pasti salah satu yang akan disebut. Profil atau sosok pemimpin yang terbaik, jujur, tanpa pamrih dan tak segan mengakui kesalahannya. Salah satu contoh pribadi – pribadi yang taat dalam beragama, gesit, cerdas, kreatif dan penuh keteladanan. Itulah sifat yang harus dimiliki dalam diri seorang pemimpin, ada dalam dirinya. 
Al Faruq adalah gelar yang disebatkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Keislamannya telah membawa kekuatan bagi kaum muslimin untuk menghadapi perlawanan yang semakin keras dari kaum Quraisy. Dialah Umar bin Khathtab ra, sahabat dari kekasih Allah, Muhammad Rasulullah SAW.
Umar, pemimpin yang tiada tempat baginya sebuah kelezatan dan kenikmatan makanan dan kesegaran minuman. Baginya tidak ada arti kemewahan dan kesenangan hidup di atas bumi ini dibandingkan dengan kenikmatan dan kepuasan hati. Inilah orang besar yang bersedia hidup sederhana, walaupun kekuasaan ada dalam genggaman tangannya. 
Inilah sosok satria penegak keadilan yang memiliki kelembutan hati dan tak pernah mengenyam istirahat. Karena sebagian siang dan malamnya digunakan untuk mengurusi urusan rakyat. Bahkan dia yang langsung turun tangan mengurusi setiap kebutuhan rakyatnya. Ketegasan dan kelembutan dalam memimpin, beliau tunjukkan saat menetapkan suatu kebijakan. Serta tak malu untuk mengakui kekeliruannya saat ada yang meluruskannya dalam menetapkan kebijakan. 
Selain itu sifat yang melekat padanya adalah rasa takutnya kepada Allah, Rabb yang menggenggam setiap jiwa hambaNya. Rasa takut Umar itu telah membuatnya selalu menangis dalam setiap sholatnya. Setiap ia menetapakan suatu keputusan, Umar menangis meminta ampunan kepada Allah, karena ia takut aturan atau kebijakan yang ia putuskan tidak sesuai dengan aturan Allah dan RasulNya.
Berbicara rasa takut kepada Allah. Baru-baru ini ramai diperbincangankan oleh salah satu pendukung salah satu calon pemimpin negeri ini. Pendukungnya mengatakan kalau jagoannya adalah sosok yang takut kepada Allah. Lantas apakah benar hal itu?
Demokrasi Tidak akan Pernah Melahirkan Pemimpin yang Takut Kepada Allah
Demokrasi adalah sistem yang saat ini diagung-agungkan dan dibanggakan oleh sebagian orang. Sistem demokrasi yang selalu digembar-gemborkan sebagai pemerintahan yang kedaulatannya ada di tangan rakyat. Artinya aturan yang ada dibuat oleh manusia. Karena ia lahir dari ide memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme). Agama dalam ide ini tidak ada hak untuk turut serta dalam mengatur urusan kehidupan. Karena itu, demokrasi beranggapan bahwa manusia berhak bertindak sesuai kehendak dan keinginannya. 
Demokrasi sejatinya tidak akan pernah melhirkan pemimpin yang takut kepada Allah. Karena demokrasi menuntut dia untuk meniadakan Allah dalam kehidupan. Tidak diterapkannya aturan Allah salah satu bukti nyata akan hal ini. Bahkan demokrasi berani mengkriminalisasi orang-orang yang mengajak untuk kita menerapkan aturan Allah. Serta membubarkan kelompok yang ingin memperbaiki negeri ini dengan mengembalikan aturan Allah agar keberkahan dan kesejahteraan bisa terwujud. Bukannya didukung tapi mereka yang menyeru pada yang hak dituduh sebagai makar dan pemecah belah.
Adakah rasa takut kepada Allah disana? Tidak ada sama sekali! Karena rasa takut kepada Allah akan mendorong kita untuk selalu terikat pada aturan Allah. Termasuk dalam menerapakan aturan Allah secara menyeluruh di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena Allah telah memberikan semua aturan untuk kita semua. Muslim ataupun non-muslim.
Islam dan Khilafah Melahirkan Pemimpin yang Takut Kepada Allah
Islam adalah ad-din yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengatur hubungan manusia dengan dirinya, dan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia. Islam sebagai aturan yang sempurna mengatur seluruh kehidupan dan urusan manusia.
Sosok Umar bin Khaththab sesungguhnya, ia lahir dari aturan Islam yang diterapkan di tengah – tengah masyarakat. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, itulah awal beliau menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kaaffah) di tengah masyarakat. Sosok Umar adalah salah satu yang lahir darinya. Karena aturan Islam lahir dari ide (akidah) mentauhidkan Allah. Ide ini menjadi dasar bahwa aturan yang diterapkan berdasarkan apa yang sudah Allah tetapkan. Yakni berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Aturan Islam yang diterapkan dalam bingkai Negara akan melahirkan sosok – sosok pribadi yang taat dan takut kepada Allah. Karena aturan Islam tegak atas tiga pilar, ketaqwaan indivudu, adanya kontrol masyarakat dan penerapan aturan Islam oleh Negara. Hal ini akan menjaga setiap individunya untuk tetap terjaga pada ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Termasuk untuk pemimpin mereka. 
Islam menetapkan seorang pemimpin dengan syarat yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin menjadi pemimpin. Karena dia yang akan memimpin masyarakat untuk menerapkan aturan dari Allah. Syarat – syarat itu diantaranya:
Pertama, seorang muslim, tidak sah kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak mengimani Allah dan tidak ada kewajiban untuk menaatinya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 141, yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin”. 
Kedua, seorang laki-laki, kepemimpinan dalam urusan pemerintahan tidak boleh seorang perempuan. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam al Bukhari dari Abu Bakrah, Rasulullah telah bersabda: “tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan”. (HR. Al-Bukhari)
Ketiga, harus balig, seorang pemimpin tidak boleh orang yang belum balig. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ali bin Abi Tholib, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “ Telah diangkat pena (beban hokum) dari tiga golongan: dari anak-anak hingga ia balig; dari orang tidur hingga ia bangun; dan adari orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh”.(HR. Abu Dawud)
Keempat, orang yang berakal, orang gila tidak sah untuk menjadi pemimpin. Karena akal adalah tempat pembebanan hukum. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ali bin Abi Tholib, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “ Telah diangkat pena (beban hokum) dari tiga golongan: dari anak-anak hingga ia balig; dari orang tidur hingga ia bangun; dan adari orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh”.(HR. Abu Dawud)
Kelima, orang yang adil, tidak sah seorang yang pasik menjadi pemimpin. Karena seorang pemimpin akan menjalankan kekuasaan dan keberlangsungannya.
Keenam, seorang yang merdeka atau tidak ada dalam kekuasaan orang atau pihak lain. Karena jika ia ada dalam kekuasaan orang atau pihak lain, ia tidak memiliki wewenang untuk mengatur urusannya dan urusan masyarakat.
Ketujuh, seorang yang memiliki kemampuan dalam memimpin. Karena dia akan menjalankan amanah untuk mengurusi urusan rakyatnya. Jadi kemampuan menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Itulah syarat – syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam Islam. Hal ini tidak lain agar tetap terjaganya aturan Islam secara secara menyeluruh di tengah – tengah masyarakat. Haruslah kita fahami, bahwa penerapan Islam ini hanya akan tegak dengan sebuah Negara yang diwariskan Rasulullah Saw dan para Khulafa ar Rasyidin kepada kita semua. Negara itu tak lain adalah Khilafah. Karena dialah bingkai Islam yang akan menjaga aturannya diterapkan secara menyeluruh. 
Hanya dengan penerapan Islam dalam bingkai Khilafahlah sosok pemimpin yang takut kepada Allah akan lahir. Pemimpin yang akan senantiasa mengurusi urusan rakyatnya dengan adil, tanpa ada dusta dalam menjalankan setiap amanahnya. Karena ia takut dan tahu bahwa kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang ia lakukan dalam kepemimpinannya. Wallahu’alam bi ash – shawab.[]


Penulis adalah Mentor Keputrian SMAT Krida Nusantara

Comment

Rekomendasi Berita